
"T-tolong lepaskan putri saya," pinta salah satu paruh baya ayah dari gadis itu yang kini terkapar dengan darah mengucur dari mulutnya.
Zayn dan Zayden menulikan telinga mereka. Ia semakin kuat mencekik kedua gadis itu hingga tak ada napas lagi yang keluar dari hidung keduanya.
"Kalaupun kedua putri kalian mati, ini belum sebanding dengan yang kami rasakan!" ucap zayn
"Kami berdua harus berpisah dari istri kami karena ulah putri kalian! Bisakah kalian membawa istri kami kesini? Huh?" tanya Zayden masih dengan suara menggeram. Pelan dan lirih tetapi, begitu menakutkan.
"Kami tidak bisa melepaskan gadis ini! Keduanya bukan hanya menjebak tetapi, juga melecehkan kami! Kedua istri kami salah paham dan memilih pergi selamanya dari kami! Bisa kalian gantikan? Huh?"
Sunyi.
Sepi.
Tak ada yang bersuara.
"Bahkan kematian tak lebih buruk untuk putri kalian daripada kami yang di tinggal pergi oleh istri kami untuk selamanya atas kesalahan yang tidak kami perbuat sama sekali! Itu belum seberapa!" teriak keduanya begitu kompak.
Semuanya terjingkat kaget mendengar suara auman Zayn dan Zayden yang sedang di kuasai amarah. Dari pintu masuk, seorang laki-laki yang masih tampan berjalan, bahkan sampai berlari mendekati keduanya.
"Hentikan, nak!"
"Abi??" ucap Riya dan Jia bersamaan. Keduanya menatap Abi Prince yang kini tersenyum teduh pada kedua putrinya.
"Hentikan, Nak! Jika Riya dan Jia tahu kalian berdua mencoba membunuh keduanya karena amarah, kalian berdua akan beneran di tinggalkan oleh putri abi untuk selama-lamanya!"
Ddduuaaarr!
__ADS_1
Mendengar suara seseorang yang begitu mereka kenal, spontan saja cekalan di tangan itu lepas seketika. Keduanya menoleh pada Abi Prince yang kini masih berlari menuju keduanya.
Bruk!
Dua gadis itu jatuh terkapar dengan tubuh lemah lunglai. Mata kedua gadis itu terpejam erat. Kedua orangtua gadis itu segera mengambil putri mereka dengan tersedu. Keduanya tidak tahu akan seperti ini. Jika seperti ini jadinya, lebih baik kedua orangtua itu tidak menyetujui pernikahan itu.
Menyesal. Itulah yang kedua orang itu lakukan saat itu. Kembali pada Abi Prince yang segera memeluk tubuh kedua putranya itu.
Bruk!
Keduanya terjatuh dalam pelukan abi Prince. Keduanya tersedu dan menangis bersama di dalam pelukan ayah mertuanya.
"Jia.."
"Riya.." ucap keduanya bersamaan.
Ucapan Abi Prince terputus saat merasakan kedua pemuda itu spontan berdiri dan berlari menuju ke pintu Hotel untuk menemui istri mereka.
"Zayn! Zayden! Riya tidak ada di luar! Abi datang kesini sendiri setelah mengantar keduanya ke bandara untuk ke Kairo!" teriak Abi Prince yang membuat langkah kedua pangeran mami Tania itu berhenti seketika.
"Apa?" ucap keduanya bersamaan.
"Riya dan Jia sudah berangkat, Nak! Keduanya sudah ke Kairo! Abi sendiri yang mengantarkannya!" ucap Abi Prince lagi yang membuat dunia keduanya runtuh seketika.
Luluh lantak hati dan jiwa keduanya. Zayn dan Zayden mengepalkan tangannya menahan emosi yang akan meluap lagi.
"Aarrhhgt.. Tidak! Jia!!"
__ADS_1
"Riya!!" ucap keduanya bersamaan sambil berteriak dan melempari seluruh kursi tamu itu ke para tamu dan ke sembarang arah. Keduanya mengamuk tanpa henti. Abi Prince memilih diam.
Dia membiarkan kedua menantunya itu meluapkan amarahnya. Hanya dengan cara itu keduanya bisa lega.
