
"Maafkan abang, Zia. Bukan maksud abang mendesakmu. Tetapi ini harus kita lakukan. Abang harus melepasmu demi kehidupanmu kelak. Abang tidak bisa menjamin masa depanmu. Menikah denganku merupakan musibah untukmu. Abang harus melepasmu sebelum waktunya terlambat. Dengarkan abang Ziana, mulai malam ini, detik ini, bulan ini. Dan saat ini, kamu bukanlah istri abang lagi. Abang menjatuhkan talak padamu."
Ddduuaarr!!
Ziana terhenyak mendengar ucapan Kendra baru saja. Ucapan yang sangat menakutkan untuk ia dengar tetapi terdengar jelas ditelinganya.
Mata Ziana berkaca-kaca menatap Kendra. Seluruh tubuhnya serasa lemas tak bertulang akibat ucapan Kendra. Jikalau saja ucapan itu tidak berpengaruh padanya, tidak apa-apa. Tapi ini?
Ziana menangis. "Secepat itukah kamu membuangku bang Kendra? Segitu tidak inginkah abang bersamaku? Apakah cinta dihati semuanya sudah untuk kak Tania? Sudah tidak ada tempat lagi untukku?" tanya Ziana dengan bibir bergetar.
Kendra menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Maafkan abang, Zia. Abang melakukan ini untukmu. Untuk masa depanmu. Jika kamu bertahan denganku dalam pernikahan ini, yang ada kamu akan terluka." Kendra menunduk menahan rasa sesak dan juga matanya kini memanas karena ucapannya untuk Ziana.
"Tapi, tapi, aku tidak mau berpisah denganmu, bang Kendra. Tak masalah jadi yang kedua. Aku rela, aku ikhlas. Asalkan itu bersamamu," lirih Ziana kini bersimpuh dihadapan Kendra.
Kendra bergeming. Ia tidak akan menyentuh Ziana lagi saat kata talak sudah terucap dari mulutnya untuk Ziana.
"Maafkan abang, Zia.. Maafkan kelakuanku ini. Aku tidak bisa membawamu serta dalam perahuku. Kamu bukan ratuku. Kamu ratu orang lain. Sekuat apa aku menahanmu, suatu saat kamu pasti akan pergi dariku. Lagipula, aku tidak bisa membagi cinta ini untukmu. Cintaku sepenuhnya milik Tania, kakak sepupumu. Maafkan aku, Zia.. Maafkan lelaki biasa yang tidak bisa berbagi ini," lirih Kendra dengan mata yang sudah menganak sungai.
Ziana semakin tersedu dikaki Kendra. Ingin ia menyentuh kaki lelaki itu, tetapi itu tidak mungkin. Kendra bukanlah suaminya lagi.
Keduanya menangis bersama karena terluka dan rasa bersalah. Kendra begitu merasa bersalah terpaksa melepas Ziana karena hatinya yang tidak mau berbagi. Sedangkan Ziana, ia terluka karena Kendra melepaskannya.
__ADS_1
Padahal adik sepupu Tania itu sudah mencintai Kendra. Suami kakak sepupunya. Jangan salahkan Ziana yang akhirnya jatuh cinta dengan suami kakaknya sendiri.
Cukup lama keduanya menangis. Dirasa cukup, Ziana bangkit dan tersenyum melihat Kendra yang juga menatapnya dengan raut wajah terkejut karena mantan istrinya itu tersenyum padanya.
"Baik, jika itu sudah menjadi keputusan Abang. Semoga Abang bahagia setelah melepasku. Aku doakan semoga kakak cepat kembali dan berkumpul kembali denganmu. Aku hanya memohon padamu, Bang. Biarkan ini menjadi rahasa kita berdua saja. Biarkan papi dan mami tidak tahu akan perpisahan kita. Aku tidak mau mereka merasa bersalah karena kamu sudah melepaskanku."
Kendra mengangguk.
"Dan ya, kita akan tetap tidur dalam satu kamar yang sama dihadapan kedua orangtua kita. Tetapi, ketika mereka sudah terlelap aku akan pindah ke kamar kedua adikku. Tolong, pahami posisiku bang Kendra. Cukup kita yang tahu. Jangan buat kedua orangtuaku merasa bersalah karena hal ini," pinta Ziana dengan wajah sendunya.
"Tentu, Dek. Abang akan merahasiakan hal ini dari mereka. Cukup kita berdua yang tahu. Tapi, kamu jangan pernah anggap abang orang lain. Abang tetap abang kamu. Suami kakak kamu. Maafkan abang yang terpaksa melepasmu. Semua ini demi kebaikanmu. Maafkan abang yang membawa kamu dalam masalah keluarga abang," ucap Kendra yang diangguki oleh Ziana dengan tersenyum tulus padanya.
"Tentu saja, Bang. Aku sudah memaafkanmu. Semoga ke depan kelak, aku juga mendapatkan suami yang sama persis sepertimu dan akhlaknya baik sama sepertimu. Karena melupakanmu, hal tersulit bagiku. Eits! Jangan protes! Ini doa dari seorang wanita terluka sepertiku! Semoga Allah mendengarnya. Dan aku berharap, kalau kamu memiliki adik bang Kendra!"
Kendra terkesiap mendengar ucapan Ziana tentang adik. Ia menarik senyum kaku diwajahnya saat melihat Tania senyum padanya.
"Tentu, semoga kamu berjodoh dengannya. Mari kita hidup berdampingan sebagai adik ipar dan abang ipar," ujar Kendra yang diangguki oleh Ziana dengan tatapan tulusnya.
Kendra mengingat semua itu dengan jelas. Ia terkejut saat El menepuk lembut bahunya. Saat ini, mereka sedang menyelesaikan masalah pernikahan Kendra yang sebenarnya sudah selesai sejak tiga tahun yang lalu.
Kendra Tersenyum melihat El dan Uwak Lana.
__ADS_1
"Apa Uwak tidak ingat sesuatu tentang ucapanku tiga tahun lalu?" tanya Kendra yang membuat dahi Uwak Lana mengernyit bingung.
"Maksud kamu? Kamu yang berusaha membujuk Uwak untuk menikahi Ziana kembali, padahal saat itu kamu masih dalam keadaan sakit jiwa?" balas Uwak Lana yang dibalas dengan kekehan kecil keluar dari mulut Kendra.
"Yakin, jika itu aku Wak? Tidakkah Uwak lihat perbedaannya?" pancing Kendra yang semakin membuat Uwak Lana bingng. Apalagi papi Tama.
Sementara Aldo terkekeh sembari melirik El yang kini berusaha membuang wajahnya ke arah lain. Kendra terkekeh lagi.
"Coba di ingat dulu. Aku rasa, daya ingat Uwak tidaklah sekecil itu hingga melupakan kejadian penting setahun yang lalu saat dirumah sakit Jaya Medistra?"
Deg!
Deg!
Jantung Uwak Lana berdegup kencang. Ia melirik El yang kini pura-pura tidak tahu akan kejadian itu.
"Jangan bilag jika itu kamu, El?!"
Deg!
Buahahaha...
__ADS_1
...****************...
Dua aje ye? Besok othor ganti dengan banyak bab. 🙏