
Papi Tama mengangguk, mengiyakan ucapan Mami Annisa yang memang benar adanya. Teringat dengan dirinya yang salah langkah dengan berbohong demi melindungi mami Annisa malah membuat mami Annisa terluka dan kecewa hingga memilih pergi saat baru saja dinikahi oleh papi Tama.
Pengalaman masa lalu itu mereka jadikan pembelajaran untuk anak mereka jika sudah menikah nantinya.
Dan sekaranglah saat nya.
"Dengarkan Papi, Nak! Papi sudah pernah melakukan kesalahan yang sama seperti yang kamu lakukan saat ini," imbuhnya pada Tania yang kini menoleh padanya dengan wajah basah air mata. "Papi pernah menyakiti mami kamu dengan kebohongan yang papi lakukan hingga membuat mami kamu pergi. Seandainya waktu itu papi jujur, mungkin akan lain ceritanya. Mami kamu pasti tidak pergi. Palingan butuh waktu karena kecewa. Tetapi karena kebohongan papi, mami kamu sampai tidak ingin melanjutkan pernikahan kita." Lanjut papi Tama lagi yang membuat Tania dan Kendra berhenti menangis dan menatap kepada dua orang itu.
Kendra menatap dalam pada mami Annisa. Mami Annisa tersenyum dengan senyum teduhnya.
__ADS_1
"Kamu pun begitu bang. Jangan berbohong pada istrimu. Jujur lebih baik. Tapi, kamu harus melihat dan meneliti seperti apa perasaannya setelah kamu mengungkapkan kejujuran mu itu. Jika kamu melihatnya tidak nyaman, kamu harus segera memperbaikinya. Kamu hidup untuk istrimu. Istrimu pun demikian. Kalian berdua sudah bersatu. Susah senang kalian hadapi bersama. Baik dan buruknya hanya kalian berdua yang tahu. Untuk itu, cobalah untuk mengerti apa keinginan pasangan kita. Jangan egois dan ingin menang sendiri. Mengalah boleh, tapi jangan mau ditindas! Wanita memang lemah Bang. Tetapi sekali ia berbuat, maka dunia kamu akan terbalik dalam sekejab. Percaya kata mami!" ujar mami Annisa meyakinkan Kendra yang kini tertegun dengan ucapan mami Annisa yang memang benar adanya.
Kendra melirik Tania yang kini sedang menatap papi Tama. Mami Annisa terkekeh saat melihat wajah masam Tania pada Kendra.
"Berdosa bagi seorang istri ketika suami memandangnya tetapi wajah yang di pandang itu tidak menyedapkan mata!"
Deg!
Kedua paruh baya beda usia itu pun segera berlalu ke taman belakang. Berjalan sambil merangkul pinggang masing-masing.
__ADS_1
Keduanya berjalan sambil tertawa bersama. Tania dan Kendra tersenyum melihatnya.
Andai diri ini seperti Mami..
Batin Tania menunduk sendu.
Andai diri ini pun sama seperti Papi.. Tapi sayang.. Itu tidak mungkin terjadi. Aku sudah melukai hati Tania dengan kejujuran ku. Aku hanya ingin jujur padanya. Tetapi dia tidak mau menerima kejujuran ku ini? Jangan kan dirinya berat untuk menjalani rencana ini. Aku pun tidak kalah beratnya.
Aku tidak bisa berlaku adil untuk keduanya nantinya. Ingin ku menolak, tapi tak bisa! Ya Allah.. Apa yang harus aku lakukan untuk bisa menolak ataupun meyakinkan nya?
__ADS_1
Batin Kendra menatap sendu pada Tania yang kini masih menatap kosong pada pintu belakang yang terbuka dimana kedua orang tua itu berada.
Pengalamam pahit papi Tama dan mami Annisa kembali turun kepada anaknya. Apa yang bisa keduanya perbuat, selain hanya bisa pasrah.