
Sambungan video call itu putus secara sepihak yang sengaja di putuskan oleh saudara kembarnya itu. Ia menangis tersedu mengingat Kendra yang kini masih koma.
Dan dari berita yang ia dapatkan, Kendra sudah siuman. Tetapi saudara kembarnya itu belum tahu akan hal itu. Ia sengaja menyembunyikannya darinya. Takut, terjadi suatu hal yang tidak ia inginkan.
Sementara dirinya tidak bisa membantunya. Ia melirik pada seorang pemuda lelaki yang masih SMA itu. Masih muda dan berumur delapan belas tahun.
"Nnaak.." panggilnya terbata
Ia hanya diam dan mengangguk saja pertanda mengerti. Pemuda itu segera membawa masuk sang tuan menuju ke kamarnya. Setibanya disana, ia langsung membaringkan tuannya itu dan berlalu darisana.
"Bukan aku tidak tahu jika Bang Kendra kini sedang koma dan kakak ipar pun sudah meninggal. Hanya saja.. Aku penasaran dengan istri kedua bang Kendra. Kenapa namanya begitu familiar dengan seseorang yang begitu sangat ingin aku temui sejak sepuluh tahun ini. Apakah dia orangnya? Jika iya, kenapa dia mau menikahi suami kakak sepupunya sendiri? Ck! Kenapa pula Ummi inggkar janji? Kenapa aku nggak jadi dibawa ke Medan? Padahal kan aku sangat ingin bertemu Abang?
Jika suatu hal buruk terjadi, maka aku akan menyesal jika nantinya Bang Kendra dalam bahaya! Lebih baik, aku segera memberitahu Ummi. Dan kami berdua akan ke Indonesia! Ya, itu harus! Sudah sepuluh tahun aku terkurung disini! Sudah waktunya, aku keluar dan menunjukkan diriku pada dunia!
Terima tidak terima, aku tidak peduli! Bagiku Bang Kendra dan kakak ipar! Tunggu aku Bang! Kak Tania! Aku yakin, kamu maish hidup hingga saat ini. Aku harus bergerak cepat mengurus semua ini seorang diri!" ucapnya pada diri sendiri dan mulai bergerak ditombol keyboardnya untuk mengurus kepulangan, surat izin dan juga Visa keduanya secara legal melalui aplikasi online.
Tangan itu terus bergerak cepat mengetik kata-kata yang harus ia tulis tentang bidodata keduanya.
__ADS_1
Ia bergelut dengan tombol keyboard itu sampai waktu maghrib tiba. Ia berhenti, kala kamarnya di ketuk dan juga ponsel miliknya berdenting pertanda sudah masuk adzan maghrib.
Ia beranjak meninggalkan laptopnya yang sudah ia tutup lebih dulu. Ia beranjak dan membuka pintu kamarnya. Ia menyunggingkan senyum tampan pada orang itu.
"Ssudah sssiap?" tanyanya sedikit terbata.
"Sudah, ayo kita sholat dulu. Setelah ini, kita akan segera berangkat. Visa kita sedang dalam perjalanan kemari bersama dengan kedua orang suruhan kita!"
"Hem," jawabnya dengan segera mendorong kursi rodanya menuju musholla dirumah itu.
Keduanya pun melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Mereka duduk bertafakur dan berzikir menunggu waktu isya tiba.
Salah satu orang kepercayaannya itu segera mendatangi rumah tuannya itu dan mulai menyiapkan segala sesuatunya ketika ia melihat jika sang tuan sedang sholat.
Setelah selesai, ia berdiri di depan pintu itu dengan tegap dan tersenyum pada mereka berdua.
"Sudah siap, Gan?" tanya pemuda itu.
__ADS_1
"Sudah tuan! Hanya menunggu kalian berdua saja!"
"Oke! Ayo!" ajak pemuda itu sambil mendorong kursi roda milik sang tuan dan segera menuju ke dermaga dimana kapal yang akan membawa mereka ke kota sudah ada disana.
"Semua barangku?"
"Sudah semua Tuan! Anda tenang saja!" jawabnya sambil memegangi bahu pemuda itu.
"Hem, baiklah.. Sudah waktunya aku keluar Gan.. Selama ini kami berdua selalu terkurung di pulau ini. Kasihan Abang ku yang di Medan sana! Aku harus kesana demi dirinya dan juga seseorang dimasa laluku. Apakah dia baik-baik saja Gan?" tanya pemuda itu dengan wajah tersirat akan kekhawatirannya.
"Dia aman tuan. Hanya saja sedikit terpukul saja dengan keadaan tuan muda Kendra. Selebihnya, ia baik-baik saja. Dan hari inipun, ia baru saja memperingati ulang tahunnya yang ke tujuh belas tahun!" jawab pemuda yang dipanggi Gan itu.
"Alhamdulillah kalau begitu. Istirahatlah Gan. Kalau belum makan, makanlah. Aku ingin mengurusnya dulu." Imbuhnya dengan segera berlalu menuju pada seorang pria paruh baya yang terduduk di kursi rodanya.
"Baik, tuan!" jawabnya dengan mata menatap teduh dan lembut pada pemuda tanggung itu.
"Semoga kamu kuat dan tidak kecewa nantinya tuan! Semoga kamu bisa melewati ini semua. Keluarga kalian diambang kehancuran saat ini. Karena harta, seseorang tega membuang kalian berdua hingga sejauh ini. Semoga Nyonya Mutia kuat bertahan dan juga Komandan Lana bisa membantunya. Hanya itu jalan keluarnya.." lirihnya dengan tatapan nanar dan juga sendunya mengingat keluarga tuannya itu begitu carut marut saat ini keadaannya.
__ADS_1
...****************...
Ada yang tau siapa mereka?