
Mata Fatma membola saat Tania menuduhnya jika ia adalah suruhan seseorang. Ia menelan ludahnya dengan getir. Karena tuduhan Tania itu tepat sasaran.
Tatapan mata Tania semakin memicing curiga padanya saat menyadari ada yang aneh dengan wanita dari masa lalu Kendra ini.
"Katakan padaku Kak Fatma. Siapa yang menyuruhmu? Kenapa kamu melakukan ini? Apa tujuannya? Boleh aku tahu?" tanya Tania dengan suara yang sudah ia turunkan dan terkesan lunak pada Fatma.
Membuat Fatma bingung ingin menjawab Apa. Karena apa yang ditanyakan Tania saat ini adalah misinya. Ia melakukan ini demi uang. Sebenarnya ia tidak mau dan tidak tega.
Tetapi anaknya butuh biaya saat ini. Operasi tranplantasi jantung dengan biaya yang lumayan besar. Awalnya ia tidak mau. Tetapi seseorang itu, menekannya dengan menunjukkan wajah pucat putranya yang kini masih dirawat dirumah sakit terkenal Jakarta dengan dokter bedahnya bernama Dimas Anggara dan Kezia Rahmawati.
Seseorang yang sangat Tania kenal bahkan bisa membantunya saat ini. Tetapi Fatma ragu untuk mengatakan niatnya itu pada Tania.
Saat ini, seseorang sedang mengawasinya melalui earphone yang terhubung langsung ditelinganya.
Ia memilin tangannya karena gugup. Kendra memeluk erat pinggang Tania.
__ADS_1
"Katakan Kak. Barangkali aku bisa membantumu? Katakan saja siapa yang menyuruhmu?" desak Tania lagi pada Fatma yang kini semakin mengucurkan keringat dingin disekujur tubuhnya.
Bibirnya keluar walau sepatah kata saja untuk berbicara. Ingin sekali ia jujur, tetapi tidak berani. Nyawa putranya dalam bahaya saat ini.
"Kak Fatma? Bisa kamu jujur? Aku tahu kamu tertekan saat ini!" ucap Tania yang semakin membuat jantung Fatma berdegup tidak beraturan.
Fatma bingung harus berkata apa. Ia tahu jika Tania wanita yang baik. Fatma menghela napas nya. Sekuat tenaga ia mengeluarkan secarik kertas yang sudah ia tulis sebelum ia bertemu Tania tadi.
Keringat dingin mengucur diseluruh tubuhnya. Tania tahu, jika wanita dihadapanya saat ini sednag tidak baik-baik saja.
Tania mengambil kertas itu dan menatap Fatma yang kini berlari terbirit-birit hingga menghilang dibalik mobil avanza hitam yang tak jauh berada dibalik tenda lontong itu.
Tania menghela napasnya saat memegang kertas kecil dari Fatma baru saja.
"Ayo, kita kembali Bang. Masih pusing?" tanya Tania pada Kendra yang dijawab dengan gelengan oleh suaminya itu.
__ADS_1
Kendra tersenyum lirih. Tania mengangguk. Ia pun segera memanggil pemilik tenda lontong itu untuk membayar makanna yang mereka pesan tadi.
"Mbok?" panggil Tania pada Mbok Iyem pemilik tenda lontong kacang itu.
"Iya Neng." Jawabnya sambil mendekati meja Tania dengan tatapan teduhnya pada Tania.
"Ini bayaran lontong kacang dan juga susu hangatnya tadi. Kembaliannya, ambil aja!" Ucap Tania sembari menyerahkan uang berwarna merah pada Mbok Iyem yang disambut dengan mata berkaca-kaca olehnya.
"Terimakasih, Neng! Kapan-kapan, mampir lagi ya diwarung kecil mbok? Biasanya Ibu direktur yang sering mampir kesini bersama pak Direktur. Melihat Neng dan suami Neng, mengingatkan mbok sama mereka." Ucap Mbok Iyem yang membuat Tania penasaran.
"Oh ya? Direktur rumah sakit ini? Om Dimas dan Tante Kezia maksudnya?" tanya Tania yang diangguki oleh Mbok Iyem dengan tersenyum.
"Ya, tidak hanya beliau saja. Tapi wakilnya pun juga. Dokter Kenan dan juga Dokter Bella, sih." jawab Mbok Iyem yang dijawab senyum mengembang oleh Tania.
"Mereka berempat keluarga saya, Mbok. Om Kenan merupakan suami tante saya. Adik kandung mami saya dari ibu tiri kami. Dan juga Om Dimas serta tante Kezia, merupakan anaknya Opa Reza dan Oam Rani yang kebetulan bersahabat dengan Oma saya, Mbok. Om Kenan sendiri abangnya tante Kezia sih. Sungguh sempit dunia ini. Kami berputar-putar disekitar mereka saja!" Lanjut Tania dengan tertawa.
__ADS_1
Mbok Iyem pun ikut tertawa mendengar ucapan Tania. Ia pun tidak menyangka, jika Tania merupakan salah satu keluarga dari pemilik rumah sakit jiwa yang saat ini menjadi lapak ladang rejeki buat Mbok Iyem.