Princess Pratama

Princess Pratama
Berakibat fatal


__ADS_3

Dokter Umar membalut kembali luka Kendra. Setelah selesai, ia kembali melihat mereka berempat yang kini tertegun dan terpaku melihat keadaan Kendra yang begitu menyedihkan.


"Apa yang aku bilang tadi kalian tidak mendengarnya?"


Semuanya diam. Uwak Maura yang tadinya terisak memikirkan Ziana kini berhenti menangis dan melihat pada Dokter Umar yang kini menatap datar pada mereka berempat.


"Sudah aku katakan! Jangan membuat Kendra stres dan tertekan lagi. Lihatlah sekarang luka di kepalanya!" tunjuknya pada kepala Kendra yang kembali ia jahit dan diperban ulang.


"Aku udah bilang sama kalian. Jangan katakan tentang apapun tentang Tania atau apapun itu! Semua itu bisa merusak saraf Kendra nantinya! Dan saat ini? Apa kalian lihat wajahnya yang begitu pucat? Masih beruntung pembuluh darah dikepalanya tidak pecah dan menyebabkan ia mati! Jika tidak, kalian akan menyesal selamanya!"


Deg!


Ke empat orang itu tergugu. Dokter Umar menghela napas kasar. Ia terpaksa mengatakan hal ini. Agar membuat orang yang masih waras ini bisa berpikir kemungkinan-kemungkinan yang akan Kendra dapatkan dari musuhnya.

__ADS_1


"Saat ini tubuhnya. Besok hatinya. Lusa? Pikirannya! Yang langsung membuat jiwanya tertekan dan menjadi gila beneran! Kalian mau itu?!" seru dokter Umar sedikit meninggikan intonasi suaranya yang membuat Ummi Mutia, Uwak Lana dan Uwak Maura memejamkan matanya.


"Maafkan kami yang lalai, Dokter. Kami pun baru sadar tadi. Jika bukan karena putri bungsu bang Lana, mungkin saat ini kami belum lagi sadarkan diri. Kami tidak tahu dengan apa yang terjadi. Yang jelas, saat kami menghirup aromaterapi yang berasal dari AC di setiap ruangan rumah ini. Kami tiba-tiba saja mengantuk dan tertidur. Pada saat kami dibangunkan pun, kami sulit untuk bangun. Kami harus diberikan ramuan khusus oleh Fanya. Baru setelahnya kami bangun." Ujar Ummi Mutia yang dijawab dengan dengkusan kasar oleh dokter Umar.


"Aku tidak tahu tentang itu. Yang aku herannya, kenapa kalian lepas tangan dan memilih tidur di kamar masing-masing di saat kondisi Kendra yang belum sembuh benar? Tidakkah kalian tahu, jika sedikit saja Kendra kembali tertekan, maka akan fatal akibatnya? Jika pun kalian mencari obatnya itu tidak mungkin terjadi. Karena spesialis kejiwaan di rumah sakit Ira Sarasvati kini sudah tiada! Paham?"


Dduuaarr!


"A-apa maksud Dokter? Siapa dokter yang sudah mati itu? Tania kami maksud Dokter?" tanya Uwak Maura dengan jantung yang bertalu-talu.


Ia sengaja berdiam diri. Dan ingin mendengar apa yang para orang tua itu bahas. Karena sekilas ia tadi sempat mendengar tentang Ziana dan juga Tania, istrinya.


Dokter Umar menatap mereka semua yang kini menatapnya dengan raut wajah yang tak terbaca dan juga tersirat akan khawatir.

__ADS_1


"Ya, dokter terbaik dirumah sakit Ira Sarasvati kini sudah tiada. Dan kalian tahu itu siapa?"


"Siapa Dokter?" tanya Uwak Maura


"Tania. Sritania Puteri Pratama!"


Deg!


"Istri pertama Kendra yang kini sudah tiada.."


Ddduuaaar..


Deg, deg, deg, deg..

__ADS_1


Tangan Kendra mengepal erat dan juga wajahnya memerah menahan amarah karena mereka mengatakan jika Tania istrinya sudah tiada. Padahal menurutnya belum lagi meninggal.


"Tidakkk!! Taniaku masih hidup! Kamu salah Dokter Umar!! Tania ku masih hidup hingga saat ini! Ziana pun demikian! Keduanya belum mati! Keduanya masih baik-baik saja! Aku bisa merasakan deru napas keduanya! Bagaimana dokter mengatakan jika Taniaku kini sudah tiada? Huh?" sentak Kendra yang membuat semua orang terkejut karena mendengar suaranya. Yang ternyata ia mendengar semua ucapan mereka.


__ADS_2