Princess Pratama

Princess Pratama
The Power Of Love Part 2


__ADS_3

"Abang hidup karena mengingatmu. Abang kembali karena ingin bertemu denganmu. Abang bisa kembali berbicara normal seperti ini karena kamu, Hunny. Kamu pikir, abang akan normal dengan sendirinya tanpa bantuan darimu?" tanya Kendra pada Tania yang kini berada di pelukannya yang dipenuhi dengan rambut halus hasil cukuran Tania baru saja.


Tania terpaksa melepaskan alat cukur itu dan memeluk tubuh Kendra dengan erat. Sesak sekali hatinya saat Kendra mengungkapkan alasan dirinya sehat dan kembali normal lagi itu karena dirinya.


Tania tersedu dipelukan Kendra. Ia sesegukan disana. Kendra mengusap lembut kepala Tania yang tertutup hijab hitam pemberiannya. Kendra tersenyum saat menyadari hijab pemberiannya itu.


"Abang kembali untukmu, Hunny. Abang kembali dan sehat karena kamu. Abang selalu bermimpi kedatangan kamu dan juga kedua anak kita. Maka dari itu, diri ini ingin berubah menjadi seperti dulu. Abang ingin terlihat normal ketika bertemu denganmu. Bukan pura-pura, Hunny. Abang memang beneran tertekan dengan kejadian yang menimpaku selama hampir tiga tahun ini. Hati dan pikiranku selalu berkata sebaliknya. Aku tidak sanggup menanggung rasa bersalah karena kamu dan juga Ziana.


Teringat akan Ziana, entah seperti apa gadis malang itu saat ini. Seharusnya ia sudah tamat SMA 'kan saat ini? Dan akan menyambung ke perguruan tinggi?" Ucap Kendra pada Tania yang kini mengangguk di pelukannya.


"Penyakitku ini bukanlah penyakit biasa saja Hunny. Kamu sendiri pun sudah tahu kenapa. Dan kamu kembali untuk mengobati ku bukan?" Tanya Kendra yang diangguki lagi oleh Tania sembari mengurai pelukannya dari tubuh kurus Kendra.


"Tapi kenapa yang aku dengar kalau Abang sulit untuk disembuhkan? Bang Prince juga mengatakan seperti itu. Om Kenan pun demikian? Kenapa? Apa benar yang aku dengar dari Bang Prince kalau kamu akan sembuh saat bersamaku dan hanya aku yang kamu mau, begitu?" Tanya Tania pada Kendra yang diangguki olehnya dengan bibir menyunggingkan senyum manis yang selalu Tania rindukan selama ini.

__ADS_1


"Kamu benar! Abang memang sengaja menunggu kepulanganmu. Obat abang itu kamu, Hunny. Bukan dokter lain. Abang akan sembuh jika bersama kamu. Abang akan sehat jika itu kamu. Karena dengan bisa melihatmu, maka rasa bersalah ini sedikit berkurang. Dan beban yang menghimpit hatiku selama ini terlepas begitu saja jika keyakinanku terhadap kamu yang dinyatakan sudah meninggal ternyata masihlah hidup! Berbeda dengan perkataan mereka yang mengatakan jika kamu sudah tiada.." lirih Kendra yang dingguki oleh Tania dengan air mata semakin mengucur deras.


"Kamu benar, Suamiku! Aku pun saat itu memiliki keyakinan yang sama denganmu. Bahwa ketika aku mengalami kecelakaan dan saat aku tenggeleam di dasar sungai yang deras dan keruh, aku meminta sama Allah untuk diberikan kesempatan kedua untuk hidup bersamamu. Walau kamu memiliki istri yang lain, itu tidak masalah untukku. Aku sudah menerima sepupuku untuk menjadi adik maduku. Aku ikhlas berbagi kamu dengannya. Karena inilah takdirku!"


Deg!


Ke empat paruh baya di ruangan Kenan tertegun dan tercenung mendengar ucapan Tania pada suaminya.


"Aku Ikhlas menerima pernikahan kalian berdua. Tak apa. Inilah yang harus kita jalani. Aku sudah membiasakan diriku untuk menerima ini. Semoga Ziana cepat kita temukan. Dan kita akan kembali membina rumah tangga kita seperti yang seharusnya!" Lanjut Tania lagi yang ditatap lekat oleh Kendra.


Deg!


Tania terkejut, "Tapi kenapa? Bukankah Ziana istri kamu juga? Apakah.. Karena diriku yang dulunya menolak dirinya? Karena itukah kamu tidak ingin berbagi?" Tanya Tania pada Kendra yang kini menatapnya dengan sangat lekat.

__ADS_1


Pancaran cinta itu semakin membuncah untuk cinta kedua setelah Ummi nya itu.


"Atau, kamu masih kecewa karena dulunya aku menolak Ziana? Kalau masalah itu, Abang tenang saja! Hahaha.. Itu toh masalahnya! Hem.. Aku sudah ikhlas abang. Jadi.. Mari kita bangun rumah tangga ini menjadi sakinah mawaddah dan warohmah." Lanjut Tania lagi yang dijawab helaan napas panjang dari Kendra.


"Bukan karena masalah itu, Hunny! Tetapi abang yang tidak bisa berbagi cinta dan kasih sayang abang untuknya yang khusus untukmu," jelas Kendra yang ditertawakan oleh Tania saat ia mendengar jawaban Kendra.


"Kamu ini aneh sih Bang?" kata Tania masih dengan tertawa.


"Aneh?" Tanya Kendra. Dan Tania mengangguk masih dengan tertawanya. "Anehnya dimana coba? Bukankah yang abang katakan ini sama seperti wanita yang ketika dirinya tidak ingin dimadu?" tanya Kendra pada Tania lagi yang masih dijawab dengan tertawa oleh Tania.


"Ya anehlah! Kamu itu laki-laki! Seharusnya bukan kamu yang tidaak mau berbagi. Tetapi aku dan Ziana. Kenapa pula jadi kamu yang tidak mau berbagi? Memangnya kamu wanita?" Tania tertawa lagi. "Kamu itu laki-laki Abang!" lanjut Tania lagi masih tertawa juga.


Melihat Tania tertawa, Kendra menghela napasnya. "Abang serius, Hunny! Abang beneran tidak ingin memiliki istri lain lagi! Cukup kamu seorang!" tekan Kendra begitu tegas pada Tania.

__ADS_1


Gadis cantik bergigi gingsul itu berhenti tertawa. "Udah ah! Usah membicarakan hal itu. Sebaiknya aku membersihkan dulu wajah Abang yang masih terlihat menyeramkan!" Ucap Tania pura-pura ketus. Sengaja ingin mengalihkan ucapan Kendra tadi.


Ia sudah cukup tahu diri tentang dirinya yang sudah dimadu. Dan jika dibahas lagi, akan menjadi masalah nantinya. Bukankah ia sudah menerima Ziana menjadi madunya? Lalu, apa yang ia pikirkan lagi?


__ADS_2