Hal tak bisa keduanya terima ialah, keduanya di tuduh melakukan hal yang tidak keduanya lakukan. Sementara istri mereka tidak mempercayainya. Keduanya lebih percaya saat melihat keduanya mengenalkan gadis itu sebagai tunangan mereka yang nyatanya keduanya tidak mau. Keduanya terpaksa karena di ancam oleh gadis itu.
Kedua gadis itu tahu kelemahan mami Tania. Yaitu kedua putranya. Begitupun sebaliknya. Kelemahan kedua pangeran tampan itu adalah ibunya. Mami Tania. Makanya kedua gadis itu bisa menekan kedua belah pihak dengan perbuatan keduanya.
Jahat memang. Keduanya bukan mencintai, melainkan terobsesi dengan tubuh tegap dan jangkung milik Zayn dan Zayden yang tak pernah keduanya nikmati.
Puas dengan mengamuk, Zayn dan Zayden jatuh tersungkur dengan air mata yang terus berlinangan. Oma Annisa, Opa Lana, Opa Tama dan Abi Prince mendekati keduanya.
Empat orang itu memeluk keduanya begitu erat hingga sedu sedan terdengar di sana. Ratapan hati keduanya yang begitu tersiksa saat tahu istri mereka sudah pergi meninggalkan mereka.
"Dengar, Oma tahu kalian terluka karena kepergian keduanya. Kalian masih suami mereka. Abimu tidak jadi melayangkan gugatan cerai untuk kalian berdu. Sebaiknya, kita pulang. Kalian harus bekerja keras untuk membiayai keduanya di Kairo sana. Butuh biaya yang banyak untuk keduanya. Maka dari itu, kalian harus bekerja di perusahaan EAP GRoup milik Oma dan Opa kamu. Milik kami. Kami akan menggaji kamu sesuai dengan kinerja kamu berdua. Untuk sementara, kalian harus jadi karyawan. Jika kalian bekerja dengan baik, nanti akan ada promosi jabatan. Dan jika kalian semakin baik, maka Oma akan menjadikan salah satu dari kalian berdua yang berkompeten untuk menjadi CEO di sana menggantikan kami semua."
"Kami sudah tua. Sudah selayaknya kami istirahat. Kami memberikan izin pada cucu kami untuk mengolah apa yang kami punya. Masing-masing sudah memiliki bagiannya. Gading bersama Alkira tugas keduanya khusus bagian IT di perusahaan kita sekaligus pelindung. Untuk sepupu kamu yang lain, Oma sudah menyiapkan tempat untuk mereka. Ayo, kita pulang. Besok, kalian sudah harus bekerja. Malam ini, kalian berdua harus segera berangkat ke Singapura. Ingat? Ada istri yang harus kalian biayai saat ini. Kalian bisa memberikan biaya itu pada abi kalian sebagai nafkah lahir dari kalian berdua, paham?" ucap Oma Annisa menjelaskan apa yang sudah mereka pikirkan bersama.
Kedua pangeran mami Tania itu berhenti menangis dan menatap sang Oma yang kini tersenyum teduh padanya. Keduanya segera memeluk Oma mereka hingga wanita paruh baya itu sampai terjengkang ke belakang.
Beruntungnya ada Opa Tama dan Opa Lana. Oma Annisa tertahan oleh tangan keduanya yang menangkap dengan cepat hingga tidak jatuh menimpa lantai.
Semua keluarga pulang setelah memberikan perintah pada orang suruhan mereka untuk membawa dua gadis itu ke rumah sakit, setelah sehat harus di bawa ke kantor polisi dengan tuduhan pelecehan dan juga penjebakan.
Untuk Pesta pernikahan yang sudah hancur itu, di biarkan begitu saja. Kejadian baru saja sudah di tutup oleh pihak Opa Lana. Tak ada yang berani melawannya. Karena mereka tahu jika beliau merupakan putra dari seorang pengusaha yang berpengaruh dan juga pemilik saham di Hotel yang saat ini kedua cucu mereka itu menikah tetapi, batal.
Kejadian itu cukup dalam Hotel saja yang tahu. Para tamu pun harus menutup mulut mereka jika tidak ingin berhadapan dengan ratu King Pratama. Mereka takut mendengar nama itu. Para kalangan pengusaha tahu akan nama itu. Nama yang snagat di takuti oleh sebagian orang karena ucapannya yang akan menjadi kenyataan jika ia sedang marah.
__ADS_1
Maaf, tadi malam othor ketiduran 😁🙏