
Mami Annisa berlalu meninggalkan kedua pria yang ia sayangi. Ia dan Zee segera membawa kedua putra kembar Tania dari rumah sakit itu untuk pulang ke rumah mereka.
Sedangkan papi Tama masih menatap datar pada Uwak Lana. "Ayo, kita ke rumah. Bahas masalah ini sampai selesai. Abang tidak pernah marah padamu. Dan maafkan kami yang sudah membohongi kenyataan yang ada. Kami terpaksa melakukan itu karena Tania sendiri yang menginginkannya."
"Ia ingin melihat Kendra bahagia bersama putrimu. Ia rela mengalah asal Ziana bahagia bersama suaminya. Tania menahan luka ini selama hampir satu setengah tahun lamanya. Ia beranggapan jika, Kendra akan sehat dan baik-baik saja akan kepergiannya. Tapi kenyataannya? Berbanding terbalik dengan kenyataan yang ia ketahui saat Kenan menemuinya di Jerman. Jika bukan karena Prince menjelaskan perkaranya penyakit yang Kendra alami, pastilah Tania tidak tahu akan keadaan Kendra."
"Tania bertahan karena ingin melihat putrimu bahagia. Dan masalah menghilangnya Ziana, itu bukanlah salah Tania. Tania tidak tahu menahu dalam masalah itu. Jika Tania berniat menculik Ziana, buat apa Tania ingin menyusulnya seorang diri tanpa Kendra bersamanya?"
Deg!
Deg!
Uwak Lana terkejut mendengar ucapan abang angkat sekaligus iparnya itu.
__ADS_1
"Maksud Abang?" tanya Uwak Lana pada Papi Tama yang kini tersenyum teduh padanya.
Wajah tampan papi Tama masihlah tampan diusianya yang sudah paruh baya itu. Uwak Lana menatap lekat padanya.
"Kamu salah paham jika menuduh Tania dibalik penculikan itu. Bukan Tania pelakunya. Bukan juga salah keponakanmu, Lana." Ucap Papi Tama yang membuat Uwak Lana menatap lekat padanya.
"Ayo, kita ke rumah abang. Temui Tania. Dia sendiri yang akan menjelaskan kenapa dan apa." Imbuh papi Tama dengan seegra bangkit mengikuti mami Annisa yang sudah lebih dulu.
Uwak Maura memegang lengan suaminya, "Mari kita datang ke rumah Adek. Sudah lama kan ya? Saat terakhir kali kita mengujungi rumahnya?" tanya Uwak Maura yang dijawab dengan anggukan lirih serta tatapan nanar dan sendunya mengigat Tania dan Ziana.
"Ayo!" ajaknya pada Uwak Maura yang ikut berdiri mengikuti langkah sang suami menuju mobil miliknya untuk ke rumah papi Tama dan mami Annisa.
Sepanjang perjalanan Uwak Lana terus mengingat keadaan Ziana yang entah seperti apa saat ini.
__ADS_1
"Sudah hampir tiga tahun, Sayang. Apa yang terjadi pada putri kita saat ini? Jika ia kuliah, pastilah saat ini sudah melewati dua tahun. Andai waktu itu abang tidak terlambat dan tidak tertiduran, Ziana pasti tidak akan diculik oleh si kain kavan itu. Abang tahu, bukan Ziana pelakunya. Tetapi, kenapa Tania berbohong tentang kematiannya kepada abang dan juga suaminya? Apa benar karena ingin membuat suaminya bahagia bersama adik madunya?" tanya Uwak Lana pada Uwak Maura yang kini mengelus lembut lengan Uwak Lana yang memegang tangan Uwak Maura.
Sekedar untuk mencari kenyamanan dari rasa gundah saat bertemu dengan Tania dan Kendra.
"Jangan berpikir dan bertanya yang belum tentu kamu tahu jawabannya apa, bang Lana. Kita temui dulu keponakanmu. Tania pasti akan menjelaskan seperti yang bang Tama tadi jelaskan. Ya?" bujuknya pada Uwak Lana yang kini tersenyum dan mengangguk pada Uwak Maura yang juga tersenyum padanya.
Mereka akhirnya diam. Sebab keduanya saat ini sudah tiba di depan rumah abang angkat sekaligus saudara iparnya itu.
Entah seperti apa kehidupan dan takdir mereka. Abang angkat yang sedari mereka kecil bisa menjadi saudara ipar yang menikahi adik bungsu mereka.
Mengingat itu Uwak Lana terkekeh sendiri dengan jalan takdir yang othor buat eh, salah! Takdir tuhan maksudnya, untuk mereka sekeluarga.
Tiada yang tahu jalan takdir itu seperti apa. Semua yang terjadi sudah tertulis dan tercatat di dalam kitab lauhul mahfudh.
__ADS_1