Princess Pratama

Princess Pratama
Mencari gara-gara


__ADS_3

Jantung Kendra berdetak tidak karuan saat mendengar ucapan Pamannya itu yang pura-pura ia panggil dengan Abi nya. Padahal bukan.


Ia menyeringai melihat keponakannya itu. Paman Kevan mendekati Kendra yang kini menatapnya dengan datar. Bisa terlihat dari tatapan matanya.


"Kenapa? Kamu terkejut melihat kedatanganku kesini Kendra? Kamu sudah lupa dengan abi mu ini, hem?" lanjutnya lagi pada Kendra yang kini menatap dingin padanya.


Kendra menghela napas panjang disebalik tutup mulutnya itu.


"Kenapa Paman bisa disini?" Katanya dengan wajah datarnya. "Bukankah Aldo sudah menyediakan tempat yang nyaman untuk kau tinggali?" sindir Kendra padanya langsung saja pada intinya yang kini terkekeh sinis pada Kendra.


"Ternyata kamu sudah menyadari jika aku ini Paman mu? Bukan abi mu lagi? Hem?" Ucapnya pada Kendra sembari mendekati bangkarnya.


Kendra menatap datar padanya. "Aku sudah tahu sejak dua tahun yang lalu. Saat anda datang dan mencoba menghasutku dengan mengatakan jika Tania bukanlah jodoh yang baik untukku!"


Paman Kevan tertawa. "Kamu masih ingat saja ternyata! Baguslah kalau begitu. Jadi.. Aku tidak harus bersusah payah untuk mengingatkanmu lagi!" balasnya masih dengan terkekeh sinis.


Ia mendekati Ziana yang kini terlelap begitu pulas. Wajah polosnya begitu terlihat ayu. Paman Kevan menyentuh pipi halus Ziana yang membuat Kendra marah padanya.


"Jangan sentuh Ziana dengan tangan kotormu, Paman!" seru Kendra sembari ingin turun dari bangkarnya.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu tidak menyukai aku menyentuh istri kecilmu ini? Hem? Apakah dia snagat nikmat?" balasnya dengan tangan semakin masuk ke dalam baju Ziana yang sedikit terbuka itu.


Ziana yang tidak sadar, tidak tahu apapun jika tubuhnya kini dilecehkan oleh Paman Kevan yang disangka Abi Kevin itu.


"Berhenti Paman!" seru Kendra dan menepis tangan Pamannya itu.


Yang membuat pemuda paruh baya sebaya papi Tama itu semakin terkekeh sinis melihat Kendra menutupi tubuh Ziana yang terbuka akibat ulahnya.


"Kenapa kamu begitu menyayangi wanita ini Ken? Seharusnya yang paling kamu sayangi itu, Tania. Istri kamu yang sudah alamarhum!"


Deg!


"Jangan menghina kakek ku, Paman! Tidakkah kamu sadar? Jika Kakekku itu merupakan ayahmu? Ayah kandungmu?" katanya pada Paman Kevan yang kini berhenti tertawa dan melihat pada Kendra.


Tangan Kendra bergerak cepat menutup hidung Ziana dengan handuk basah yang berada di tangan kirinya. Sengaja ia lakukan itu, agar Ziana sadar.


Ia ingin Ziana pergi dari kamar itu tanpa melihat pertikaian mereka berdua yang membuat Ziana shock nantinya.


"Ya, aku tahu. Jika tua bangka sialan itu adalah ayahku. Ayah kandungku! Tetapi apa kamu tahu Ken? Karena tua bangka sialan itulah ibu mu menikahi saudara kembarku! Wanita yang sangat aku cintai hingga saat ini! Jika bukan karena nya yang menikahkan ibumu dan juga abimu. Maka saat ini, kamu adalah putra ku! Bukan putra saudara kembar sialanku yang cacat itu! Hahahaha.."

__ADS_1


Ddduuaaarrr!!


Kendra dna Ziana tersentak mendegarnya. "Apa katamu? Dimana kau sembunyikan Abi ku? Abi Kevin? Huh?"


Ziana memegang celana pasien Kendra. Ia memegang erat celana bahan itu. Yang membuat Kendra tahu jika Ziana sudah sadar kembali. Dirinya sednag meradang saat ini karena ucapan Pmaan Kevan yang baru saja menyulut emosinya.


"Kenapa kau begitu jahat padaku, Paman? Apa yang kau inginkan sebenarnya? Kau ingin harta peninggalan kakek? Baik! Akan aku berikan! Tetapi menjauhlah dariku dan juga keluargaku! Jangan mencari gara-gara dengan kehadiranmu disini! Pergi!" Usir Kendra yang membuat Paman Kevan tertawa lagi.


"Tidak semudah itu Ken.. Kamu tidak bisa mengusirku begitu saja dari rumah ini. Rumah mertua yang baru akau ketahui jika cinta pertama Mutia, Ummi kamu, wanita yang sangat aku cintai merupakan jalan bagiku untuk bisa balas dendam padanya dan juga padamu!"


Deg!


"Aku tidak akan pergi, sebelum menunjukkan sesuatu padamu! Kamu ingin lihat? Boleh, tapi.. Ada syaratnya!"


Deg!


Tubuh Kendra menegang. Begitupun dengan Ziana. "Apa syaratanya? Cepat katakan! Sebelum semua keluargaku bangun!" seru Kendra dengan rahang mengeras melihat Pman nya itu.


"Hahahaha.. Mereka tidak akan bangun Ken! Mereka sudah terlelap sama seperti istri kecilmu itu!" tunjuknya pada Ziana yng kini masih memejamkan matanya yang tidak ia tahu jika sudah sadar dari pengaruh obat tidur yang sengaja ia selipkan di salah satu tempat yang langsung menuju ke kamar Zinana dna juga seluruh ruangan rumah Uwak Lana.

__ADS_1


__ADS_2