
Tania menangis karena sudah membuat suaminya marah karena dirinya. Ucapan mami dan papinya sebelum mereka kembali, kini terngiang lagi ditelinganya.
"Nak.. Suami kamu pastilah sangat kurus saat ini. Karena makan yang tidak teratur dan juga pikirannya yang terus terganggu akibat rasa bersalahnya kepadamu dan juga Ziana." Kata Mami Annisa menjeda sejenak ucapannya yang tecekat dikerongkongannya.
Papi Tama mengelus bahu istrinya itu.
"Mami minta maaf. Karena ucapan mami waktu itu akhirnya terjadi juga. Mami tidak mendugnya, Nak. Mami hanya sedang emosi waktu itu." Lanjut mami Annisa masih dengan menangis.
"Papi juga minta maaf. Sekiranya papi bisa menahan mami kamu, pastilah Kendra tidak akan menderita sedemikian rupa. Kami berdua minta maaf, Nak!" ucap Papi Tama yang diangguki oleh Tania.
"Tak apa Mi, Pi. Semua ini sudah takdir. Tidak usah diperpanjang lagi. Lagipula, kakak masih menerima Bang Kendra segenap hati Kakak. Apalagi kondisinya saat ini yang begitu memprihatinkan. Kakak akan kembali padanya dan membuatnya sembuh. Kakak akan membuatnya sehat kembali. Karena kakak tahu, obat bang Kendra hanya kakak seorang. Bukan dokter spesialis terkenal manapun!" Balas Tania yang diangguki oleh mami Annisa dan Papi Tama.
"Tapi, Nak. Mami harus mengingatkan ini padamu. Sebelum kamu melakukannya. Karena jika sampai itu terjadi, maka kamu akan berdosa padanya." Ucap Mami Annisa yang ditatap bingung oleh Tania.
"Maksud mami?"
"Maksud mami, tentang hubungan suami istri. Kamu kan tahu jika Kendra masihlah sakit dan belum sembuh?" Tania mengangguk.
__ADS_1
"Terus?"
"Jika nanti Kendra meminta hak nya kepadamu, maka kabulkan! Jangan menolaknya. Berdosa, Nak!" Kata Mami Annisa mengingatkan Tania yang kini tersipu malu pada kedua orangtuanya.
"Dikira mami ngomong apaan. Tak tahunya tentang itu. Hem, iya kakak tahu, kok. Kakak pun tidak akan menolaknya, Mi. Mami tenang saja, ya?" ujar Tania yang diangguki oleh sang mami.
Tapi masih dengan wajah khawatirnya. "Dengarkan mami, Nak. Mami tahu, kamu tahu segala hukum dan dosanya apa jika menolak suami saat suami menginginkan. Hanya saja.. Fisik Kendra saat ini belumlah sempurna. Ia masih sakit."
"Pesan mami. Kamu jangan menyinggung tentang fisiknya ketika dia meminta haknya padamu. Karena itu akan berbahaya pada psikisnya. Jangan membuatnya marah dan kesal ya? Kamu tahu 'kan ridho Allah itu terletak pada ridho suami?" Kata mami Annisa yang diangguki oleh Tania sambil tersenyum.
Mami Annisa bernapas lega. "Baiklah. Ingat ucapan mami, Nak. Jika sampai ini terjadi, kamu harus cepat meminta maaf padanya. Berikan haknya sampai puas. Jika masih marah, maka minta maaflah sampai suami kamu ridho terhadapmu. Paham?" tanya mami Annisa yang diangguki oleh Tania dengan mantap.
Tania semakin tersedu kala mengingat ucapan sang mami padanya. Benar kata mami Annisa. Jangan menyinggungnya.
Tetapi apa yang Tania lakukan baru saja? Bukankah itu menyinggung fisik Kendra yang terlihat kurus?
Tania meragukan Kendra yang kurus tidak akan sanggup menggagahinya. Tania menyinggung fisiknya yang saat ini sedang lemah.
__ADS_1
Tania melupakan apa yang menjadi pesan mami Annisa padanya. Ia semakin tersedu, kala merasakan pergerakan Kendra yang bangkit, kemudian meninggalkannya seorang diri.
Kendra masuk ke dalam kamar mandi dan mengurung diri disana. Ia mandi malam untuk menurunkan ha srat yang tidak kunjung turun itu.
Semakin Kendra kedinginan, semakin senjata tempur miliknya itu mengacung. Seolah meminta untuk dipuaskan.
Tania bangkit dari tidurnya. Wajahnya basah dengan air mata. Ia bangkit dan menuju ke kamar mandi.
Tania memegang handle pintu yang ternyata tidak dikunci itu. Ia membukanya perlahan dan mematung ditempat kala melihat Kendra yang kini berendam didalam bak mandi itu hingga seluruh tubuhnya tenggelam disana.
Hanya terlihat kepalanya saja. Tania menjerit saking takutnya melihat keadaan Kendra yang mencoba untuk menurunkan ha srat malah dengan cara ingin menyakiti tubuhnya yang belum lagi sembuh.
Air mata Tania semakin berlinangan kala melihat bibir Kendra yang semakin memucat. Ia merasa bersalah melihat keadaan Kendra seperti itu.
Daripada memarahinya, Kendra memilih menyakiti dirinya sendiri.
"Maafkan aku, Suamiku.."
__ADS_1