Princess Pratama

Princess Pratama
Mimpi Tania tentang Ziana


__ADS_3

Bagai petir disiang bolong bagi ke empat pemuda dewasa itu. Mereka tersentak saat Tania mengatakan hal itu. Apalagi Uwak Lana dan Kendra.


Keduanya terhenyak mendengar ucapan Tania. Kendra melototkan matanya saat Tania mengangguk dan menatapnya dengan sendu.


"A-apa yang ka-kamu bilang, Hunny! Ziana, istriku, adik madu kamu hamil?!" seru Kendra dengan suara sedikit naik satu oktaf.


Tania mengangguk lirih. "Hah? Tapi bagaimana bisa?! Dengan siapa?!" Seru Kendra lagi yang tidak mengingat tentang video yang Paman Kevan kirimkan dulu padanya.


Tania terisak dengan tubuh berguncang. Papi Tama menahan napas sejenak untuk mengurangi rasa terkejutnya. Uwak Lana mulutnya masih menganga dan menatap Tania yang kini masih terisak. Seperti merasa bersalah pada adik sepupu seklaigus madunya itu.


"Hiks.. Ma-maaf.. Kakak melihatnya saat ini sedang mengandung. Perutnya lumayan besar untuk ukuran tubuhnya yang mungil. Kakak bertanya, siapa yang melakukannya. Hiks.. Ziana bilang hiks.. Ka-kalau.. Hiks.. Hiks.." Tania tidak bisa melanjutkan ucapannya kala mengingat ucapan Ziana tadi malam padanya didalam mimpi.


Tania menatap Kendra dengan raut wajah sendu. "Ka-kamu, Bang Kendra!"


Ddduuaaarrr!!


Kendra terjingkat mendengar ucapan Tania. "Apa? Kenapa pula abang! Itu nggak mungkin Hunny!" Seru Kendra dengan suara menggelegar didalam rumah itu.


Tania semakin tersedu mendengar ucapan Kendra. Uwak Lana masih terperangah mendengar ucapan Tania. Keduanya masih dengan mulut menganga melihat Tania dan Kendra yang kini saling lempar tatapan tajam.


"Kamu yang menghamilinya Bang Kendra! Ziana mengatakannya padaku tadi malam! Hiks," isak Tania sembari menatap Kendra yang kini berdiri dengan spontan karena ucapan Tania baru saja.

__ADS_1


Kendra menggelengkan kepalanya tanda tidak percaya.


"Kapan abang menghamili Ziana, Hunny? Abang saja baru bertemu denganmu? Kalau menghamili kamu, itu mungkin. Lah ini? Ziana? Istri keduaku? Madu kamu? Jangankan menyentuhnya, melihatnya saja tidak! Bagaimana bisa abang menghamilinya? Omong kosong!" Tukas Kendra dengan napas memburu hebat. Ia terkekeh disela-sela ucapannya.


Kekehan sumbang yang terdengar oleh mereka semua. Aldo masih mengamati apa yang terjadi. Ia masih menyimak apa yang akan Tania katakan selanjutnya.


Aldo tidak mau terlalu cepat menyimpulkan. Toh, itukan baru mimpi? Beda dengan kenyataan? Jadi, kenapa harus ditakuti? Pikir Aldo.


"Tenang dulu Ken! Dengarkan dulu cerita Ziana. Ini masih mimpi. Belum kenyataannya. Kita belum tahu seperti apa Ziana disana. Jika pun ia hamil, bukan kamu pelakunya. Ziana mengatakan jika kamu pelakuunya pasti memiliki sebab. Ayo, duduk dulu. Dengarkan lagi cerita Tania. Dan kamu, Nia! Lanjutkan dulu cerita mimpi kamu itu. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan yang nantinya akan membuat hubunganmu dan Kendra merenggang! Paham?" Ujar Aldo yang diangguki oleh Kendra dan Tania.


Keduanya baru bisa tenang setelah angin segar berhembus ditelinga mereka karena ucapan Aldo baru saja. Sementara kedua paruh baya itu, masih saja menatap Tania dengan lekat.


Walau mulut sudah tidak menganga lebar seperti tadi. Tapi mereka sudah sedikit tenang karena ucapan Aldo yang memang benar adanya.


Padahal, mimpi itu belum benar bukan kenyataanya?


Aldo terkekeh dan menggelengkan kepalanya melihat pasangan suami istri yang merupakan bosnya itu. Bisa-bisanya meributkan masalah yang belum jelas lagi kadar keadaannya.


Lanjut ke mimpi Tania.


"Lanjutkan mimpimu, Nak. Kami akan mendengarkan dengan seksama."Imbuh Papi Tama yang diangguki oleh Tania masih terisak.

__ADS_1


Tania menyusut cairan kental yang kini meleleh di hidungnya. Melihat itu, dengan sigap Kendra menyodorkan tisu pada Tania yang diambil cepat olehnya.


Srrrooootttt..


Papi Tama, Uwak Lana dan Aldo terkekeh mendnegar suara cairan kental itu Tania keluarkan. Kendra diam saja. Ia tetap menatap lekat pada cintanya yang masih terisak itu.


"Kata Ziana, ia hamil anak bang Kendra. Bang Kendra yang sudah menggaulinya. Yang artinya anak yang saat ini di kandung olehnya merupakan anak bang Kendra. Hiks.. Yang otomatis akan menjadi anakku! Hiks.. Kakak nggak terima! Kakak belum percaya jika itu anak bang Kendra. Kakak menyangkalnya! Akan tetapi, hiks.. Ziana menunjuk ke arah Bang Kendra yang waktu itu datang kepadaku di dalam mimpi. Hiks.. Anehnya. Dia memanggilku dengan sebutan kakak ipar! Hiks," isak Tania sembari menatap Kendra dengan tatapan yang entah seperti apa.


"Kakak ipar?" ulang Aldo dan Kendra bersamaan.


Keduanya saling pandang dengan wajah terkejutnya. Keduanya saling tatap dengan wajah pias. Sangat terlihat jelas di mata kedua pemuda paruh baya itu.


"Kenapa? Apa kalian tahu sesuatu?" tanya Uwak Lana yang diangguki oleh papi Tama.


"Iya, benar! Apa kalian tahu sesuatu? Jika itu Kendra, kenapa menyebut Tania dengan kakak ipar? Bukan Sayang?"


Deg, deg, deg,


Jantung kedua pemuda itu berpacu dengan cepat.


"Aldo! Ken! Kenapa kalian diam? Apa kalian tahu sesuatu?" ulang papi Tama lagi pada kedua pemuda yang saling terdiam dengan raut wajah pias itu.

__ADS_1


"A-aku.."


"Permisi tuan Pratama?"


__ADS_2