Princess Pratama

Princess Pratama
Sang pendonor


__ADS_3

Jika didalam ruangan Aldo, mereka semua sedang tertawa. Maka yang terjadi didepan ruangan operasi pun mengalami hal yang sama.


Baru saja Tante Bella keluar dan mengatakan jika putra sulung Fatma itu telah berhasil melakukan transplantasi jantung. Donor jantung yang ia dapatkan dari seseorang, cocok untuknya.


Kabar yang disampaikan oleh Tante Bella, membuat Fatma dan Tania merasa bahagia. Keduanya sangat bersyukur, jika putra Fatma itu akan dioperasi hari itu juga.


Walau baru permulaan, tetapi itu hal yang sangat membahagiakan untuk Fatma. Ia memeluk Tania sambil menangis haru kalau putranya akan sembuh. Karena dokter mengatakan jika operasi ini akna sukses 85%.


Fatma sangat bersyukur karena jantung bayi seseorang itu cocok untuk putranya. Fatma ingin mengucapkan terimakasih pada orang itu. Dokter Bella pun menunjukkan dimana keberadaan orangtua wali pemilik jantung yang didonorkan untuk putra sulung Fatma itu.


Tiba disalah satu ruangan yang bertuliskan Kamar Jenazah, Fatma mengerutkan dahinya.


"Kenapa kita kesini. Dokter?" tanya Fatma pada tante Bella yang dijawab dengan senyuman olehnya.

__ADS_1


Ceklek.


Pintu ruangan itu terbuka. Dan memperlihatkan seorang ibu muda tersenyum pada Fatma dan Tania.


Fatma tertegun melihatnya. "Kamu..?"


Wanita itu tersenyum. "Iya Kak. Ini aku. Adik sepupu kamu yang tinggal di Jakarta Selatan. Aku kaget saat melihat data anak kamu yang membutuhkan donor jantung. Makanya aku kesini untuk melihat secara langsung. Semoga jantung putraku cocok dan bertahan ditubuh putramu, ya Kak?" Ucap wanita itu pada Fatma yang kini tertegun melihatnya.


"Darimana kamu tahu jika itu putraku? Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu 'kan Puri?" Bukannya menjawab, Fatma malah menuduh Puri yang kini tersenyum padanya dan menggeleng.


Puri menyentuh tangan Fatma yang ditepis oleh istri Aldo itu.


"Kak.." tegur Tania pada Fatma.

__ADS_1


"Biar aja, Nia! Asal kamu tahu, gara-gara dia membocorkan rahasia persembunyian Bang Aldo dna aku, kami berdua sampai dikejar kesini oleh Paman suami kamu! Jika buakn karenanya, maka Bang Aldo tidak akan kecelakaan!" tukas Fatma begitu marah pada Puri yang kini emnunduk sendu.


Tania yang melihat Puri pun merasa kasihan. "Jangan menyalahkannya, Kak. Semua ini sudah takdir! Jika saja Bang Aldo tidak kecelakaan, apa mungkin kita bisa bertemu disini? Dan putramu hari ini jadi dioperasi?"


Deg!


Ucapan Tania membuat Fatma tertegun sejenak. Ia menatap pada Puri yang menunjukkan raut wajah bersalahnya.


"Maafkan aku, Kak. Aku terpaksa melakukannya. Karena waktu itu, ia mengancam kami akan membunuh salah satu anakku. Aku terpaksa mengatakan yang sebenarnya pada beliau. Tetapi.. Putraku tetap pergi untuk selamanya karena mengalami serangan jantung mendadak akibat terkejut saat Tuan Kevan mengarahkan peluru kearah ku yang terkena pada kaki ku. Kakiku mati rasa setelah ditembak olehnya. Dan putraku? Hiks.. Putraku meninggal dunia setelah dua bulan dirawat disini."


"Hiks.. Walau dia sudah menanggung biaya pengobatan putraku dan juga aku, tetap saja putraku pergi. Hiks.. Maafkan aku, Kak. Aku terpaksa melakukannya. Aku bersalah padamu. Makanya ketika kemarin aku mendengar ada yang sedang membutuhkan donor jantung yang ternyata itu putra kamu, aku bersedia memberikan jantung putraku pada putramu. Sebagai permintaan maafku padamu, Kak. Maafkan aku. Mungkin kata maaf saja tidak cukup untukku. Tetapi aku akan terus berusaha meminta maaf padamu. Aku ikhlas memberikan jantung putraku padamu. Mungkin, inilah takdirnya. Ia hanya cukup disini saja umurnya. Aku pasrah. Tapi kak. Terimalah jantung anakku Fadli untuk putramu Aldi. Karena inilah takdirnya." Ucap Puri yang diangguki oleh suaminya.


"Benar, Kak. Inilah takdir putra kami. Ia sengaja dilahirkan untuk putramu. Penolong putramu. Jadi.. Terimalah jantung anakku sebagai permintaan maaf kami berdua. Kami benar-benar menyesal dan minta maaf, Kak." Lirih suami Puri yang dijawab dengan helaan napas berat oleh Fatma.

__ADS_1


Fatma tidak bisa berlarut dalam rasa amarah dan dendam. Itu tidaklah baik. Dengan berat hati, ia berdamai dengan adik sepupunya itu.


Jika bukan karena adik sepupunya itu yang mengatakan pada Paman Kevan dimana keberadaan Aldo dua bulan yang lalu, mungkin saat ini ia belum lagi bertemu Tania dan Kendra.


__ADS_2