Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Introspeksi part 2


__ADS_3

Di kamar Riya dan Zayden.


Kedua anak muda itu masih saja saling berpelukan erat. Tan ingin lepas satu sama lainnya. Zayden masih merindukan pelukan itu. Pelukan yang selalu ia inginkan di setiap malamnya kini terpenuhi.


Akan tetapi, mengingat perpisahan terpaksa keduanya, Zayden mengurai paksa pelukan itu dan menatap lekat pada wajah ayu Riya yang kini sembab melihat padanya.


"Kenapa? Kenapa kamu pergi? Kamu nggak percaya sama abang? Abang udah jujur! Kami tidak melakukan hal itu pada gadis sialan itu!" ketus Zayden mendadak kesal mengingat dua gadis yang sudah membuat keutuhan rumah tangganya dan Riya tercerai berai tepat di hari wisuda keduanya.


Riya tersenyum. Ia memilih mendudukkan dirinya sembari menggenakan hijabnya kembali. Zayden yang kesal menarik hijab itu dan membuangnya asal.


"Abang," lirih Riya pasrah saat Zayden kembali menubruk tubunya dan semakin erat memeluk tubuh yang selalu menjadi candu untuknya itu.


"Nggak! Kamu nggak boleh pergi!" ucap Zayn semakin erat memeluk Riya.


Tangannya tak tinggal diam. Ia membuka semua kancing baju Riya. Riya hanya bisa pasrah di bawah kuasa sang suami yang kini sedang marah padanya.


"Abang, dengar dulu-,"


"Nggak! Jika ucapan kamu berujung dengan perpisahan, lebih baik abang menyentuhmu saat ini juga!" ancam Zayden yang membuat Riya menghela napas panjang.


Inilah yang Riya tidak mau. Riya tahu, jika Zayden sangatlah keras kepala makanya keduanya lebih bersikap dingin dan acuh. Hanya itu cara membuat abang sepupu sekaligus suaminya itu mengalah. Jika bersikap hangat, Zayden akan berubah menajdi dirinya sendiri saat bersamanya.


Pria tampan yang keras kepala yang tidak ingin di bantah dan sangat penyayang itu tidak akan takluk oleh apapun terkecuali kemarahan Riya. Itulah kelemahan terbesarnya.


Zayden terus menggila di tubuhnya. Riya terpaksa mengeluarkan auranya. Riya menyentak Zayden membuat pemuda tampan mirip Abi Kendra itu tersentak dan terlonjak kaget dengan perbuatan istrinya.

__ADS_1


Ia terduduk dan mematung melihat wajah Riya yang kini begitu dingin padanya. Riya bangkit dan mengancingkan seluruh bajunya. Ia turun dari ranjang dan mencari niqob juga hijab yang Zayden buang begitu saja.


Zayden masih terpaku melihat wajah istrinya yang kesal karena kelakuannya baru saja.


"Sayang," cicit Zayden dengan pandangan mata mengabur.


Inilah kelemahannya. Riya. Riya adalah kelemahannya saat ini selain ummi dan abinya. Riya menatap datar pada Zayden yang kini menatapnya dengan wajah memelas. Riya duduk di hadapan Zayden. Tak sedikit pun wajah itu melunak saat melihat air mata suaminya.


Riya tahu akan hal itu. Ia sedang mencoba melunakkan hatinya yang kini pura-pura ia bentengi dengan sikap dingin dan datarnya, padahal hati dan jantungnya luluh lantak saat melihat buliran bening itu meluncur lagi di wajah imamnya. Hal yang menjadi kelemahan Jia juga.


"Dengarkan aku, Bang. Aku melakukan semua ini untuk kita ke depannya. Kamu pikir aku sanggup berpisah denganmu? Nggak, Bang. Hatiku pun sakit saat berjauhan darimu. Akan tetapi, semua yang aku lakukan ini untuk kita berdua. Demi keutuhan rumah tangga kita untuk ke depannya. Bukan aku tidak percaya dengan kejujuranmu. Aku tahu kamu bang Zayden. Kamu pria baik yang aku kenal selama ini. Terlepas kamu pernah melakuakn kesaahan, aku tidak merubah sudut pandangku padamu."


