
Hari-hari yang Tania dan Kendra lewati selalu saja dipenuhi dengan drama kedua adiknya itu. Ada saja tingkah Ziana yang membuat keduanya tertawa.
Ziana yang cengeng, seringkali membuat El kelimpungan menagani istrinya itu. Perbedaan umur yang hanya satu tahun saja itu membuat keduanya sering berdebat dan tidak mau kalah.
Abi Kevin dan Ummi Mutia terkadang di buat pusing dengan kelakuan kedua anak muda itu. Seperti pagi ini, Tania yang sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit harus melihat pertengkaran kedua adiknya itu.
Ziana yang merajuk berlari memeluk Tania dan terisak disana. Sedang Kendra mengelus dada saat melihat mantan istri dan adik iparnya itu.
Kendra menghela napas berat melihat pada El yang kini berwajah datar menatapnya. Kendra tersenyum dan mendekati adiknya itu.
Ia membawa El untuk duduk bersama papi Tama, Uwak Lana, Abi Kevin dan Aldo. Ke empat pemuda dewasa itu sedang membahas masalah pernikahan Ziana kelak bersama El.
Papi Lana baru ingat akan suatu hal saat Kendra mengembalikan Ziana padanya tiga tahun lalu. Yang artinya Ziana bukanlah istri Kendra lagi.
Tiga tahun yang lalu.
"Wak?" panggil Kendra pada Uwak Lana yang saat itu sedang berbicara dengan Ziana. Kejadian ini terjadi sebelum kecelakaan Tania terjadi dan Kendra koma selama tiga bulan.
"Iya, Nak? Kamu butuh sesuatu? Biar Ziana yang ambilkan," katanya yang dijawab dengan gelengan kepala oleh Kendra waktu itu.
__ADS_1
"Terus?" lanjut Uwak Lana lagi yang di tatap sendu oleh Kendra pada Ziana.
"Kenapa? Apa ada yang tidak membuat Abang senang? Kalau iya tolong katakan padaku! Atau, Abang terganggu dengan kami disini? Jika iya, maka kami akan memilih keluar," imbuh Ziana yang dijawab gelengan kepala oleh Kendra.
Kendra menatap sendu pada Uwak Lana dan Ziana. Kendra terus menatap keduanya. Dirasa cukup, Kendra mulai buka suara.
"Maafkan ucapanku kali ini akan membuat kalian berdua terluka. Ini berat juga untukku. Tapi aku harus mengatakan ini. Sebelum semuanya terlambat," ucap Kendra yang ditatap lekat oleh Uwak Lana.
Ziana pun demikian. Ia menunggu apa yang akan Kendra katakan selanjutnya. Jantungnya berpacu dengan hebat akan ucapan Kendra yang nantinya akan menggoyahkan hati dan pikirannya. Tetapi ia harus kuat.
"Maaf.. Untuk sekarang dan seterusnya, Ziana bukanlah istriku lagi. Aku mengembalikannya kepada Uwak secara baik-baik. Aku mengambilnya dengan cara baik maka aku mengembalikannya kepada Uwak dengan cara yang baik pula. Untuk saat ini dan seterusnya, Ziana bukanlah istriku lagi. Aku mengembalikannya kepada Uwak," lirih Kendra dengan dada yang lumayan sesak.
Uwak Lana dan Ziana mematung di tempat saat mendengar ucapan Kendra yang mengembalikan Ziana sebelum waktunya.
"Kamu tidak salah, Nak? Kamu menceraikan Ziana? Tapi, kenapa? Bukankah kamu berjanji akan mengembalikan Ziana saat Tania kembali? Lantas apa yang terjadi sekarang ini? Kenapa kamu berubah pikiran, Nak?" tanya Uwak Lana dengan segala pertanyaan yang ada dikepalanya saat ini.
Ziana menatap lekat pada Kendra yang kini menunduk tak ingin melihat mata sendu itu. Ziana terus menatap Kendra dengan lekat.
"Bisa kami bicara berdua, Pi?" pinta Ziana yang membuat Kendra mendongak melihat padanya.
__ADS_1
Mata keduanya saling bertatapan dengan sorot mata penuh luka dan rasa bersalah Kendra padanya.
"Baik, selesaikan masalah kalian berdua!" ucapnya dengan segera berlalu meninggalkan pasangan muda itu.
Setelah Uwak Lana keluar dari kamar itu, tinggallah Kendra dan Ziana disana saling bertatapan.
"Katakan! Aku ingin mendengar apa alasan abang ingin berpisah dariku sebelum waktunya," ucap Ziana pada Kendra yang kini semakin bersalah padanya.
Kendra menghela napas berat. "Maafkan abang, Zia. Abang harus melakukan hal ini. Sebelum semuanya terlambat. Semua ini demi kebaikan bersama," ucap Kendra sembari menarik napas panjang demi mengurangi rasa sesak didadanya.
Ziana tetap mendengarkan. Tatapan keduanya bertemu. Ziana terus menatap Kendra dengan tatapan penuh lukanya. Dan Kendra, semakin merasa bersalah pada istri keduanya itu.
"Abang harus melakukan ini sekarang. Karena abang yakin, kita berdua tidak akan selamat dari para anggota Paman Kevan. Kamu kan tahu sendiri, hidup dan mati kita saat ini berada ditangannya? Iya, jika kamu selamat. Jika abang yang tidak selamat, bagaimana? Apakah kamu tidak berpikir tentang masa depanmu? Apakah kamu tidak berpikir jika suatu saat kamu menemukan cinta yang baru dan kamu berniat ingin menikahinya? Sementara kamu masih berstatus istri abang? Apakah kamu sanggup menunggu, sementara abang tidak tahu dimana?" kata Kendra yang membuat seluruh tubuh Tania membeku saat mendengar ucapan Kendra.
"Abang tidak yakin kamu bisa menahannya. Kamu pasti akan mencari abang sampai ketemu. Jika ketemu, abang bisa mengucapkan talak padamu. Tetapi jika tidak? Bagaimana? Sementara kamu sudah memiliki tambatan hati? Atau saat keadaan genting begini, kamu malah mendapatkan kejadian tak terduga? Apakah kamu bisa menghalangi apa yang akan terjadi? Apakah kamu tidak akan merasa bersalah nantinya?" tanya Kendra lagi pada Ziana yang kini semakin membeku dan tertegun dengan ucapan Kendra.
Kendra seolah tahu apa yang akan terjadi kedepan nanti. Ia seolah memberi pilihan pada Ziana. Untuk mengambil keputusan yang sudah ia putuskan untuk dirinya dan Ziana.
Melihat Ziana diam, Kendra kembali melanjutkan ucapannya.
__ADS_1