Princess Pratama

Princess Pratama
Kendra di serang panik


__ADS_3

Saat mobil Papi Tama melewati komplek, mobil Uwak Lana yang berada disana pun berselisih. Kendra dan Uwak Lana yang ingin berbicara dengan papi Tama malah dikejutkan dengan mobil mereka keluar dari komplek perumahan itu.


Sangat terlihat jelas jika Tania ada disana. Kendra bisa melihat ketiga orang itu karena kaca mobil milik Papi Tama sengaja di buka.


Kendra mengikuti kemana arah mobil itu hingga lehernya berputar seiring dengan mobil itu keluar dari komplek itu.


"Mereka mau kemana wak?! Itu ada Tania, mami dan papi di dalamnya! Jangan bilang kalau mereka ingin membawa Tania pergi?"


Deg!


Uwak Lana terkejut dengan ucapan Kendra. "Kita ikuti mobil mereka! Kamu hubungi Papi Tama. Tanyakan padanya kemana tujuan mereka saat ini. Tetapi jangan bilang kalau kita berada di belakang mereka."


Kendra mengangguk. Ia segera mengambil ponselnya dan mendial nomor papi Tama. Selama ia keluar dari rumah sakit, Kendra sudah aktif lagi memegang ponselnya.


Itupun karena Tania yang memaksanya.


"Hallo Pi. Papi sedang apa dan kemana?" tanya Kendra dengan panik langsung to the point.


Uwak Lana menghembuskan nafas kasar. "Alamat ketahuan sama Abang, ini! Hadeuuhh.. Dasar calon mantu Micin! Eh salah! Bucin maksudnya! Ck."


Batin Uwak Lana menggerutu kesal kepada calon menantu rebutan nya itu.


Ia berdecak lagi saat melihat Kendra semakin panik karena tidak mendengar sahutan dari seberang sana.


Hadeeuuhh.. Gini nih kalau dapat mantu rebutan! Ada saja ulahnya! Jika Arta rahim istrinya jadi rebutan? Lah ini? Malah orangnya menjadi rebutan. Mantu bang Tama sekaligus mantu adikku ini malah jadi mantu rebutan untuk putriku. Ck. Naseb.. Naseb kamu Lan!


Gerutunya dalam hati saat melihat wajah Kendra yang hampir menangis karena papi Tama tidak menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Nggak dijawab wak! Gimana ini?! Aku takut Tania pergi!" serunya semakin tidak menentu.


Rasanya ada ulat yang menempel di jog mobil itu hingga ia kegatalan sendiri.


Uwak Lana menghela nafas panjang. "Tenanglah Nak. Coba pakai ponsel Uwak. Hubungi lagi papi kamu. Jangan mami. Uwak yakin, mami kamu pasti tidak ingin berbicara dengan mu saat ini."


Kendra mengangguk patuh. "Baik." Jawabnya dengan segera menghubungi nomor papi Tama yang langsung saja diangkatnya.


"Hallo Lana, ada apa?" sahut suara di seberang sana.


Lana mengangguk dan meminta dirinya yang berbicara.


"Iya Bang. Abang dimana? Saat ini kami sedang berada dirumah. Ingin bertemu Abang."


Lengang. Tak ada sahutan. Setelahnya terdengar suara kekehan papi Tama. "Yakin? Kalau saat ini kamu dirumah?"


Lana menelan ludahnya. "Hehehehe.." hanya dibalas cengiran oleh Uwak lana.


"Ada apa? Oh tunggu dulu. Apakah Kendra saat ini bersama kamu?"


"Ya, Kendra bersama ku."Jawab uwak Lana.


"Baik, dengarkan papi baik-baik Kendra. Papi sedang mengantar Tania ke suatu tempat. Papi minta izin darimu untuk mengizinkan Tania pergi. Tania butuh waktu sendiri. Papi masih menganggap dan menghargai kamu sebagai menantu papi. Makanya papi meminta izin darimu. Walau Tania putri Papi, tetap saja dia istri sah kamu yang sudah terdaftar secara hukum dan agama."


"Kemana Papi akan membawa Tania? Boleh aku tahu?" tanya Kendra pada papi Tama.


Yang membuat kedua orang tua itu saling tatap. Mami Annisa menggeleng. Papi Tama menghela nafasnya.

__ADS_1


"Kamu nggak usah takut. Kami tidak akan membawa kabur Tania kok. Kamu tenang saja." jawabnya terkekeh.


"Jika papi tidak mengatakan kemana tujuan Tania, maka aku tidak akan mengizinkannya pergi satu langkah pun!"


Deg!


Mami Annisa melototkan matanya sambil melihat papi Tama. Beliau tertawa.


"Sudah dengar? Abang tidak berani sayang. Tania milik suaminya. Bukan milik kita. Jika kamu ingin pergi maka harus mengantongi Izinnya. Ya?"


Mami Annisa melengos kesal. "Terserah!" ketusnya


Papi Tama terkekeh lagi. "Mami kamu akan mengantar Tania ke Aceh malam ini. Penerbangan nya pukul sembilan malam ini."


"Baik, Aku mengizinkan dengan catatan aku pun akan kesana menyusulnya. Untuk sekarang, biarkan ia pergi lebih dulu. Ada Uwak Lana yang akan memberikan alamatnya padaku nanti."


"Terserahmu. Jika Uwak mu yang merupakan papi baru mu tidak mengizinkan, lebih baik kamu tidak usah menyusul Tania. Kalau dia ngamuk, bisa bahaya untuk perusahanmu."


"Diam Abang! Aku dengar ya!" ketus Uwak Lana


"Ya kalau kamu dengar kenapa? Memang itu tujuan Abang! Kalau kamu mengizinkan, maka Kendra akan menyusul Tania. Tetapi jika tidak. Maka jangan. Abang tetap akan membawa Tania dengan atau tanpa izin darinya!"


Deg!


Suara dingin dan datar papi Tama membuat bulu kuduk Kendra berdiri. Ia jadi panik sendiri mendengar ancaman sang mertua padanya.


Jarang-jarang sang Papi berbicara seperti itu. Uwak Lana pun tahu itu.

__ADS_1


"Baik, aku mengizinkan. Lagi pun, Kendra menikahi Ziana masih satu minggu lagi."


"Hem.." jawabnya masih terdengar dingin.


__ADS_2