Princess Pratama

Princess Pratama
Diculik Suami Sendiri


__ADS_3

Mana nanti tiap bab ada typo nya, othor revisi.


Hapyy readyng..


Satu jam setelah penculikan terjadi.


Seseorang di dalam kamar hotel di tepi pantai sana, kini sedang menatap sang istri dengan tangan bertopang di dagu.


Bibir itu terus menyunggingkan senyum manis pada makhluk Tuhan yang sedang terlelap itu.


"Ya Allah.. Cantiknya.. Jadi makin cinta deh!" celutuknya masih dengan bibir menyunggingkan senyum manis.


Ia tak henti-hentinya memandangi wajah cantik yang sedang terlelap itu.


Cup, Cup, Cup..


Ia mengecupi seluruh wajah sang istri hingga sang istri menggeliat dari tidurnya. Ia terkekeh. Tangan itu menyentuh pipi halus sang istri yang kini mulai sadar setelah satu jam berlalu.


"Udah bangun?" tanya nya masih dengan senyum manis tersungging di bibirnya.


"Euugghh.. Ssstt.. Pusingnya.." keluh sang istri sambil memijit pelipis dengan perlahan membuka kedua matanya.


Ia mengerjab dengan perlahan. Ia melihat ke sekeliling. Ruangan serba putih dengan tirai jendela berwarna putih kebiruan dan angin sepoi-sepoi meniup ke dalam kamar tersebut.


Deru ombak yang sangat jelas terdengar membuat wanita yang kini terpejam melenguh masih dengan mata terpejam. Ia terkekeh lagi.


Ia sangat gemas melihat sang istri seperti itu. Wajahnya kini begitu dekat dengannya. Tidak berjarak.


"Dimana ini?? Auuhh.. Ssstt.. Kenapa pusing gini sih? Aku udah pulang ya? Mami??" panggilnya pada mami Annisa yang entah ada dimana.


Ia terkekeh, "Masih pusing ya? Maaf.. Abang terlalu banyak memberikan obat itu di sapu tangan tadi," ucapnya sambir terkekeh kecil tetapi meringis.


Sang istri segera menoleh padanya.

__ADS_1


"Aaaaaaaa...." teriaknya yang membuat sang suami terkejut dan jatuh terjungkal hingga berguling ke bawah ranjang hingga terdengar suara benda jatuh yang lumayan kuat.


Sang istri tertegun melihat pria itu yang merupakan suaminya. Ia beringsut ke pinggir ranjang dan mengintip sang suami dari atas ranjang.


"Bang Kendra?? Beneran kamu bang Kendra??" tanya nya pada Kendra yang kini masih meringis menahan sakit di punggung dan juga kepalanya yang mendarat lebih dulu tadi.


Tak lama Tania terkekeh geli. Kendra merengut masam.


"Ssstt.. Aduuhh.. Kok teriak sih Hunny? Kan Abang jadi terkejut??" keluh Kendra pada Tania yang kini sedang meringis melihat Kendra yang juga meringis menahan sakit.


Tania terkekeh lagi, "Ya.. Maaf. Siapa suruh wajah Abang terlalu dekat dengan ku? Ya aku terkejutlah! Aku kira tadi Abang siapa!" jawabnya santai sambil mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjang.


Kendra berusaha mendudukkan dirinya di samping Tania dan langsung saja merebahkan kepalanya di pangkuan Tania.


Tania jelas terkejut. "Jangan begini Bang! Nggak baik.. Kamu itu akan menjadi suami adikku satu minggu lagi.." lirih Tania mendadak sendu.


Kendra mendongak padanya, ia mengelus pipi itu dengan lembut. "Abang masih suami kamu, Hunny. Belum menjadi suami Ziana adik sepupu kamu." Jelas Kendra yang memang benar adanya.


Kendra masih menatapnya dengan lekat. Tania menatap jauh ke jendela yang menunjukkan ombak yang bergulung-gulung di tepi pantai sana.


"Ini dimana Bang? Kok ada laut?" tanya Tania dengan gusar dan ingin bangkit.


Tetapi Kendra menahannya. "Lihat sekeliling kamu. Kita saat ini ada dimana? Hem?"


Tania segera melirik ke sekitar. Benar. Bukan kamarnya. Lantas ini di mana?


Tania menatap sejurus ke depan dimana ombak sedang bergulung-gulung dan menghantam batu karang.


"Kita di mana Bang?"


Kendra tersenyum, "Coba tebak? Kita ada dimana? Kamu nggak kenal tempat ini??" tanya Kendra sembari mengikuti Tania yang kini sedang berdiri di jendela kamar hotel itu.


Tania melirik sekitar hingga pandangan matanya tertuju pada seonggok batu putih di pinggir laut sana.

__ADS_1


"Pantai batu putih?"


"Hem.. Pantai batu putih. Kita sedang berada di hotelnya saat ini." Jawabnya sambil memeluk Tania dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kiri Tania yang kini surai hitammnya berkibar tertiup angin hingga menerpa wajah Kendra.


Pria tampan tetapi kurus itu, tersenyum dan sangat menikmati saat rambut lembut dan hitam milik Tania melambai ke wajahnya yang di terpa angin sepoi-sepoi.


Harum sekali.


Batin Kendra. Itulah yang sangat ia inginkan sedari berapa hari yang lalu. Kendra sangat menikmati semilir angin yang kini menerpa wajahnya.


"Abang kangen banget sama kamu, Hunny.. Sangat rindu.." ucapnya pada Tania yang kini mengurai pelukan itu dan berbalik menghadap Kendra.


"Kenapa?" tanya Tania pada Kendra yang kini masih terdiam melihat padanya.


"Kenapa Abang bawa aku kesini?" tanya nya lagi.


Kendra menatap lekat pada Tania. "Karena Abang ingin bersama kamu dan menghabiskan waktu bersama kamu," jawabnya yang memang benar apa adanya.


Tania tertawa sumbang. "Lalu, Ziana? Uwak Lana? Apakah mereka tidak marah padamu??"


Kendra menggeleng. "Nggak.. Uwak Nggak marah kok. Malahan Uwak yang nyaranin Abang supaya nyulik kamu dan dibawa ke hotel ini," celetuknya keceplosan.


Tania terkejut. "Di culik?? Abang culik aku??" tanya nya dengan wajah yang begitu terlihat terkejut.


"Jawab bang Kendra! Kamu nyulik aku??"


Kendra mengatupkan bibirnya dengan rapat tidak ingin menjawab pertanyaan Tania yang memang benar adanya.


Dia lah yang menculik istrinya sendiri.


Mati aku! Kenapa mulutku keceplosan sih? Ini mau gimana jawabnya sekarang coba? Apes dah1 Bisa ngamuk tania kalau tahu aku yang nyulik dia?? 'Kan nggak lucu, kalau nanti Tania ngomong sama papi kalau Ia diculik suami sendiri??


Hadeuuhh..

__ADS_1


Batin Kendra menatap datar pada Tania yang kini menatapnya masih dengan raut wajah terkejutnya.


__ADS_2