
"Baiklah, kalau begitu. Kami akan segera mengurus operasi putra anda. Mari ikut saya, Nonya. Kami butuh tanda tangan anda." Kata Tania pada Fatma yang diangguki antusias olehnya.
Paman Kevan menatap Fatma dengan tajam. Tania tahu itu. Tetapi Fatma tidak peduli. Baginya kini, kesembuhan putra dan suaminya. Penolong dan pelindungnya sudah datang.
"Dokter Kania, segera urus masalah operasi ini. Saya dan tim akan seger bersiap." Imbuh Dokter Dimas yang dangguki oleh Tania.
"Baik, dokter!" Jawab Tania
Fatma mengernyitkan dahinya saat mendengar nama Kania. Ia menebak jika itu adalah Tania. Tetapi, ia tidak bisa bertanya. Karena ada Paman Kevan disana saat ini masih duduk dengan santainya.
Fatma beralih menatap datar pada Paman Kevan yang juga kini menatapnya. Sementara Tania pura-pura sibuk memeriksa keadaan putra kecil Fatma dan Aldo itu.
"Maafkan saya, Tuan Kevan! Saya menolak tawaran anda untuk menjadi istri anda! Saya tidak berminat! Putra saya akan dioperasi malam ini, dan saya tidak membutuhkan tawaran dari anda!"
Deg!
__ADS_1
Deg!
Tania menggeram mendengar ucapan Fatma yang ternyata Paman suaminya itu sengaja menjebak Fatma dengan kelakuan burunya.
"Kenapa kamu menolaknya? Bukankah tadi kamu sudah menyetujuinya?" tanya Paman Kevan pada Fatma yang kini menatapnya dengan dingin.
"Bukankah sudah saya katakan tadi, saya tidak akan menikah dengan siapapun. Termasuk anda, tuan! Saya masihlah istri sah Aldo. Orang yang sudah berusaha anda bunuh! saya tidak mau menerima tawaran anda yang berujung mengikat saya dengan tali rantai yang akan membuat saya mati!"
Deg!
"Dan saya pun tidak berminat menjadi istri anda yang hanya dijadikan istri pajangan serta pemuas ranjang, Anda! Saya istri orang! Bukan mainan! Jika anda menganggap saya mainan, lebih baik tidak usah menikah! Cari saja gadis lain yang mau anda jebak dan anda ikat dengan rantai permainan anda! Tetapi tidak dengan saya. Kematian Tania dan menghilanganya Ziana, tidak ada hubungannya dengan saya dan Aldo. Kami pun masih berusaha mencarinya saat ini. Jika Tania sudah kembali, maka itulah takdirnya.
Takdir yang sudah tertulis untuk menyembuhkan suaminya. Saya tidak tahu ada masaah apa anda dengan suami Tania yang merupakan keponakan anda. Tetapi saya berpesan. Buang dendam didalam hati anda. Karena dendam itu merusak jiwa dan raga anda.
Tidakkah anda sadar tuan Kevan? Apa yang anda dapatkan dengan balas dendam? Sudah puaskah hati anda? Senang sudah membunuh orang?
__ADS_1
Apakah anda tidak takut, suatu saat nanti anda akan mendpatkan balasannya? Ingat tuan. Apa yang anda tabur, itu yang akan anda tuai!
Saya tegaskan sekali lagi, walau anda dulunya pernah menolong keluarga saya, saya tetap tahu diri dan akan balas budi dengan anda. Tetapi bukan dengan menikah dengan anda. Karena saya sudah memiliki suami. Anda sendiri pun tahu siapa suami saya bukan?
Lebih baik anda keluar! Saya akan segera melakukan operasi untuk putra saya. Anda terlambat tuan. Sekiranya dulu anda berbuat baik dan berubah, pastilah saya mau menikah dengan anda dulunya. Tetapi tidak. Anda semakin menggila ingin balas dendam pada Kendra yang notabene nya keponakan anda sendiri yang merupakan bos suami saya.
Saya sudah melakukan tugas saya kemarin. Sekarang, penuhi janji anda pada saya. Jika nanti ada seseorang yang akan menolong saya, maka anda akan mundur. Bukan begitu tuan?" Ucap Fatma mengungkapkan apa yang sebenarnya terjadi padanya selama ini.
Serta yang terjadi baru saja. Tania menggeram mendengar ucapan Fatma baru saja. Tania sangat geram mendengar ucapan Fatma tentang Paman Kevan.
Untung saja aku bertindak cepat. Jika tidak, pastilah saat ini, Fatma menjadi korban selanjutnya setelah Ziana. Jika Ziana tidak bersamanya, maka Ziana kemana? Kemana adikku? Apakah pulau yang ditunjuk oleh orang papi itu, memang benar? Atau hanya karangan belaka?
Ah, lebih baik mengurus Fatma dan Bang Aldo dulu. Setelahnya baru Ziana. Aku yakin, Ziana dalam keadaan sehat. Firasatku tidak pernah salah dalam menebak.
Batin Tania bergulat sendiri dengan pikirannya saat ini.
__ADS_1