
Hari-hari yang keduanya lewati sebagai pasangan pengantin baru sangat membuat Tania bahagia. Tiada hari tanpa Kendra.
Bangun tidur, sarapan pagi, makan siang, hingga ingin tidur lagi. Tania tetap melihat ada Kendra dihadapannya.
"Bang."
"Hem.." jawab Kendra dengan mata terpejam. Tetapi tangan hangat itu tetap mengelus pundak Tania yang terbuka.
Mereka baru saja mengulangi aktivitas panas itu. Kendra selalu memiliki alasan kenapa ia setiap saat ingin menyentuh Tania.
"Kenapa?" tanya Kendra pada Tania lagi yang kini terpejam sambil memeluk dirinya. Ia heran kenapa tidak ada lanjutan dari ucapan Tania baru saja padanya.
Tania membuka matanya dan mendongak melihat wajah Kendra. Ia tersenyum. "Tersisa besok untuk terakhir kita bersama. Setelah ini, kita akan kembali seperti biasanya. Menjauh dan tidak saling bersua.." lirih Tania dengan suara sendu nya.
Kendra mengeratkan pelukannya dengan mata terus menatap lekat pada Tania. "Kita berpisah untuk sementara Hunny. Kamu tidak akan sendirian. Kamu akan bersama mereka nantinya!"
Tania mengernyit, "Mereka? Siapa? Siapa yang Abang maksud? Adik-adikku?? Atau?"
Kendra terkekeh, ia mengesup sekilas dahi Tania yang masih ada buliran keringatnya.
"Anak-anak kita hunny.. buah cinta kita. Jantung hati kita. Masih belum paham juga?" jawab Kendra dengan tangan kirinya mengusap perut Tania yang masih polos tanpa penutup sedikit pun.
Keduanya masih sama-sama polos. Tubuh keduanya hanya tertutup selimut saja. Tania tertegun dengan ucapan Kendra.
Ia memegangi tangan Kendra yang kini masih mengelus perutnya dengan lembut. Tania menatap lekat pada Kendra.
"Kenapa?" tanya Tania pada Kendra
__ADS_1
Yang membuat pemuda tampan bermata sipit tetapi tajam itu tersenyum lembut padanya. Tatapan mata yang selalu bisa meluluhkan Tania ketika keduanya bersitatapan.
"Karena mereka buah cinta kita berdua. Dan karena itu juga hubungan kita akan kembali membaik. Karena Abang yakin. Setelah ini, kamu pasti akan semakin menjauhi Abang.." jawab Kendra pada Tania dan juga dalam batin nya.
Kendra mengusap surai hitam legam milik Tania yang berkilauan karena cahaya lampu yang sudah Kendra nyalakan.
"Apakah.. Setelah ini Abang akan menjauhi ku karena menikah dengan sepupu ku??"
Deg!
"Jika iya, maka inilah kesempatan terakhirku untuk bisa bertemu dan juga memiliki mu. Malam ini, malam terakhir untuk kita berdua. Besok, kita akan kembali seperti biasa. Terimakasih untuk tujuh hari ini. Terimakasih karena kamu sudah menjadikan istri yang sempurna untukmu tetapi tidak bisa untuk ku miliki.. Kamu memang cintaku. Tetapi aku harus berbagi dengan nya.
Terimakasih untuk hari ini. Aku puas bisa bermanja-manja dengan mu. Waktu ku sudah habis untuk bersama kamu.
Jadikan ini kenang-kenangan untuk mu. Jika kamu ingin melupakan ku, silahkan. Tidak masalah untukku.
Aku tetap mencintaimu, walau aku tidak bisa memiliki mu. Titik tinggi dalam cinta ialah mengikhlaskan.
Aku akan mengikhlaskan mu menikahi sepupuku. Dan juga ikhlas jika suatu saat kamu akan menjatuhkan talak padaku.
Terimaksih untuk semua hari-hari yang sudah kamu ukir di dalam ingatan ku. Aku tidak akan pernah melupakan ini.
Sampai kapan pun. Bahkan jika ajal menjemputku, aku tidak akan melupakan mu, suami ku tuan Muda Kendra Wiryawan! Selamanya hanya kamu!
Mari kita bersama meniti hari ini. dan juga.. Lupakan aku. Jika kamu pernah menikahiku, jika aku pernah menjadi istri untukmu, dan jika aku pernah menghabiskan malam bersamamu. Lupakan aku setelah ini tuan muda! Mari kita hidup di jalan masing-masing. Mulai malam ini, kita akan berpisah untuk selama-lamanya.."
Dduuaarr!
__ADS_1
Ucapan Tania yang begitu mengiris jantung dan ulu hatinya. Hingga rasanya sangat perih. Luka yang begitu menyakitkan untuknya.
Kendra tersentak tubuhnya saat pelukan lembut Tania ia urai begitu lembut. Jangan lihat wajah datar dan dingin itu. Wajah Tania begitu datar tanpa ekspresi dan sangat dingin saat ini.
Tania seegra bangkit dan menuju ke kamar mandi. Sebelumnya, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang.
Orang itu segera bergerak untuk menyusulnya. Tania berlalu ke dalam kamar mandi untuk mensucikan diri dari hadast besar.
Kendra tidak bisa menahannya. Benar kata Tania. Malam ini, malam terakhir untuk keduanya. Kendra tidak bisa berkutik lagi saat tatapan kedua nya bertemu yang membuat Kendra begitu merasa bersalah padanya.
Tatapan mata yang tersirat luka, kecewa dan juga cinta. Sangat sendu.
"Hunny.."
Tania bergeming. Ia segera bersiap dan menggenakan bajunya. Ia mengemasi semua bajunya dan memasukkannya ke dalam koper Kendra.
"Terserah abang ingin dibawa kemana baju bekas ku ini. Jika istrimu yang lain menerima bekasku, maka berikan padanya. Namun, jika tidak. Maka bakar atau buang saja. Itu lebih baik!"
Kendra menggeleng. "Jangan seperti ini Hunny. Masih ada malam ini untuk kita habiskan berdua. Kamu tega ninggalin Abang seorang diri disini??" Bujuk Kendra pada Tania yang kini sudah siap dengan pakaian nya.
Ia berbalik melihat Kendra. "Aku sudah menghubungi Bang Aldo. Dia yang akan menemani mu. Aku izin pulang dan juga pergi darimu dalam waktu yang tidak aku tentukan. Aku pergi belum tentu kembali. Maka segera lupakan lah aku! Aku pergi. Dan jangan lupa izinkan dan ridhoi kepergian ku, sebelum kamu menjatuhkan talak padaku. Aku sangat mencintaimu, suami sementara ku. Aku pergi.. Cup. Cup. Cup." Tania menegcup seluruh wajah Kendra.
Terakhir kedua tangan Kendra yang memegang tangan nya dengan erat. Ia menggeleng dengan air mata berlinangan.
"Jangan pergi Hunny.. Jangan pergi.." tahan Kendra pada Tania yang melepas paksa kedua tangannya.
Ia tersenyum pada Kendra untuk yang terakhir kali nya. Yang membuat hati Kendra semakin terluka dan sangat hancur.
__ADS_1