Princess Pratama

Princess Pratama
Di usir


__ADS_3

"Kakak..." lirih Ziana dengan air mata beruraian.


Tania menghentikan langkahnya karena mendengar suara lirih Ziana. Adik kesayangannya.


Tania memejamkan matanya untuk meredakan ras sesak yang kembali hadir akibat suara lirih itu.


"Pulanglah dek, bersama calon suami kamu. Kakak tidak apa-apa. Kakak ikhlas karena inilah takdirku. Lebih baik kamu segera membawa calon suami kamu untuk pulang kerumah mu. Tidak baik terus berada disini. Kalian lebih baik pulang sekarang! Kakak mau istirahat Ziana.. Kakak capek!"


Deg!


Berdenyut ngilu jantung Ziana mendengar ucapan Tania padanya. Ucapan dingin datar yang tidak pernah ia dengar sebelumnya.


Tania melangkah pergi dan di ikuti Kendra dibelakangnya. Tania tidak peduli lagi dengan panggilan ziana yang kini menangisi dirinya.


"Kakak.. Dengarkan aku dulu. Kita perlu bicara Kak!" serunya pada Tania yang sudah menghilang dibalik tangga yang juga Kendra berada di belakangnya.


"Kakak.. Hiks.. Kenapa jadi begini? Bukan ini yang ku mau? Kenapa aku? Kenapa nggak orang lain aja? Aku tidak mau melukai kakak ku Papi!"


Deg!


Uwak Lana segera memeluk putri sulungnya itu.


Ziana menangis tersedu. Uwak Lana merasa bersalah karena putrinya menangis tersedu seperti itu.


Papi Tama hanya bisa menghela nafasnya. Mami Annisa masih saja berwajah datar. Tidak sepatah katapun keluar dari bibirnya.


Mami Annisa ibarat bom yang bisa meledak kapan saja. Hanya menunggu waktu yang tepat untuk bom itu bisa menghancurkan semuanya.


Jangan salahkan aku, jika aku tidak merestui pernikahan putrimu dengan suami anakku Bang Lana. Sampai kapan pun, aku tidak akan merestuinya! Sampai mati sekalipun!

__ADS_1


Batinnya menatap dingin pada Uwak Lana yang kini terus memeluk putri sulungnya.


Sementara di kamar atas, saat ini Tania sedang membereskan semua pakaian Kendra yang kini duduk mematung melihat semua pergerakan Tania.


"Hunny.."


"Diamlah Bang Kendra! Kamu saat ini tidak punya hak untuk berbicara!"


Kendra memilih diam. Bibirnya mengatup seketika ketika mendengar ucapan dingin Tania untuknya.


Tania terus sibuk mengeluarkan baju Kendra yang kini sudah ia masukkan kedalam koper dengan terburu-buru.


Sepanjang tangan Tania bergerak. Kendra tetap memilih diam. Karena tidak bisa berbuat apapun saat ini.


Ingin menolak keinginan Tania, takutnya malah Tania semakin mengamuk jadinya. Tidak tahan dengan keterdiaman Tania, Kendra menjatuhkan dirinya di pelukan Tania.


Pelukan hangat Kendra menghentikan gerakan Tania. Ia memejamkan kedua matanya.


"Sekiranya kamu tahu kasih sayang dan cintaku lebih besar dari kebencianku, maka aku sudah membuangmu tuan muda. Tapi tidak. Aku hanya mengusirmu dari rumah ini. Pergilah. Pulang kerumah Uwak Lana! Uwak ku sangat berharap padamu tuan muda. Pergilah!" usir Tania secara halus pada Kendra yang kini masih memeluk erat tubuhnya.


Kendra semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Tania.


"Nggak Hunny.. Kamu istriku!"


"Istri sementara sebelum kamu mendapatkan penggantiku!"


"Tolong Hunny.."


"Nggak bisa tuan muda! Kamu tetap harus pergi! Aku butuh waktu untuk sendiri! Pergilah!" usir Tania lagi melepas paksa pelukan Kendra dan segera menarik koper Kendra.

__ADS_1


Kendra mengikuti Tania dengan langkah gontai. Orang dibawah sana tertegun melihat Tania yang sekatrang menggerek koper Kendra.


Tak.


"Ini koper tuan muda. Bawa pulang ke rumah Uwak! Tugasku sudah selesai sebagai istrinya! Sekarang tugas Uwak untuk menuntun Ziana menjadi istri terbaik untuk tuan muda. Pergilah!" usir Tania lagi.


Uwal Lana tertegun melihat sikap keras kepala Tania. Ziana bangkit dan memeluk Tania dengan erat. Ia tersedu.


"Maaf kak.." isak ziana di pelukan Tania yang tidak berbalas.


Kendra menunduk. Ingin sekali memeluk Tania, tetapi takut salah paham lagi. Dikira Kendra ingin memeluk Ziana pula nantinya.


Kendra tidak ingin mendapat masalah lagi. Satu masalah saja sudah membuatnya pusing. Apalagi jika ditambah satu lagi?


Bisa keriting rambut Kendra nantinya.


"Nak.." panggil papi Tama yang diangguki oleh Tania.


"Udah Pi. Kakak nggak pa-pa. Udah ya dek? Bawa pulang calon suami mu. Kakak ikhlas kok. Kakak tunggu kabar dari kalian berdua tentang pernikahan kalian berdua. Jika sudah, maka dimulai hari itu juga. Hubungan kita akan terputus saat itu juga. Pernikahan kita berakhir!"


Deg!


Kendra menutup kedua matanya. Ziana mengurai pelukannya.


"Kak?"


"Pulang Ziana! Bawa pergi calon suami kamu dan jangan pernah kembali lagi!"


Deg!

__ADS_1


__ADS_2