
Tania tertawa sumbang saat melihat wajah datar Kendra padanya.
"Kenapa wajahmu seperti itu Suamiku?? Kamu kaget melihat aku teratwa dengan air mata beruraian? Huh? Hahahaha.."
Ucapan Tania terdengar begitu mengerikan di telinga ketiganya. Aldo masih menatap lekat pada Kendra dan Ziana.
Ia merasa ada yang tidak beres dengan Tania. Ia segera bangkit dan mengambil kabel data ponsel dan juga laptopnya yang akan ia hubungkan ke layar proyektor di dalam ruangan kamar Kendra.
Sebelumnya ia mematikan lamu terlebih dahulu dan meninggalkan cahaya remang saja. Kendra membeku saat melihat wajah Tania yang kini berubah seperti menahan amarah dan juga benci kepadanya.
"Hunny??"
"Kenapa? Kenapa kamu tega tuan muda? Kenapa kamu tega padaku! Huh? Seharusnya kamu ceraikan dulu aku, baru kamu bisa sepuasnya menikmati gawang istri keduamu!"
Deg!
Deg!
"Hunny.."
"Kakak.." lirih keduanya begitu terkejut dengan ucapan Tania.
Tania tertawa. "Wah, wah, wah... Hebat kalian berdua ya?! Baru sebulan bersatu kini kalian berdua begitu kompak ternyata! Hahaha.. Enak ya tuan muda dapat gadis dua-dua nya?!"
Deg!
Kendra terkejut mendengar sindiran Tania. Begitupun dengan Ziana.
"Apa maksudmu Hunny? Mendapatkan gadis apa? Abang tidak mengerti!" Balas Kendra yang masih kebingungan dengan ucapan Tania.
Sebenarnya ia sedikit menebak kemana arah tujuan Tania berbicara. Ia yang sudah merasakan hal itu, pastilah tahu. Hanya saja..
"Kenapa? Kenapa kamu harus pura-pura tidak tahu sih? Maksud aku tuh.. Enak kan kamu bisa membobol dua gawang gadis kakak sepupuan ini? Heh!"
Deg!
__ADS_1
"Kamu sudah merasakan surga dunia 'kan bersama istri kedua mu??"
Deg!
"Jangan berbohong tuan muda! Aku baru saja mendapat kabar, jika saat ini istri muda kamu sedang mengandung satu bulan. Bukan begitu?"
Dduuaarr!
"Hah?" Kendra dan Ziana menganga.
"Selamat! Selamat tuan muda! Ternyata adik sepupu sekaligus madu ku itu lebih subur dibanding diriku yang sudah lebih dulu kamu gauli??"
Deg!
"Kamu menggauli dua gadis dalam dua bulan terakhir. Jika denganku hanya satu minggu. Jadi, mana mungkin bisa menghasilkan keturunan mu? Sedang dengan maduku?? Kamu begitu lama dengannya! Sebulan loh.. Pantas saja jadi?? Lah aku??" Ucap Tania dengan bibir bergetar dan air mata yang semakin beruraian.
"Aku kamu gauli hanya seminggu! Setelah itu kamu meninggalakan ku karena ingin menikahi sepupuku! Yang membuat hidupku berubah seketika! Pernah tidak terpikir olehmu? Jika yang kamu lakukan saat ini begitu melukai ku? Perasaan ku? Batinku?
Kamu bisa bersenang-senang dengannya selama sebulan! Tetapi dengan ku? Kamu hanya meminta waktu seminggu! Hiks.. Kejam kamu tuan muda!"
Deg!
Aku bersyukur kamu mendapatkan istri yang begitu cepat memberikan keturunan padamu.. Sekali lagi. Aku ucapkan selamat! Hidupku sudah tidak berarti lagi setelah ku tahu jika madu yang ternyata sepupu ku kini sudah hamil keturunan suamiku!
Bodoh kau Tania! Bodoh! Kau itu istri mandul! Jadi mana mungkin bisa hamil!"
Dddduuaarr!
Bruukk.
Aldo jatuh terhenyak saat mendengar ucapan Tania. Ia menatap Kendra yang kini menatap Tania masih dengan wajah terkejutnya. Begitu pun dengan Ziana.
Gadis kecil itu masih bingung dengan ucapan kakak sepupunya itu untuknya.
"Selamat tinggal tuan muda.. Sampai bertemu di keabadian jika kita masih ditakdirkan bersama. Selamat menempuh hidup baru mu dengan istri mudamu. Aku pergi.. Dan tak akan pernah kembali.. Selamat tinggal tuan muda..." lirih Tania dengan segera bangkit dan mengambil kunci mobilnya yang terletak diatas nakas kamarnya.
__ADS_1
Ia berlari tergesa tanpa mematikan dulu ponselnya yang masih terhubung dengan Kendra. Aldo dan Ziana bisa melihat seberapa kencangnya Tania berlari hingga melewati Danis yang baru saja pulang dari membeli makanan keinginan nya.
"Lah? Loh? Dek! Kamu mau kemana! Ini pesanan kamu loh!" serunya pada Tania yang terus berlari menuju garasi dan masuk ke mobilnya.
Tania melempar begitu saja ponselnya di jog sebelah dan mulai mengendarai mobi milik sang mami.
Danis yang melihat jika Tania sedang dalam keadaan tidak beres segera mendekati mobil itu.
"Berhenti dulu Tania! Kamu mau kemana? Sebentar lagi kamu harus periksa kandungan kamu. Kamu lupa?"
Deg!
Deg!
Kendra terkejut mendengarnya.
"Hiks.. Aku nggak hamil bang! Aku mandul! Jika aku hamil, sudah dari sebulan yang lalu aku merasakannya! Aku mandul!! Berbeda dengan Ziana yang kini sedang hamil anak bang Kendra! Sudah satu bulan, bang! Hiks.."
Danis terkejut, "Iyakah? Setahu Abang bukan Ziana yang hamil. Tapi kamu, Dek!"
Deg!
Lagi, mata Kendra membola. Ia terkejut mendengar ucapan Danis baru saja. Tania menggeleng.
"Nggak! Aku nggak hamil, Abang!"
Danis menggeleng, "Nggak sayang. Kamu yang hamil bukan Ziana! Mami udah bilang sama Abang. Makanya kamu harus di periksa oleh dokter kandungan. Ayo, masuk dulu," bujuknya pada Tania yang kini menggeleng lagi padanya.
"Hiks.. Nggak bang. Aku nggak mau masuk. Lebih baik aku pergi dan menghilang dari muka bumi ini. Tidak ada gunanya bagiku tetap disini. Toh, suami ku lebih memilih istri mudanya dibandingkan aku! Hiks.." isak Tania begitu pilu.
Kendra menggeleng tanpa suara dengan mata masih menatap layar proyektor yang menunjukkan wajah panik Danis yang tidak berhasil membujuknya.
"Nggak.. Kamu salah paham, Dek! Kamu loh yang hamil! Abang yakin itu!"
Tania menggeleng lagi, "Kalaupun aku hamil, sudah terlambat dan pecuma saja. Hubungan ku dan dirinya tetap tidak bisa di selamatkan. Ia sudah bahagia dengan anak yang yang saat ini ada di kandungan Ziana. Aku menyerah Bang. Aku mundur! Titip salam sama mami dan papi. Katakan pada mereka berdua, aku minta maaf tidak bisa memimpin lagi perusahaan keluarga kita. Aku tidak bisa! Maafkan aku bang Danis!"
__ADS_1
Braak.