Princess Pratama

Princess Pratama
Kutukan itu berlaku


__ADS_3

Tania terkejut mendengar kata kutukan dari mami Annisa untuk Kendra.


"Kutukan? Kutukan apa yang Abang bicarakan? Kapan mami aku mengutuk Abang?" tanya Tania pada Kendra yang kini menatapnya dengan sendu.


Kendra menerawang jauh saat mengingat ucapan mami Annisa dulu setelah Tania berlalu menuju ke belakang rumah mereka dengan hati yang terluka akibat ulahnya.


"Puas? Puas sudah melukai hati anakku hingga berulang kali? Kenapa kalian harus datang disaat dirinya sudah bisa menerima? Sekarang? Bisa tidak kalian menyembuhkan luka hatinya yang sudah sembuh kembali menganga? Kenapa kalian harus datang disaat kabar pernikahan menantu ku? Apakah kamu sengaja menunjukkan kepada putriku bahwa putrimu lebih unggul begitu?" katanya pada Uwak Lana yang kini menatap datar padanya.


"Jika hanya sebuah janji, semua itu bisa selesai dengan di ikhlaskan. Tidak masalah. Tetapi kayaknya tidak. Kamu dan Mutia, sengaja ingin membuat anak ku terluka hingga sulit untuk bangkit lagi.


Dan untuk kamu Kendra. Jangan menyiksa putri saya dengan cara kamu berbagi! Satu aja tidak akan habis, malah kamu ingin tambah lagi! Serakah kamu!" Ketus mami Annisa pada Kendra yang kini terkesiap mendengar ucapannya.


"Nggak gitu Mi.. Sebenarnya-,"


"Nggak usah kamu jelaskan kepada saya. Bagi saya apa yang terlihat itulah faktanya! Kamu menikahi putri abang ku karena ingin menyelematakan perusahaan bukan?"


Kendra mengangguk dengan wajah sendu. "Maka nikahilah dia! Tinggalkan putri saya! Jangan pernah kamu melihatnya lagi! Jatuhkan talak padanya! Saya tidak perlu berbasa basi lagi dengan mu. Benar kata Tania. Kamu serakah dan egois!"


Deg!


Kendra memejamkan kedua matanya. Ziana menggeleng. "Nggak gitu mami.. Abang nggak gitu!" kilahnya saat mami Annisa menuduh Kendra dengan yang tidak-tidak.

__ADS_1


Mami Annisa terkekeh sumbang. "Tak perlu kamu membelanya! Kamu pun sama dengannya! Umurmu saja yang kecil, tetapi mami tahu jika kamu bisa berpikir dengan baik. Kamu bijak dalam menyikapi masalah. Tetapi tidak dengan kali ini! Kamu salah Ziana!"


"Nggak Mi.. Adek nggak gitu.. Hiks.." isak Ziana yang kini di peluk erat oleh Uwak Lana.


"Pulanglah! Hubungan mu dan putri saya sudah selesai Kendra! Antara kamu dan putri saya tidak ada hubungan lagi. Selamat berbahagia dengan pernikahan rahasiamu yang baru ini. Semoga perusahaan kamu semakin maju dan bukan semakin bangkrut! Tetapi melihat kelakuan mu seperti ini, tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti perusahaan kamu akan hancur dan kamu akan gila karena ketika kamu menyadari jika Tania tidak ada disampingmu, semuanya sudah terlambat! Kamu akan hancur Kendra!"


Ddduuaaarr!


"Kamu akan gila! Seperti yang selama ini Ummi kamu katakan!"


Ddduuaarr!!


Seketika susana di dalam ruangan itu sunyi senyap dalam seketika. Ruangan itu mendadak mencekam saat melihat warna gelap ke unguan keluar dari tubuh Mami Annisa menguar ke udara.


Sekilas ingatan itu terlintas di benaknya. Kendra menghela napas sesak. "Mami benar, Hunny.. abang egois. Sekiranya dulu abang tidak jadi menikahi Ziana, pastilah tidak akan terjadi seperti ini. Tetapi apa yang bisa abang perbuat waktu itu?


Abang hanya bisa menuruti perintah Ummi yang memaksa abang menikahi Ziana atas desakan Paman Kevan yang selama ini menyamar menjadi abi Kevin."


Deg!


"Apa? Abi Kevin ada dua?" tanya Tania pada Kendra yang dijawab dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Bukan dua, Hunny. Tapi mereka kembar." Jawab Kendra yang lagi dan lagi membuat Tania terkejut.


"Kembar? Kok bisa?" Pekik Tania dengan degupan jantung yang bertalu-talu saking terkejutnya.


"Ya bisa lah, Hunny. Abang aja yang nggak kembar. Tapi kamu?" Jawab Kendra sekaligus bertanya pada Tania.


"Iya sih. Tapi tentang kutukan itu?" Ucap Tania mengiyakan.


Kendra, lagi dan lagi menghela napas berat. "Kutukan itu kutukan yang mami Annisa ucapkan saat abang terakhir kali bertemu denganmu. Dan jawabanmu waktu itu tetap sama. Bahwa kamu menolak untuk dimadu dengan adik sepupumu. Masih ingat?" Kendra menatap lekat pada bola mata Tania yang menatapnya dengan kosong.


Masih teringat jelas olehnya. Setelah mengatakan ketidak setujuannya dimadu dengan Ziana, Tania langsung pergi ke belakang dan meninggalkan Kendra bersama kedua orangtuanya kala itu.


Tania menatap sendu pada Kendra yang kini tersenyum lirih padanya. Mata Tania kembali mengembun.


"Maaf.." lirih Tania sembari memegang kedua tangan Kendra dan mencium tangan itu dengan air mata berlinangan.


Kendra melepaskan tangannya dari tangan Tania dan memeluk tubuh chubby yang bergetar itu. "Sudah.. Jangan menangis. Jangan dipikirkan tentang kutukan itu. Kutukan itu memang pantas untuk abang dapatkan. Mami wajar berbicara seperti itu pada abang. Karena abang waktu itu salah. Orangtua mana yang sanggup melihat anak nya terluka karena pemuda asing seperti abang?


Mereka sangat menyayangimu. Makanya membela kamu mati-matian. Jangan marah pada mereka. Ya? Mereka orang baik kok. Abang yang salah, maka mami Annisa berkata demikian." Ujar Kendra yang semakin membuat Tania merasakan sakit yang tiada tara diulu hatinya.


"Semua itu sudah seharusnya abang dapatkan. Ini hukuman untuk abang. Tapi tak apa. Abang ikhlas menerimanya karena memang abang bersalah. Sudah.. Jangan menangis lagi. Hem?" Lanjut Kendra yang diangguki oleh Tania masih didalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2