
Kedua pesawat itu pun terbang bersamaan dengan tujuan yang sama. Pesawat yang berisikan penumpang hanya empat puluh orang itu segera menuju kediaman Papi Tama dan Mami Annisa.
Tempat dimana Mami Annisa dilahirkan oleh Oma Alisa dan dibesarkan bersama Opa Gilang dulunya.
Tempat yang sangat bersejarah bagi mereka semua.
Mengudara sekitar satu jam empat puluh lima menit, kini dua pesawat itu sudah tiba di bandara kuala Namu.
Tania, mami Annisa dan papi Tama segera turun dan menuju ke tempat pesawat Tania yang akan berangkat ke Singapura sebentar lagi.
Ketiganya berjalan cepat. Hingga melewati tiga orang yang sangat mereka kenal. Mereka tidak sadar jika berselisih dengan ketiga orang yang kini sedang membelakangi mereka saat ini.
Deg, deg, deg..
Jantung Kendra berdetak kencang kala bau harum yang sangat ia kenal melewati dirinya. Ia menoleh ke belakang dan sekitar, tidak ada siapa pun. Hanya ada penumpang yang sedang turun dan juga penumpang di dalam pesawat sebelahnya itu pun sedang turun.
Kendra menghela nafas sesak. Ia kembali melanjutkan langkahnya saat Malik dan Ziana menyentuh lengannya untuk membawanya keluar dari bandara itu dimana Uwak Lana dan Papi Ali sedang menunggu mereka saat ini.
"Papi!!!" pekik kedua bocah itu saat melihat sang papi yang kini sednag tersenyum pada mereka berdua.
Malik dan Ziana segera melepaskan tangan mereka dari Kendra dan berlari menuju Uwak Lana yang kini sedang menunggu mereka bertiga.
Kedua anak itu memeluk sang papi dengan eratnya. Uwak Lana tertawa. Begitu pun dengan Aldo. Ia sangat gemas dengan calon istri kecil Kendra itu.
Sifatnya yang membuat Aldo merasa terusik saat pertama kali melihatnya.
Kendra melirik papi Ali yang kini melihat sejurus ke depan. Ia pun menoleh kemana mata itu memandang.
Kendra menghela nafasnya saat melihat pesawat Garuda itu lepas landas dari bandara Kualaa Namu menuju Singapura.
Papi Ali menoleh padanya dna memegang bahunya. "Sabar.." katanya pada Kendra yang diangguki olehnya
Uwak Lana memeluk Kendra dan berbisik lirih di telinganya. "Bagaimana? Kamu sudah menanamkan kecebong kamu di rahim Tania??" bisiknya.
Kendra hanya mampu mengangguk pelan saja.
"Bagus! Tinggal tunggu hasilnya saja. Ayo kita pulang. Senbentar lagi, selepas subuh acara pernikahan kilat kalian berdua. Ayo! Ummi dan Abi kamu pun sudah tiba di rumah Uwak."
__ADS_1
Deg!
Deg!
Kendra menghentikan langkahnya. Begitu pun dengan Aldo. Kedua orang itu menatap Uwak Lana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Uwak Lana menghela nafasnya. "Sudah Nak. Jangan di pikirkan. Turuti saja mau mereka dan kamu tetap pada keputusan mu. Tapi ingat? Jangan sampai mereka curiga. Paham? Kalian berdua?" kata Uwak Lana pada Kendra dan juga kedua anaknya itu.
Ziana tersenyum yang membuat Aldo ikut tersenyum, "Tenang aja Pi. Kakak akan jaga rahasia ini sampai mati. Demi kak Tania, apapun akan kakak lakukan!" jawabnya mantap yang diangguki oleh Uwak Lana dengan bangga.
Papi Ali terus melirik wajah Kendra yang semakin datar dan dingin saja saat di parkiran mereka bertemu degan asisten Abinya.
"Selamat datang kembali tuan muda!" sapanya pada Kendra yang dibalas anggukan saja.
"Ck. Kenapa pula si botak gundul pacul itu kesini Ken? Pastilah ingin cari masalah lagi? Kamu ingat nggak dulu saat aku pertama kali datang ke tempatmu? Di rumah sakit?" bisiknya pada Kendra yang kini menggelengkan kepala nya pertanda jangan bicara apapun saat ini.
Aldo mengatupkan mulutnya dna memilih diam. Tak ada yang bersuara selama dalam perjalanan menuju kerumah Uwak Lana.
Sesekali asisten abi Kevin itu melirik Kendra yang kini sedang menatapnya dengan datar. Ia menelan salivanya.
Ia kembali melihat ke depan dan mulai fokus berkemudi kembali.
Waktu yang hampir memasuki waktu subuh, membuat keduanya tidak lagi tidur demi menunggu kepulangan putra semata wayangnya.
"Assalamu'alaikum.." sapa mereka semua terkecuali Kendra.
Tatapan menghunus jantung itu ia berikan kepada kedua orang tua yang kini tersenyum kaku padanya.
"Wa'alaikum salam.. Mari masuk! Kita sholat tahajud berjamah!" ucap Abi Kevin yang diangguki oleh semuanya.
Tapi tidak dengan Kendra. Ia berdecak kesal pada keduanya. "Jangan tunjukkan muka dua kalian kepada saya! Saya tidak sudi melihatnya!"
Deg!
Ummi Mutia terkejut begitu pun dengan yang lainnya. "Kendra!" seru Abi Kevin padanya.
"Ada apa yang mulia Kevin Wiryawan?? Anda tidak senang jika saya berbicara??"
__ADS_1
"Lancang kamu!"
Plak!
Pipi Kendra menoleh ke samping. Ia menyeringai. "Hem.. Baru pertama kali bertemu saja sudah dihadiahi gamparan! Bagaimana kalau saya tinggal bersama kalian berdua?? Hem?" katanya pada kedua orang yang kini menatapnya dengan nyalang, "Pastilah saya akan kalian siksa! Ataupun kalian jadikan saya robot pemuas dahaga kalian seperti boneka yang di tuntun kesana kemari. Dan juga saya bisa gila beneran kalau saya tinggal bersama kalian!"
Ddduuaaarrr!!
"Kendraa Wirayawan!!" seru ummi Mutia padanya dengan suara melengking tinggi.
Aldo memejamkan kedua matanya mendengar suara nyonya nya itu. Ziana dan Malik memeluk kedua papi nya.
"Wooaahh.. Lihatlah mereka berdua? Gara-gara ulah anda Nyonya Wiryawan, istri kecil saya jadi takut pada anda!"
Ia terkekeh sinis melihat kedua orang tuanya. Uwak Lana dan Papi Ali masih menyimak apa yang Kendra lakukan saat ini.
Bisa-bisanya kedua orang ini berselisih di depan rumah seperti ini! Yang kayak nggak punya urat malu aja nih Nyonya sialan! Eh?
Aldo terkesiap saat melihat tatapan tajam di tujukan padanya oleh Abi Kevin.
Kendra menyeringai lagi. "Tak perlu bersembunyi dibalik hijab panjangmu Nyonya Wiryawan! Saya sangat kenal siapa kalian berdua! Manusia bermuka dua! Berkedok muslim tetapi iblis di dunia nyata!"
Plak!
Plak!
Plak!
"Cukup Mutia!!!"
Deg!
...****************...
Mampir juga kesini yuk!
__ADS_1
😁😁😁