Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Hillal jodoh Zayn


__ADS_3

Mami Tania tersenyum melihat putra sulungnya itu. Abi Kendra pun demikian.


"Kayaknya, kita akan berbesanan Dek!" celutuk mami Tania yang membuat dua anak muda beda usia itu tersentak kaget.


Keduanya saling melepaskan pelukan dan menunduk malu. Jia mundur menuju mami Tania. Ia tak ingin dekat dengan abinya yang kini seperti siap akan menerkamnya. Wajahnya yang datar dan juga dingin itu membuat nyalinya menciut.


Entah ada apa dengan ayah dan anak itu hingga keduanya terlihat bukan seperti ayah dan anak. Berbeda dengan kakak kembar Jia. Ia begitu lengket dengan abinya itu. Terkadang, ia merasa iri dengan kakak sulung yang lebih di sayang oleh abinya itu.


Jia menunduk menahan isak tangis yang sebentar lagi akan tumpah. Mami Tania menatap lekat pada Om Prince yang kini menatap datar pada putri keduanya itu.


"Jika kamu tidak menginginkan kehadirannya, kenapa dulu kamu membuatnya Prince!"


Deg


Deg

__ADS_1


Jia menunduk takut. Saat ini mami Tania sedang membahas tentang dirinya kepada abinya itu.


"Bukan begitu, Kak-,"


"Lantas apa? Kenapa kamu selalu membuatnya takut dan tertekan? Haruskah dia mati dulu baru kamu menyayanginya? Ingat Prince! Alzana sakit bukan karenanya! tetapi karena keegoisan kamu!"


Deg


Deg


Ada rahasia besar di balik pernikahan keduanya hingga memiliki si kemar Jia dan Riya.


"Riya kamu sayangi sepenuh hatimu, sedang Jia? Selalu kamu asingkan! Apa salah anak ini padamu? Apakah dirinya meminta untuk dilahirkan olehmu? Apakah dirinya meminta kamu untuk menghadirkannya ke dunia ini? Semua ini salahmu, Prince! Akibat cebong luck nat mu itu, Jia bisa hadir ke dunia ini! Bukan salah Jia jika Alzana sampai terluka. Tapi, salahkan dirimu yang sok kegantengan, suka tebar pesona saat kamu di Jerman! Kakak tahu semua tentang kelakuanmu Prince Arryan! Jangan membohongiku!" tukas mami Tania sambil memeluk Jia yang kini tersedu di dalam pelukannya.


Onti Alzana menatap datar pada suaminya yang kini menatap sendu padanya. "Apa salah putriku padamu? Jikalau kamu masih tidak menginginkannya, kenapa kamu membuatnya bersamaku? Kau jahat Bang Prince! Riya kau sayang tetapi, putrimu yang lain? Selalu kau abaikan kehadiranya. Lebih baik, dia menikah dan tinggal bersama suaminya. Setelah itu, baru kamu tahu rasanya kehilangan itu seperti apa! Bang Kendra, Kakak. Kamar kalian sudah aku siapkan! Jia! Ikut Ummi! Kita persiapkan pernikahanmu dan Zayn besok pagi. Setelah ini, kamu akan tinggal bersama Zayn di rumah yang tidak jauh dari tempat ini. Rumah yang sengaja ummi bangun untukmu dan suamimu. Ayo!" aja Onti Alzana pada Jia yang kini mengangguk patuh padanya.

__ADS_1


Om Prince mengepalkan kedua tangannya. "Maafkan abang jika ikut campur, Prince. Bukan maksud ingin menggurui. Tetapi, apa yang istri kamu katakan itu benar adanya. Kamu harus melupakan kejadian sepuluh tahun silam itu. Bukan salah Jia dalam hal itu. Ingat Prince, kamu akan menyesal saat tahu jika putrimu sendiri membencimu hingga kamu tiada. Tidak baik seperti itu.


Anak yang Allah titipkan pada kita merupakan amanah untuk kita. Dengan kamu mengabaikannya dan tidak pernah mencurahkan kasih sayangmu padanya, kamu sudah melanggar janjimu pada Allah yang mengatakan jika kamu mampu dan sanggup saat kamu diberikan anugerah memiliki keturunan. Ingat Prince.


Tidak semua seberuntung kita dalam hal anak. Lihat mereka yang diluar sana. Mereka rela menghabiskan ratusan juta demi bisa mendapatkan keturunan. Sedang kamu?" ujar Abi Kendra menegur Om Prince yang kini hanya terdiam saja. "Kamu beruntung Prince! Bahkan sangat beruntung dibandingkan dengan mereka yang tidak bisa memiliki keturunan. Ayo, Hunny. Abang capek. Pegal pinggang tua ini sedari tadi malam duduk terus. Walau sempat bergantian dengan si sulung, tetap saja. Sakit sekali. Pegal!" keluh abi Kendra pada mami Tania yang segera mengikuti langkah suaminya itu menuju ke kamarnya.


Tinggallah Zayn dan Zayden kini duduk bersama Om Prince yang merenung dan termenung mendengar ucapan abang iparnya itu.


Zayn mendekati Omnya itu dan berlutut di kakinya dengan duduk bersimpuh.


"Om, jikalau Om mengizinkan. Biarkan Zayn yang mengambil alih tanggung jawab menjaga Jia. Zayn ikhlas. Sedari dulu, Zayn memang sudah menginginkan Jia. Mungkin, Om tidak percaya. Tapi, ini benar adanya, Om. Zayn tahu, Om sangat menyayangi Jia. Akan tetapi, cara yang Om tunjukkan padanya salah. Karena apa? Karena Om ingin melindunginya dan juga membuat Jia lebih tangguh dari Onti Alzana. Zayn tahu itu Abi," ucap Zayn seketika Prince menoleh padanya.


Zayn tersenyum manis pada Om sekaligus calon ayah mertuanya itu. Mata Om Prince berkaca-kaca. Ia memeluk Zayn begitu erat dan terisak di sana. Zayn tersenyum dan mengelus lembut punggung calon ayah mertuanya itu.


"Jodoh Zayn sudah kelihatan hillanya, lah aku?" batin zayden sedikit merana memikirkan hal itu.

__ADS_1


__ADS_2