Princess Pratama

Princess Pratama
Tak bisa di kendalikan


__ADS_3

Melihat Kendra terdiam, papi Tama menepuk pundak pemuda yang masih berstatuskan menantu nya itu.


"Nak?"


"Hah? Iya Pi. Apa? Tania kenapa bisa sama kayak aku juga?" tanya Kendra pada Papi Tama yang kini tersenyum sendu padanya.


Beliau duduk di samping bankar Kendra setelah membawa menantunya itu untuk duduk.


"Jangan pikirkan Tania, pikirkan saja tentang kesembuhanmu." imbuh papi Tama yang melihat Ziana sibuk dengan pekerjaannya.


Sementara Ziana bergerak cepat mengambilkan minum untuk suaminya dan juga suami kakak nya itu.


"Di minum dulu Bang. Kamu udah tidur selama sebulan lamanya. Sama seperti kakak." Ujar Ziana yang diangguki oleh Aldo yang kini berdiri di sisi kanan Kendra.


Kendra menatap sayu pada istri keduanya itu. "Terimakasih Dek."


Ziana mengangguk dan tersenyum, "Udah, Abang jangan mikir macam-macam tentangku. Aku tidak melakukan sama Abang!" ketus ziana di ujung kalimatnya yang membuat papi lana dna Aldo terkekeh.


Kendra tersenyum, tampan sekali. Ziana mengerjab dan menggeleng. Ia tetap melihat suami kakak nya itu dengan wajah kesalnya.


"Ya iyalah kamu nggak melakukan apapun. Lah wong, tugasmu bolak balik ingin melihat kakak mu? Lantas, kapan kamu bisa mengurusi suami kamu? Kalau bukan Abang disini yang mengurusnya!"


Aldo tergelak saat Ziana melemparinya dengan sedotan minuman punya Kendra. Pemuda tampan yang semakin kurus itu terkekeh.


"Mana ada aku kayak begitu, Bang! Yang ada tuh ya, Abang tuh yang sering keluyuran! Pergi pagi, selalu pulangnya pagi!" ketus Ziana sangat kesal kepadanya.

__ADS_1


Aldo tertawa. Kendra melirik ke Aldo sekilas, dan pemuda itu mengangguk kecil masih dengan tertawa. Kendra pun ikut tertawa melihat wajah kesal Ziana pada Aldo.


Mereka pun tertawa bersama melihat tingkah menggemaskan Ziana. Tetapi tidak dengan dua orang yang kini terduduk di sofa itu.


Mereka terdiam tanpa kata saat melihat kebersamaan Kendra dan juga semua orang yang kini sedang bersama dengan putranya.


Ck. Dasar sialan! Bisa-bisanya mereka menjebak ku seperti ini! Mau tak mau aku harus merestui anak sialan itu menjadi menantuku! Seharusnya 'kan Ziana yang menjadi menantuku? Karena orang tuanya merupakan pemegang saham terbesar di Bhaskara Group!


Batin Mutia begitu kesal menatap pada putranya dan juga mereka semua.


Kendra menatap datar pada kedua orang tuanya nya.


"Setuju tidak setuju, saya tidak peduli! Sampai kapan pun! Tania tetap istri saya!" tegas Kendra pada kedua orang tuanya yang membuat Uwak Lana menatap dingin pada Ummi Mutia dan abi Kevin yang kini menatap mereka dengan wajah takut-takut.


Gadis kecil itu masih mengingat saat seminggu yang lalu ia pulang dari Singapura untuk melihat Tania yang juga koma sama seperti Kendra.


Kejadian itu begitu cepat. Masih teringat jelas olehnya. Pada saat Kendra sadar dari pingsannya, Ummi Mutia langsung saja mengatakan rasa keberatannya tentang pernikahan Kendra dna juga Tania.


Yang membuat Kendra marah besar dna mengamuk kepada kedua orang tuanya hingga membuat Abi kevin alias Kevan itu memukul Kendra hingga jatuh ke lantai dengan kepala belakangnya mendarat lebih dulu yang menyebabkan pendarahan hebat di otak sebelah kirinya.


Yang membuat Kendra koma hingga sebulan lamanya. Uwak Lana yang melihat itu pun balas menghajar Abi Kevin hingga tulang tangan sebelah kirinya bergeser.


Jika Ummi Mutia tidak memeluk dan melindungi Abi kevin gadungan itu, pastilah saat ini posisi nya pun sama seperti Kendra.


Masuk rumah sakit dan koma hingga satu bulan lamanya. Mengingat itu, Ziana menatap datar pada kedua mertua yang kini melihat Kendra dengan tatapan tajam lagi.

__ADS_1


"Sudahlah Bang Kendra. Kedua orang tua mu tidak akan mengerti dengan posisi mu. Lebih baik kamu tidak usah mendengarkannya. Aku yang istrimu saja tidak keberatan. Lalu kenapa mereka pula yang keberatan?" Ucapnya menyindir kedua mertuanya itu.


"Kak...?" tegur Mami Maura padanya yang dibalas dengan wajah melengos ke arah lain padanya.


"Nggak boleh gitu, Nak. Bagaimana pun mereka berdua itu kedua orang tuamu juga. Hormati mereka seperti kamu menghormati kedua orang tuamu, hem??" tegur papi Tama yang diangguki pasrah oleh Ziana.


"Terserah papi lah. Jika bukan karena papi, maka adek nggak akan mau menerima keduanya!" ketusnya dengan segera berlalu meninggalkan kamar rumah sakit itu.


Mami Maura menggelengkan kepala nya melihat kelakuan putri sulungnya setelah kejadian dimana Ummi Mutia memukul Kendra dan juga abi nya hingga Kendra pingsan dan koma.


Ada dendam di hati Ziana untuk kedua orang tua Kendra itu. Ummi Mutia dan Abi Kevin gadungan itu pun tidak bisa berbuat apapun saat ini karena memnantu yang mereka pikir bisa mereka kendalikan ternyata tidak bisa.


Malah mereka di acuhkan dan tak dianggap olehnya.


Sialan!


Batin Abi Kevin gadungan saat melihat Kendra yang begitu akrab dengan papi Tama. Ada rasa sangat kesal dihatinya. Tetapi tak bisa ia lampiaskan lantaran sudah terikat perjanjian dengan papi Lana sebulan yang lalu tentang kondisi Kendra yang saat itu tiba-tiba memburuk.


"Jika kamu berani memukul Kendra lagi untuk yang kedua kalinya, maka tak ada ampun untukmu! Aku akan mencabut investasiku di perusahaan kecilmu itu hingga perusahaan mu bangkrut! Ingat? Hidup dan mati perusahaan kalian saat ini ada di tangan ku! Jika kalian ingin tetap hidup melalui perusahaan itu.. Maka turuti apa kataku! Paham??" Kata papi Lana waktu itu.


Saat Kendra dibawa kerumah sakit ketika dirinya pingsan dengan kepala terluka parah.


...****************...


__ADS_1


__ADS_2