Princess Pratama

Princess Pratama
Ziana


__ADS_3

Ziana menguatkan hatinya dan masuk ke dalam ruangan itu kala semua orang sunyi senyap dalam seketika.


Ziana mengukir senyum manis walau terpaksanya ia tampilkan demi bisa meyakinkan mereka semua yang ada disana.


Demi Kakak, aku rela! Semangat Zia!!


Batinnya sambil terus masuk di ikuti Aldo di belakangnya. Aldo mengekori Ziana dan tetap berdiri dibelakang gadis berusia enam belas tahun itu.


"Ehem, maaf semuanya Kakak mengganggu??" katanya pada semua orang itu.


Mereka semua menoleh serentak pada Ziana yang kini tersenyum bersama Aldo di belakangnya.


Uwak Lana mengukir senyum lembut dan teduh pada putri sulungnya yang kini berusia enam belas tahun itu.


"Sini sayang, ada apa? Penghulunya sudah datang kah?" tanya papi Lana pada Nya.


Ziana segera duduk disamping papi Lana dan mengangguk. "Udah, kakek baru aja datang bersama pasukannya!"


Mami Maura tertawa mendengar ucapan putrinya tentang pasukan yang ia katakan itu.


"Berapa orang pasukan kakek Madan??"


"Ada dua, eh empat orang pasukan kakek! Semuanya udah siap semua. Tinggal menunggu papi dan mami aja." Jawab Ziana masih menatap lekat pada Aldo yang kini menatap datar padanya.


"Ehem!" Papi Ali pura-pura berdehem untuk memutuskan kontak mata keduanya, ia terkekeh melihat Aldo melengos ke arah lain.


Sementara Ziana menunduk, "Pi?"

__ADS_1


"Ya sayang? Ada apa? Bilang saja. Papi akan mendengarkannya."


Ziana mengangkat wajahnya dan melihat pada Aldo serta Kendra. "Maafkan jika ucapan ku ini menyinggung kalian semua. Tetapi ini harus aku katakan." Katanya pada mereka semua yang kini menatapnya dengan lekat.


"Katakanlah. Kami mendengarkannya, hem?" Ujar mami Kinara pada Ziana yang kini mengangguk padanya.


"Sebenarnya.. Aku tidak mau menikahi Bang Kendra. Tetapi karena papi yang minta demi Kak Tania, maka akan aku lakukan! Walau sebenarnya aku sangat ingin menjadi satu-satunya dari bang Kendra.." Batin Ziana bergumam di akhir kalimatnya yang tidak ia lepaskan.


"Pernikahan ini akan terjadi. Akan tetapi, seperti yang aku katakan dulu. Bahwa tidak ada nafkah lahir dan batin disini. Pernikahan ini hanya pernikahan simbiosis saja. Aku tidak bisa menjalaninya karena aku masih sekolah. Dan juga.. Bang Kendra itu suami kakak ku. Tidak mungkin aku merebut suami kakak ku sendiri. Aku menyetujui pernikahan ini karena perjanjian kalian para orang tua.


Setelah Bang Kendra berhasil dengan perjanjian ini, maka kamu boleh menjatuhkan talak padaku. Tapi satu pintaku.." Ziana menatpa Kendra dengan lekat


Kendra mengangguk, "Baik. Apapun yang kamu inginkan akan Abang penuhi."


"Janji?? Nggak akan marah?"


Uwak Lana mengangguk. "Benar! Katakan saja. Jangan takut!" Imbuhnya penuh keyakinan sembari menatap putri sulungnya dengan wajah seriusnya.


Ziana mengangguk lagi.


"Aku meminta.. Jika selama pernikahan ini terjadi. Tidak ada nafkah lahir atau pun batin untukku. Seperti kata ku tadi. Jika aku masih sekolah dan aku tidak mau dikeluarkan dari sekolah. Maka jadikan perniakahan ini sebuah rahasia. Biarlah menjadi rahasia.. Itu lebih untukku.. Kita tetap menikah. Tetapi hubungan kita tetap seperti biasa bang Kendra. Kita tidak tidur bersama dan juga sekamar. Aku ingin sendiri. Anggap aku adikmu walau aku sah untuk kamu sentuh. Aku ingin menjaga hati kakak ku.


Aku rela melakukan apapun untuknya. Karena aku ingat pengorbanan nya untukku. Jika bukan karenanya tiga tahun yang lalu, maka Ziana sudah tiada saat ini. Karena dirinya aku masih hidup. Karena dirinya aku masih bernafas hingga saat ini.


Aku mengingat jasanya. Tak kan ada yang bisa mengubah semua itu. Sekalipun kalian memkasaku untuk menerima pernikahan ini, aku tetap tidak bisa.


Bagiku, kakak ku untuk selamanya. Aku rela melakukan apapun untuknya asal ia bahagia. Apapun itu, termasuk melepaskan bang Kendra dari jeratan mereka itu.

__ADS_1


Aku tidak tahu masalahnya apa. Tetapi setelah ini, aku harus tahu semua rencana mu bang Kendra. Agar aku bisa kompak dengan kalian semua. Walau aku masih kecil, tetapi aku bisa di andalkan.


Dan satu lagi." Katanya pada mereka semua yang kini sedang melihatnya dan menunggu perkataan Ziana selanjutnya.


"Aku ingin ketika kita memulai rencana ini, maka Bang Aldo sebagai asisten bang Kendra tetap bersamaku. Aku hanya memintanya untuk menemani ku kemana pun aku pergi. Dengan kata lain. Bang Aldo yang akan menjadi bodiguard ku. Bisa?" Lanjut Ziana yang membuat Kendra menatap dalam padanya.


Uwak Lana dan yang lainnya menatap pada Kendra dan menunggu jawaban pemuda itu. Kendra mengangguk dan tersenyum.


"Apapun untukmu, adikku. Sekiranya itu bisa membuatmu senang. Silahkan! Lagi pun Aldo ini orang handal dan sangat kompeten makanya Abang memilihnya menjadi tangan Kanan Abang." jawab Kendra yang di angguki oleh Uwak Lana.


"Bagaimana Aldo? Kamu bersedia menjadi bodiguard putri saya selagi ia masih berstatuskan istri dari Kendra??"


Aldo menatap datar pada mereka semua. Tak lama setelahnya ia mengangguk setuju. Ia menatap lekat pada Ziana yang kini mengangguk kecil padanya.


Ia menghela nafas pasrah. Lelaki tampan sebaya Kendra itu luluh pada tatapan mata sayu dan sendu milik nya yang berhasil meluluhkan hati dan perasaan Aldo saat itu juga.


Ziana.


Gadis kecil bermata bulat benng mirip papi Lana itu sudah berhasil mengikat dirinya. Dan akan membawanya serta di dalam masalah yang akan terjadi di dalam pernikahan keduanya nanti.


Aldo hanya bisa pasrah. Dan Kendra? Ia tidak bisa memaksa jika itu keinginan dari Ziana sendiri.


...****************...


Yok mampir kesini! 👇


__ADS_1


__ADS_2