Princess Pratama

Princess Pratama
Apa tujuannya?


__ADS_3

Sementara di tempat lain di seberang pulau, kini Ziana mengerjabkan matanya. Ia membuka kedua matanya saat merasakan hawa dingin begitu menusuk kulitnya. Ziana menggigil.


Ia memegangi kedua lengannya yang dingin ditiup angin pantai yang begitu dingin disaat malam hari. Ia melihat sekitar. Tidak terlihat apapun. Hanya gelap saja.


Ia bangkit dan mulai menyusuri gubuk tua yang saat ini ia tempati seorang diri. Ziana terus berjalan di dalam pondok yang layaknya seperti rumah itu. Ia melihat kesana kemari. Tidak juga menemukan siapapun.


Hanya sebuah tas ransel dan juga rantang makanan disana. Ziana menyentuh ransel itu dan membukanya.


Deg!


Deg!


"I-ini.."


"Kenapa? Kamu tidak suka?"


Deg!


Ziana mendongak ke arah asal suara. Ia membulatkan matanya dan terjungkal ke belakang. Pemuda itu terkekeh.

__ADS_1


"Hai sayang? Masih ingat denganku??"


"K-kk-k-kau...!!!"


"Hahahaha... Kita bertemu lagi ya? Ternyata benar kata pepatah. Dunia ini begitu sempit, sesempit daun kelor! Hahaha.. Selamat menikmati hari-harimu disini bersamaku Ziana Puteri Maulana!"


Deg, deg, deg..


Jantung Ziana berdegup begitu kencang saat mengetahui siapa pemuda itu. Matanya melotot dengan mulut menganga saat melihat jika pemuda itu begitu ia kenal. Bahkan sangat ia kenal.


"K-k-kamu.. B-bang Kendra??" tanya ya pada pemuda itu yang dijawab dengan senyuman tipis pemuda tampan itu.


"Mandi, dan gantilah pakaianmu. Aku akan menunggumu diluar. Untuk sementara kamu akan tinggal disini bersamaku. Musholla terletak di ujung kamar kamu. Lurus dan kamu menemukan pintu bertuliskan kaligrafi disana. Aku harus keluar sebentar!" katanya pada Ziana yang kini masih mematung melihat punggung tegap itu berlalu dari hadapannya.


Di Kediaman Uwak Lana.


Aldo terus berusaha mencari titik keberadaan Ziana. Sedari jam dua malam hingga subuh menjelang, ia belum juga menemukan dimana keberadaan Ziana.


Ia yang sudah lelah menghentikan pencariannya. Uwak Lana yang masih berada disana pun menoleh padanya.

__ADS_1


"Sudah menemukan dimana posisi Ziana?" tanyanya yang dijawab hembusan napas oleh Aldo.


"Belum tuan. Titik terakhir menunjukkan dipelabuhan. Kemudian menuju ke Pekanbaru. Setelahnya menghilang entah kemana. Saya sudah berusaha menyuruh anggota saya di Pekanbaru untuk mencarinya. Tetap saja. Titik lokasinya tidak ditemukan. Seolah pelacak itu menghilang entah kemana saat mereka berada dipelabuhan Pekanbaru.


Uwak Lana menghela napas Panjang. "Ya sudah. Nanti di usahakan lagi. Mandi, sholat, sarapan. Setelahnya kamu istirahat. Sedari kamu pulang dari Singapura, kamu belum lagi istirahat. Saya mau keluar dulu. Nanti Fanya yang akan mengantarkan sarapan pagi untukmu."


Aldo mengangguk, "Baik Tuan." Jawabnya dengan segera berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Sepeninggalnya Aldo, Uwak Lana melemun lagi. Ia terus berpikir. Kemana sekiranya saudara Abi Kevan itu membawa Ziana?


Pekanbaru? Untuk apa? Apakah mereka menyeberangi lautan demi menghilangkan jejak Ziana? Tetapi kenapa?


Apakah Paman Kevan sengaja melakukannya untuk membuat Kendra benar-benar tertekan dan juga terganggu jiwanya karena merasa bersalah kepada kedua istrinya yang tidak bisa ia lindungi?


Apakah ini tujuan Paman Kevan? Ingin membuat Kendra semakin larut dalam dukanya? Uwak Lana menatap nanar pada Kendra yang kini terlelap tetapi buliran bening terus mengalir di pipinya yang semakin tirus selama tiga bulan ia koma.


Apa tujuanmu, Kevan? Apakah kamu sengaja membuat keponakanmu semakin bersalah pada dirinya? Karena sudah gagal melindungi kedua istrinya? Inikah caramu dalam merebutkan kekuasan yang ia miliki? Kamu ingin menekan langsung mentalnya? Bukan perusahaannya? Aku jadi curiga? Jangan-jangan.. Tania kecelakan pun diakibatkan olehmu? Batin Uwak Lana berspekulasi sendiri menebak-nebak kejadian yang baru saja terjadi.


Jika memang benar. Maka Paman Kevan sangat licik. Ia ingin mendapatkan perusahan itu. Tetapi dengan cara membuat Kendra mati perlahan karena rasa bersalah terhadap kedua istrinya.

__ADS_1


"Astaghfirullahal'adhim.." ucap Uwak Lana kala pikirannya itu memang benar berpikir seperti itu.


Ia mengusap wajahnya dengan kasar.


__ADS_2