
Seruan suara Tania yang melengking tinggi membuat pengujung tenda Lontong itu terkejut dan menatap bersamaan pada Tania yang kini menatap garang pada Fatma.
Sementara Fatma menunjukkan wajah sendunya untuk mencari simpati para pengunjung tenda lontong itu. Dan juga..
Pemilik tenda lontong itu menatap geram pada wanita yang kini berada didepan pelanggannya itu. Entah kenapa, ia merasa kesal pada Fatma. Dan malah kasihan melihat Kendra serta Tania. Seakan Tania dan Kendra lah yang saat ini sedang tertekan.
Firasatnya sebagai seorang ibu tidaklah mungkin salah. Sesekali ia mengencang suara piring ia padukan dengan sendok hingga terdengar suara dentingan yang begitu membuat telinga bising saat mendengarnya.
Tetapi kejadian itu tidak menyurutkan ketiga anak muda yang kini saling bersiteru karena salah satu wanita itu memaksa suami wanita lain untuk menikahinya.
Lucu bukan?
Tetapi itulah yang terjadi didalam tenda lontong milik Mbok Iyem itu. Semua mata pengunjung menatap aneh pada mereka bertiga.
__ADS_1
Tetapi Tania tidak peduli. Ia semakin menatap tajam pada Fatma yang kini menatap Tania dengan wajah memelasnya berharap pengunjung disana mendukungnya dan juga Tania sendiri.
"Jaga batasan kamu Kak Fatma! Aku tidak akan mengizinkan suamiku untuk menikahimu! Baru bertemu saja kamu sudah membuat kepala suami sakit lagi! Bagaimana kalau dia menikah denganmu?! Apakah kamu akan membunuhnya secara perlahan begitu?!" seru Tania dengan suara yang semakin naik satu oktaf.
Kendra kembali memegang erat tangan Tania. Tania yang tahu segera memeluk Kendra hingga wajahnya langsung tertuju pada ceruk leher yang selalu membuatnya nyaman setiap kali ia mencium bau harum tubuh Tania.
Kendra merasa nyaman dan begitu tenang. Apalagi usapan lembut yang Tania berikan dipunggung Kendra. Membuat rasa sakit dikepala Kendra berangsur membaik walau masih berdenyut.
Jantung Tania masih berdetak dengan kencang dengan napas tidak beraturan. Ia masih menatap tajam dan marah pada Fatma yang kini masih memasang wajah memelasnya yang membuat Tania muak melihatnya.
Deg!
Deg!
__ADS_1
Fatma membulatkan matanya saat Tania tahu nama panjangnya. Tania tersenyum sinis padanya.
"Kenapa? Kamu terkejut saat aku mengetahui siapa nama lengkap kamu?" Tania tersenyum sinis lagi dengan Kendra juga tersenyun menarik ujung bibirnya hingga hembusan napasnya itu terasa ditelinga Tania.
"Jangan macam-macam denganku, Fatmawati Aurora! Aku bisa pada batasanku jika kamu tidak melampau batas kamu dalam berbicara dan mengambil tindakan yang merugikan suamiku! Ada tujuan apa kamu menemui suamiku? Bukankah kamu sudah tahu jika dia mengalami gangguan jiwa? Lantas kenapa kamu datang kembali untuk menekannya? Bukankah urusan kalian berdua sudah selesai sejak tujuh tahun yang lalu?"
Deg!
Fatma terkejut lagi dengan ucapan Tania. Darimana Tania tahu jika aku sudah selesai dengan Kendra? Apa jangan-jangan.. Batin fatma semakin gugup kala melihat mata Tania yang memicing curiga padanya.
"Jangan menduga dan menerkanya Fatmawati Aurora! Aku tahu kamu gadis yang baik. Tetapi apa tujuanmu melakukan hal ini kepada suamiku? Apakah ada seseorang menyuruhmu untuk menekannya? Siapa dia? Bisa kamu katakan padaku?" Lanjut Tania lagi yang membuat Fatma menelan ludahnya dengan takut.
Mati aku! Sial! Ternata dia tahu niatku yang ingin menekan Kendra! Tuan sialan!! Kau menipuku!!
__ADS_1
Batin Fatma meradang memikirkan seseorang yang saat ini sedang menatapnya dari kejauhan. Wajah Fatma masih aja terlihat sendu tetapi hati dan pikirannya mengumpati seseorang yang sengaja menyuruhnya untuk menekan Kendra kembali demi tujuan tertentu.
Benar saja tadi. Kendra sempat mengalami sakit kepala lagi. Tetapi gerakan refleks Tania, membuat Kendra kembali merasa tenang. Dan seseorang dibalik tenda itu tersenyum menyeringai saat tahu jika kelemahan Kendra ada pada Tania, istrinya.