
Satu jam lebih empat puluh lima menit, ke enam orang itu tiba di depan rumah sakit. Tiba di sana, Abi Prince segera mengurus segala sesuatunya untuk Zayn dan Zayden untuk di rawat malam itu juga.
Berhubung dokter khusus tidak mungkin datang jika sudah larut malam, Ummi Alzana lah yang menggantikannya. Beliau juga seorang dokter. Dokter bagian penyakit dalam. Sedikit tidaknya beliau tahu apa yang harus beliau lakukan pada kedua menantunya.
Dibantu oleh perawat yang berjaga di sana, Zayn dan Zayden segera di tangani. Untuk malam ini, keduanya harus dalam satu ruangan yang sama. Besok, baru akan di pindahkan.
Suasana yang lengang membuat ruangan di dalam kamar inap si sulung terasa begitu mencekam. Aura mencekam yang Ummi Alzana keluarkan membuat semuanya diam dan tidak berani berkata apapun.
Ummi Alzana menatap dingin pada kedua putrinya yang kini menunduk duduk di samping brankar suami mereka.
"Kalian tahu apa yang sudah kalian lakukan saat ini, hem?" ucapan Ummi Alzana membuat kedua menantunya itu menoleh bersamaan.
__ADS_1
"Kenapa harus selalu ketakutan saat mati lampu?! Bukankah abi sudah memberikan arahan dan pengobatan pada kalian berdua?!" tanya ummi Alzana yang membuat kedua putrinya itu semakin menundukkan kepalanya.
"Beruntungnya suami kalian cepat di tangani. Jika tidak, kalian yakin burung puyuh dan pedangnya itu bisa kembali berfungsi setelah kalian tendang hingga mengalami bengkak seperti itu, heh?! Sudah berapa kali ummi katakan! Lawan! Lawan! Tetapi, tidak! Kalian tetap bersikukuh menahan rasa takut itu seorang diri! Lihat sekarang, apa yang kalian lakukan pada suami kalian?! Kalian tahu? Burung puyuh dan pedang suami kalian berdua tidak akan bisa berdiri dalam waktu cepat! Keduanya bersemedi akibat tendangan gila kalian berdua! Itukah yang sudah kalian katakan tidak takut lagi?!" seru ummi Alzana dengan suara melengking tinggi hingga membuat Zayn dan Zayden memejamkan mata keduanya.
Abi Prince mengusap lembut lengan istrinya itu. Ia memberikan kecupan ringan di kepala yang masih terbungkus hijab itu.
"Tenangkan dirimu, sudah malam. Nggak baik ngomong begitu. Semuanya sudah terjadi, sebaiknya kita berusaha untuk menyembuhkan keduanya dengan kemampuan yang kamu miliki. Jika suatu saat kamu tidak bisa, baru kita laporkan hal ini pada Abi, ya?" bujuk Abi Prince pada Ummi Alzana yang kini melemah seketika saat usapan lembut dan kecupan menenangkan itu terasa hingga ke hatinya yang sedang menyala marah pada kedua putrinya.
Huffftt..
"Nggak! Kami nggak mau sama Ummi! Kami sama Abi saja!" jawab keduanya dengan kompak.
__ADS_1
Ummi Alzana tertawa. "Benarkah? Kenapa? Kenapa tidak dengan ummi saja? Apa bedanya antara ummi dan Abi mu? Kami berdua sama-sama orang tuamu! Cukup! Untuk ke depannya, ummi yang akan bertindak menyembuhkan kalian berdua dengan metode yang sudah ummi pelajari. Untuk saat ini, kalian harus mengurus suami kalian sampai sembuh! Jangan salahkan keduanya jika tidak bisa memberikan nafkah batin pada kalian berdua karena burung puyuhnya sudah mati dan tidak akan tahu kapan bangkit lagi!"
Dduuaarr!
"Tidakk!!!" teriak keduanya segera memeluk suami mereka dan menangis tersedu-sedu di pelukan dada bidang yang kini menatap nanar pada ummi Alzana yang menyunggingkan senyum nakal dan juga terkikik geli.
Abi Prince hanya bisa menghela napasnya. Ia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan istrinya yang sengaja menggoda kedua putrinya itu.
Benar yang Ummi Alzana katakan jika burung puyuh dan pedang keduanya butuh waktu untuk sembuh. Bukan tidak bisa bangun lagi seperti perkataan ummi Alzana tadi. Hanya butuh waktu untuk sembuh dan kembali normal.
Abi Prince terkekeh saat melihat kedua putrinya memeluk suami mereka dengan erat dan tersedu-sedu di sana.
__ADS_1
Mungkin, ini akan baik untuk kalian berdua. Hanya cara ini yang bisa abi lakukan melalui Ummi kalian. Jika tidak, maka rasa takut akan mati lampu itu tidak akan ada lagi dalam kehidupan kalian. Maafkan abi yang membawa kalian berdua dalam masalah abi dulunya..
Lirih Abi Prince mersa bersalah pada kedua putrinya.