
Kendra benar-benar hancur lebur saat itu juga. Kala melihat dengan mata kepalanya sendiri saat jasad Tania di kuburkan. Kendra lagi dan lagi berusaha membongkar makam yang sudah berupa gundukan itu.
Tetapi ia selalu berhasil dihalangi oleh Danis dan papi Ali yang selalu memeluknya dengan erat.
"Hiks.. Taniaku.. Taniaku.. Istriku.. Kenapa kalian tega menguburnya? Aku belum puas hidup bersamanya? Kenapa kalian begitu jahat padaku? Hunny.. Bangun Hunny.. Abang sudah disini. Kita pulang ya? Bangun Hunny.. Kenapa kamu di kubur sih? Hiks..
Kamu harus bangun dan kembali menjalani rumah tangga kita Hunny! Kamu jangan tinggalkan Abang seorang diri. Diri ini bisa gila karena tidak sanggup kehilanganmu! Abang sangat bersalah padamu Hunny.. Bangun Hunny.. Haaaa.. Aaaa.. Hiks.. Aaaahh.. Hunny.. Istriku.. Bangun..
Aku akan hancur tanpa mu Hunny.. Aku akan tiada ikut bersamamu. Buat apa aku hidup, jika di dunia ini tiada lagi tempat aku berpulang?"
Deg!
Deg!
Mereka semua saling pandang mendengar ucapan Kendra yang sedikit menyentil hati seorang gadis yang kini menatap datar. Namun, terlihat begitu sendu dipancaran matanya itu.
__ADS_1
Ziana tidak mampu untuk menolong ataupun membujuk Kendra saat ini. Jangan kan untuk membujuk Kendra, dirinya saja masih bisa berdiri itu sudah sangat baik untuknya.
Seluruh tubuhnya terasa lemah dan lemas saat menyadari jika Tania kini sudah tiada dan pergi untuk selamanya.
Rasa bersalah kepada Kendra dan Tania pun kini menelusup ke dalam hatinya. Ziana hanya bisa membatu di tempat dengan tatapan mata yang begitu nanar pada gundukan tanah milik kakak madu nya itu.
Ziana meremas kuat gamisnya saat Kendra, lagi dan lagi menegaskan jika dirinya pun akan mati jika Tania sudah tiada. Tidak ada gunanya untuk ia hidup, jika sang pemilik tubuh dan hatinya pun kini sudah pergi.
Kendra masih saja meraung di gundukan makam Tania. Hatinya begitu sakit saat bisikan lembut di telinganya dari mami Annisa padanya.
Padahal suara itu, suaranya mami Annisa. Yang sengaja ia bisikkan di telinga Kendra sebelum Tania tiada.
Kendra yang sudahh kehilangan akal meraung sejadi-jadinya di gundukan tanah basah makam Tania itu. Ia tidak peduli dengan bajunya kini yang sudah kotor akibat dirinya yang selalu memeluk tanah lembab itu.
Baginya, hanya Tania seorang. Kekasih hati dan cintanya. Kendra benar-benar terpuruk saat ini. Ia sampai pingsan karena tidak bisa menanggung semua itu.
__ADS_1
Ia segera dilarikan kerumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Semua keluarga mengikutinya. Kecuali Danis. Ia minta izin ingin ke kantor. Karena ada hal yang harus ia lakukan disana menggantikan Tania.
Semuanya kini menuju ke rumah sakit. Tiba disana, Kendra segera ditangani. Banyak dokter yang diterjunkan untuk mengurus Kendra yang begitu tertekan sekaligus shock dengan kepergina istrinya, Tania.
Ziana hanya mampu menatap pintu yang tertutup rapat itu. Tidak sekalipun, ia ingin menemani Kendra disana. Papi Ali dan mami Kinara lah yang menemaninya. Ia memilih duduk bersama saudara kembarnya yang kini sedang memeluknya.
Walau sekedar menyalurkan kekuatan padanya. Lama mereka menunggu Kendra sadar. Hingga dua jam kemudian, dokter baru keluar beserta dengan mami Kinara dan papi Ali.
"Maafkan kami Tuan. Sepertinya tuan muda Kendra memang tidak ingin dari tidurnya lantaran hati dan tubuhnya sudah menolak untuk bangun.
Ia lebih memilih tidur dan terlelap tanpa harus terjaga. Kami sudah berusaha saat ini. Kepalanya yang terluka, dan juga jiwanya yang terguncang akibat berita kematian istrinya, akan membuat tuan muda Kendra sulit untuk bangkit dan berdiri lagi.
Walau ia berdiri, tetapi jiawanya sudah terganggu. Jiwa nya pergi bersama istrinya yang sudah tiada. Untuk sementara, kami akan mengusahakan yang terbaik.
Selebihnya, serahkan pada Tuhan Yang Maha Kuasa saja. Saya permisi dulu. Dan.. Satu lagi. Jikalau pun ia bangun, ia tidak akan sama lagi. Jiwanya sangat terguncang saat ini. Saya sarankan untuk menghubungi Dokter psikolog untuk mengobati jiwanya yang terguncang itu. Permisi," Imbuh sang dokter yang membuat mereka semua sejenak terpaku dan terdiam di tempat saat mendengar penjelasan dokter baru saja.
__ADS_1