
"Nak??"
"Eh. I-ya Mi," jawab Tania masih dengan terbata.
Ia masih bingung dengan keadaan nya baru saja siuman setelah satu bulan lamanya. Mengingat itu, ia menoleh pada mami Annisa yang kini sedang berbicara dengan sang papi yang kini sedang berada di Indonesia.
"Mi?"
Mami Annisa yang sedang berbicara menoleh padanya, "Iya bang. Alhamdulillah. Abang tenang aja. Kakak udah sadar kok. Hem, hilih! Gombal! Ck. Iya, iya! Dasar tua bungki! Eh, hahaha.. Wa'alaikum salam.." katanya pada sambungan ponsel miliknya.
Ia beralih pada Tania dan mendekatinya. "Kenapa? Kamu haus??" tanya sang mami padanya
Tania mengangguk kecil. Beliau mengangguk dan segera mengambil air mineral yang tersedia disana.
Dengan segera mami Annisa memberikannya kepada Tania yang ditenggak habis olehnya. Setelahnya Tania menatap lekat pada sang mami yang kini juga menatapnya dengan lembut dan tatapan teduhnya.
"Sudah berapa lama kakak disini, Mi?" tanya Tania masih terbata tetapi ia paksa untuk bicara senormal mungkin.
Mami Annisa tersenyum, ia mengelus kepala Tania yang tertutup hijab itu. "Sudah satu bulan mami dan papi menemani kamu disini. Terkadang Abang kamu, terkadang pun tiga adik kamu yang menunggu kamu disini."
"Satu bulan?" ulang Tania masih mencoba memahami keadaannya saat ini.
Mami Annisa mengangguk, "Ya, satu bulan. Kamu koma selama satu bulan. Dan selama satu bulan ini pun banyak yang terjadi dengan kehidupan kamu dan juga.." ucapan mami Annisa menggantung saat mengingat keluarganya yang berada di Indonesia sana.
"Kenapa Mi? Ada apa sama keluarga kita? Terjadi sesuatu selama kakak koma?"
Mami Annisa tersenyum sendu. "Nanti saja kamu tahunya. Belum saatnya kamu tahu. Pulihkan dulu kesehatan mu yang sangat turun drastis selama satu bulan ini. Setelah tubuh kamu sehat dan pulih kembali, maka mami akan ceritakan semuanya. Tetapi kamu harus siap mendengarnya. Ya?"
Tania menatap lekat pada mami Annisa yang kini tersenyum tetapi berbalut sendu di mata tuanya. Tania mengangguk pasrah.
Biarlah seperti ini dulu. Kamu harus sehat dulu untuk menerima segala kemungkinan yang akan terjadi. Kamu harus sehat demi bisa membuat perusahaan kita semakin maju.
Mami sengaja menutupinya diri kamu demi kesembuhan kamu. Maafkan mami, Nak. Mami terpaksa. Semua ini permintaan papi mu. Batinnya menatap Tania dengan sendu.
Beliau berbalik dan menyusut buliran bening yang mengalir di sudut pipinya dengan cepat agar Tania tidak tahu.
Tetapi terlambat. Tania sudah tahu akan hal itu.
__ADS_1
Ada apa? Kenapa mami berbohong? Ada apa dengan Indonesia? Kenapa dengan keluarga kita? Terjadi sesuatu kah? Bang Kendra...
Deg, deg, deg, deg..
Jantung seseorang di seberang pulau dan lautan sana berdetak dengan kencang.
"Ta-nia-aa.."
Deg!
"Abang? Abang sudah sadar??" tanya nya kegirangan.
Semua yang ada diruangan itu pun menoleh padanya. "Beneran Kak? Suami kamu sudah sadar??" tanya sang papi padanya.
Ziana mengangguk. "Iya Pi. Kakak lihat sendiri jika Abang baru saja memanggil nama kak Tania!"
Deg!
Deg!
"Alhamdulillah, ternyata tuan muda akhirnya bisa kembali sama kita. Semua ini karena ISTRINYA!" Tekan sang tangan kanan Kendra.
Siapa lagi kalau bukan Aldo?
Papi Tama terkekeh. "Kamu benar Al. Kendra sadar karena Tania pun saat ini sudah sadar kembali disana. Kamu dengar Mutia?? Apa kamu sadar, karena putri saya pun sudah sadar disana! Jadi... Lakukan perjanjian itu dengan saya!"
Deg!
Deg!
Kedua orang itu menelan salivanya dengan getir. Uwak Lana melihat pada Mutia dengan tatapan datarnya.
"Penuhi janji mu Mutia. Jika kamu ingin melihat putramu kembali dan memimpin perusahaan keluarga mu kembali maka kamu harus merestui pernikahan keduanya!" tekan Uwak Lana lagi yang membuat Mutia terkesiap melihat wajah datar dan dingin wakjah Uwak Lana padanya.
"Tapi, tapi.. A-aku kan cuma salah ucap saja waktu itu. Ka-kalau Kendra siuman maka a-aku merestui mereka berdua. Tapi ini? Me-mereka kan tidak bersama? Mereka berdua berpisah loh.. Ja-jadi..-,"
"Jadi kamu ingin melanggar janji begitu?! Picik sekali otakmu itu!"
__ADS_1
Deg!
"Benar kata Kendra. Kalau kalian itu manusia tetapi iblis di dunia nyata!"
Ddduuaaarr!!
Kedua orang itu tersentak mendengar ucapan Mami Kinara yang begitu menohok dan sangat ketus pada kedua nya.
"Tania.. Nia ku.. Hunny.." lirih Kendra lagi masih terdengar oleh mereka semuanya.
Semuanya menoleh pada Kendra yang dengan perlahan membuka matanya. Ia menelisik sekeliling dan melihat dinding serba putih.
Ia melihat sekeliling dan menoleh pada semua keluarga yang kini tersenyum melihatnya.
"Tania.. Tania.." panggilnya lagi.
Papi Tama mendekatinya. Beliau tersenyum, "Tania baik-baik saja. Kamu harus sembuh dulu, ya?"
"Tania baik-baik saja 'kan Pi??"
Papi Tama tersenyum padanya. "Iya baik. Saat ini dia sama seperti mu. Sudah sadar juga."
Kendra menoleh padanya, "Baru sadar juga?" ulangnya lagi.
"Ya, ia sama sepertimu. Kamu sadar karena dirinya. Dan kamu jatuh pingsan pun karena dirinya. Kontak batin kalian begitu kuat. Hingga salah satu yang merasakan sakit, maka yang lainnya pun ikut."
Kendra tertegun dengan ucapan ayah mertuanya itu.
Ternyata aku sama dengan Tania?? Ternyata aku sakit pun karena Tania??
Batin Kendra menatap atap sendu pada langit-langit kamar ruanagan inapnya.
...****************...
Mampir yok!
__ADS_1