"Kamu tetap suamiku. Orang yang aku cintai setelah abi Prince asal kamu tahu. Akan tetapi, aku sengaja berpisah denganmu karena kau ingin kita lebih dewasa lagi. Aku sadar, diri ini masihlah kecil dan masihlah labil. Belum pantas untuk menjadi seorang istri. Untuk itu, aku memutuskan akan berpisah darimu untuk sementara. Kita berdua harus introspeksi diri. Kamu, harus bisa membuat dirimu lebih dewasa dalam berbuat dan bertindak. Dan aku pun begitu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri sejenak. Lagipun, aku sudah daftar kuliah. Minggu depan aku sudah harus mulai kuliah."


"Jika memnag kamu masih menginginkan pernikahan ini berlangsung, maka penuhi keinginanku. Aku tidak akan meninggalkanmu kecuali kamu yang membuangku! Aku tidak akan berubah kecuali kamu yang memaksanya! Aku masih Famiriya seperti yang kamu kenal dulu. Bedanya hanya aku sudah lebih dewasa saat ini. Ah, bukan! Masih beranjak dewasa. Umurku masih tujuh belas memasuki delapan belas. Aku masih butuh waktu untuk berproses."


"Tetapi, jika kamu tidak datang, maka aku anggap perpisahan yang kamu ajukan padaku. Tak apa. Aku siap dengan segala keputusanmu. Untuk hari ini, cukup sampai di sini." Ucap Riya begitu panjangnya yang membuat Zayden semakin kalut tidak ingin berpisah dengan istrinya.


"Abang tidak mau berpisah darimu," cicit Zayden sembari menunduk.


"Jika Abang tidak mau, maka buktikan!" tegas Riya menjawab ucapan Zayden.


Zayden mengangguk. "Baik, akan tetapi, abang tidak bisa berjanji akan bisa menemuimu nanti."


Deg

__ADS_1


Jantung Riya mencelos seketika saat mendengar ucapan Zayden padanya. Namun, ia tetap akan mendengarkan dan menerima apapun keputusan suaminya itu.


"Abang tidak bisa berjanji dengan hal yang belum pasti. Bisa saja saat abang menemuimu malah kamu yang ingin pergi lagi? Atau abang yang tidak bisa menemui karena suatu hal?"


Deg


Deg


Riya tetap mendengarkan. Walau jantungnya saat ini seperti di tampi berulang kali.


"Abang akan datang di waktu yang abang mau. Bukan waktu yang kamu tentukan! Kamu ingin pergi, baik. Abang izinkan! Dan jika abang tidak menemui tiga tahun lagi, maka jangan berharap abang bisa kembali lagi padamu. Pergilah!"


Ddduuaarr!


Tersentak ulu hati Riya saat mendengar ucapan Zayden yang kini berbalik mengancam dirinya. Riya tetap berusaha tegar.


"Baik, jika pun abang tidak akan menemui kami, maka kita akan bertemu di pengadilan!"


Dduuar!


Kali ini jantung Zayn yang mencelos mendengar ucapan istrinya itu. Zayden sekuat tenaga menahan gemuruh di hatinya.


"Baik, jika itu mau mu. Pergilah, abang ridho dan mengizinkan kamu untuk pergi sebelum gugatan itu turun ke tanganmu tiga tahun lagi!" ucapnya kembali menyentak ulu hati Riya.


Untuk terakhir kalinya Riya tersenyum manis pada Zayden yang membuat jantung Zayden seakan lepas dari tempatnya.

__ADS_1


"Tentu, aku tunggu gugatan darimu sebagai bukti jika kamu memilih mundur dari pernikahan ini. Aku pergi. Jaga diri dan kesehatanmu. Assalamu'alaikum," ucap Riya pergi tanpa mendengarkan lagi apa yang selanjutnya Zayden katakan.


"Kamu jangan berharap akan lepas dariku, Famiriya! Sekali aku memilikimu, maka takkan ada seorang pun yang bisa memilikimu selain aku, abang sepupumu!" gumam Zayden mengusap kasar air mata yang terus berlinangan di pipinya.


__ADS_2