
Aldo menggerakkan kedua matanya yang begitu lengket. Susah sekali untuk terbuka. Aldo menggerakkan jari tangannya yang membuat Kendra terkejut sekaligus tersenyum haru.
Kendra menoleh pada Om Kenan yang kini tersenyum dan mengangguk padanya.
"Kamu sudah sadar, Al?" tanya Kendra dengan segera memegang jari tangan Aldo yang ikut memegang jarinya.
Aldo masih berusaha membuka mata yang begitu erat tertutup itu. Ia berusaha keras agar matanya cepat terbuka. Ia ingin berbicara, tetapi sulit.
Kerongkongannya terasa sakit saat ingin memanggil nama Kendra.
"B-bos.. A-air.." lirih Aldo terbata yang membuat Om Kenan segera mengambil air yang tersedia disana dan memberikannya kepada Aldo.
__ADS_1
Om Kenan membuka penutup hidung tabung oksigen itu dan memberikan minuman pada Aldo yang di dalam gelas itu sudah ia sediakan sedotan.
Aldo yang begitu haus menenggak habis air dalam gelas itu. Setelah selesai, Aldo menatap ke langit-langit ruangan.
Matanya terbuka dan terpejam lagi. Masih berusaha menyesuaikan keadaan dengan tubuhnya saat ini. Om Kenan segera menekan tombol yang terletak di ujung nakas. Kelang berapa menit, dokter yang bertugas mengurus Kendra pun datang.
Mereka segera memeriksa keadaan Aldo yang kini kembali memejamkan matanya. Dokter itu menghela napas lega.
"Alhamdulillah, Dokter Kenan. Pasien kini sudah sembuh dan dinyatakan sehat kembali. Tak ada satu kekurangan apapun. Semuanya bekerja dengan baik. Hanya saja, tubuhnya harus lebih banyak dilatih agar tidak kaku. Besok pagi, anda bisa kembali bergerak. Tetapi perlahan ya?" Ucapnya pada Om Kenan dan juga Aldo.
"Sama seperti anda dulu, Dokter! Bukankah anda dan istri juga sempat mengalami koma selama tiga bulan lamanya?" balas dokter Arman mengingat masa lalu tentang Om Kenan dan Tante Bella. Ada di cerita SANDIWARA CINTA. Mampir ye?
__ADS_1
Om Kenan mengangguk. "Anda benar! Koma bukanlah mati. Hanya saja kejadian seperti ini terjadi karena pasien mengalami suatu hal yang menyebabkan koma. Koma terjadi karena kerusakan salah satu bagian otak, baik sementara maupun permanen. Penyebab kerusakan otak ini sangat beragam, contohnya stroke, cedera berat di kepala, infeksi, atau tumor."
"Sementara pada saat saya dulu, kami berdua mengalami kecelakaan. Kepala kami berdua terbentur aspal yang begitu kuat hingga menyebbakan kami tidak sadarkan diri. Beruntungnya kami waktu itu, tidak terjadi pendarahan di otak. Hanya saja.." ucapan Om Kenan menggantung saat mengingat janin yang dikandung Tante Bella waktu itu harus pergi demi menyelamatkan nyawanya.
"Hanya saja apa, Om?" tanya Kendra yang begitu penasaran dengan kejadian waktu Om Kenan kecelakan dulunya.
Om Kenan tersenyum sendu. Kendra dapat melihat perubahan mimik wajahnya seketika berubah. Membuat Kendra menjadi tidak enak hati pada Om istrinya itu.
"Tak usah diceritakan kalau menyakitkan, Om!" larang Kendra yang dijawab gelengan kepala oleh Om Kenan smabil tersenyum padanya dan semua yang ada disana.
"Tak apa-apa , Ken. Sudah seharusnya kamu tahu apa yang menimpa Om dan tante kamu dulunya." Jawabnya sembari menghela napas berat mengingat kejadian itu. "Om dan Tante selamat. Tetapi janin yang dikandung oleh tante kamu waktu itu tidak selamat. Selama kami koma, janin kami tidak bisa bertahan. Ia keguguran. Kejadian ini sempat membuat shock tante kamu. Tetapi hanya sebentar saja. Setelah Om membujuknya, ia kembali tenang. Dan saat ini? Kami bahkan sudah memiliki tujuh orang anak! Sama seperti direktur Dimas! Kami bersaing memiliki banyak anak!" celutuknya sambil tertawa yang ditertawakan oleh mereka semua termasuk Aldo yang tersenyum tipis dengan mata terpejam.
__ADS_1
"Anda benar dokter Kenan! Anda dan Direktur Dimas, dua orang penting dirumah sakit ini, memiliki banyak keturunan. Jika dokter Dimas memiliki anak dua dari wanita pertamanya, ditambah dengan Ibu Direktur ada lima, maka Dokter sendiri memiki tujuh keturunan bersama dokter Bella! Hahaha.. Prestasi yang sangat dibanggakan!" kelakar dokter Arman yang ditertawakan oleh Kendra, Om Kenan dan Aldo.
"Apa saya mengganggu? Operasi Aldi berhasil, Bang!"