Princess Pratama

Princess Pratama
Ikhlas dan meridhoimu


__ADS_3

Mami Annisa semakin kuat menggedor kamar Tania. Karena suara si kembar semakin histeris didalam kamar itu.


"Kita dobrak, Pi!" katanya pada papi Tama dengan wajah seriusnya.


Sementara papi Tama menggeleng tidak setuju. "Jangan! Kita tunggu aja mereka dulu. Papi yakin, pasti tidak terjadi sesuatu apapun, kok. Ya?" bujuknya pada mami Annisa yang semakin tidak karuan saat mendengar suara cucu kembarnya itu semakin histeris saja.


Sementara di dalam kamar Tania, keduanya kini sedang terkekeh. Tania menyembunyikan wajahnya di bahu Kendra. Sedang Kendra di dada Tania.


Yang membuat kedua anaknya itu jadi salah paham pada abinya.


"Huaaa.. Ndak! Abi ndak boleh ambil teneen tami! Abi ndak boleh tucup itu!" teriak si bungsu Zayden yang membuat Kendra semakin tertawa hingga kepalanya mendongak keatas.


Ia tidak menyangka jika akan ketahuan kedua putranya saat mereka sedang polos-polosnya bersama Tania.


Tania yang kasihan pada kedua putranya pun segera meraup pakiannya. Kendra pun demikian. Kendra lebih dulu memakaikan baju pada Tania.


Setelahnya dirinya sendiri. Keduanya pun bangkit dan menggendong si kembar. Kendra menggendong Zayn yang meminta digendong olehnya.


Sementara Tania menggendong si bungsu yang tanganya langsung menuju pabrik susu nya itu. Tania dan Kendra tertawa bersama saat menyadarai kelakuan mereka berdua baru saja.


Mami Annisa yang mendengar suara tertawa keduanya pun memandang papi Tama yang kini terkekeh melihat wajah bingung mami Annisa.


Dirasa paham, kedua paruh baya beda usia itu pun tertawa bersama.

__ADS_1


"Akhirnya putrimu tahu rasanya seperti apa memiliki anak kembar? Dulu aja sering ngerusuhin maminya?" Ucap mami Annisa yang ditertawakan oleh papi Tama padanya.


"Mereka baru tahu, jika ingin bermesraan itu harus punya tempat tersendiri. Seperti kita dulu!"


Plak!


Buahahaha..


Papi Tama tertawa saat melihat wajah mami Annisa merah merona mengingat kejadian masa lalu saat ingin bermesraan selalu terganggu dengan si kembar Danis dan Tania yang waktu itu sudah besar.


Tania dan Kendra saling pandang dan menuju pintu kamar mereka. Tania memutar kunci dan membukanya.


Terlihat kedua orangtuanya sedang tertawa dengan mami Annisa kini terus menepuk dada papinya itu.


"Ehehehe.. Maaf mi, pi. Kami ganggu kalian ya?" kata Tania merasa malu pada kedua orangtuanya.


Mami Annisa mengurai pelukannya dan mengambil si kembar dari mereka berdua.


"Ayo, kalian sama Oma dan Opa dulu. Masih ngantuk kan?" tanya mami Annisa pada si kembar yang diangguki oleh keduanya masih dengan sesegukan.


Kendra pun tersenyum kikuk pada kedua mertuanya. Dengan hanya menggunakan sarung dan juga baju kaos berwarna abu-abu, ia pun ikut menyulurkan si sulung pada papi Tama yang disambut olehnya dengan senang.


Kedua cucunya itu segera memeluk erat tubuh Opa dan Omanya karena masih mengantuk.

__ADS_1


"Masih pukul dua. Tidur aja lagi. Mami sama papi sholat tahajud baru saja. Makanya tahu kalau sikembar menangis." Ucap mami Annisa yang diangguki oleh Kendra dan Tania.


Kedua paruh baya itu pun berlalu dari kamar Tania. Kendra yang masih mengantuk pun kembali berbaring dikasur empuk milik Tania.


Tania tersenyum melihatnya. Ia pun mengikuti Kendra yang kini sudah berbaring dikasur miliknya.


Kendra segera memeluk erat tubuh Tania. "Abang sudah meridhoimu, Hunny. Abang ikhlas. Mungkin malam kemarin itu, hanya perasaan abang saja yang sedikit sensian?" katanya pada Tania yang kini menatap lekat padanya.


Kendra tersenyum. "Kenapa diam? Bukankah kemarin malam dan tadi pagi kamu meminta abang untuk meridhoimu? Segala perbuatanmu?"


Tania mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Jangan menangis.. Abang tidak marah padamu. Tidak juga meridhoimu. Abang sadar. Diri ini masihlah sakit. Tetapi sudah meminta hakku untuk dipenuhi olehmu. Abang tidak mau berlama-lama marah padamu. Lagian, Abang tidak bisa marah padamu lama-lama. Abang sangat menyayangimu. Abang sangat mencintaimu, Hunny. Tak ada sedikit pun dihatiku untuk marah dan membencimu.


Malam kemarin itu, Abang tersinggung saja sedikit. Tersinggung lantaran tubuh ini tidak bisa seperti dulu saat pertama kali menyentuhmu," lirih Kendra yang dikecup lembut seluruh wajahnya oleh Tania.


Tania terisak sembari mengecup wajah Kendra. Kendra memeluk tubuh chubby Tania.


"Jangan menangis. Tangisanmu kelemahanku. Senyumanmu kebahagiaan untukku. Setiap canda tawamu, kesalmu, marahmu, merupakan penyemangat untukku. Abang suka membuatmu kesal dan marah. Karena dengan marah dan kesalmu itu kita bisa kembali bersatu. Seperti sekarang ini. Sudah.. Jangan menangis lagi. Lihat aja si kembar tadi. Mereka menuduh abinya ingin mengambil pabrik susu mereka. Padahal sebelum mereka, abinya dulu yang menemukan pabrik susu itu!" Kendra tertawa lepas saat Tania menepuk lembut dadanya yang kurus.


Tania pun ikut terkekeh dan membenarkan ucapan Kendra yang memang benar adanya.


...****************...


🤣🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2