Princess Pratama

Princess Pratama
Semakin parah


__ADS_3

Hari-hari yang dilewati Kendra semakin sulit saja. Dirinya semakin tidak terkendali hingga snagat sulit membujukanya untuk berbicara.


Kendra, bukanlah lagi Kendra yang sama seperti saat pertama kali Tania temui ketika dirumah sakit Uwak Ira.


Kendra yang sekarang sudah berubah. Ia semakin depresi karena kehilangan kedua istri dan juga karena rasa bersalahnya kepada mereka berdua.


Kendra tidak bisa mengontrol dirinya untuk meluapkan amarahnya hingga banyak korban yang menderita karena ulahnya. Selama setahun ia dirumah sakit, sudah lima puluh orang perawat yang terluka karenanya. Lima belas orang dokter mengundurkan diri karena tidak ingin menagani masalahnya.


Mereka tidak ingin menjadi sasaran amukan Kendra yang sudah seperi macan gila. Kendra benar-bear tidak terkontrol. Emosinya begitu meletup-letup saat ada lelaki yang masuk keruangannya.


Ia menganggap jika lelaki itu Pamannya. Paman Kevan. Setiap kali perawat laki-laki masuk untuk membersihkan tubuhnya, ia selalu menyerang mereka dengan brutal.


Kendra tidak segan-segan menghantam apa saja pada lelaki yang ia kira Pamannya itu. Padahal lelaki itu bukanlah Pamannya. Melainkan seorang perawat lelaki.


Mereka mengalami luka parah akibat perbuatan Kendra. Ia sampai dipasung di ruangan kotor oleh salah satu dokter yang bertugas disana. Zee pernah melaranganya dan jangan seperti itu. Tetapi dokter itu tidak peduli. Karena menurut Zee, jika mengurungnya alkan semakin menambah tertekan jiwanya.


Ia tetap membuat Kendra semakin tidak waras karena dikurung di dalam ruangan gelap dan kotor.


Kendra dikurung disana hingga lima bulan lamanya. Ia dipasung dengan rantai. Dikaki dan tangannya di ikat rantai yang semakin menambah ruam dan luka di kedua tangan dan kakinya.

__ADS_1


Setiap hari Kendra terus meracau tidak jelas. Ia sering memanggil Tania dan Ziana. Ia juga sering mengumpati, dan sumpah serapah keluar dari mulutnya untuk Pamannya itu.


Ummi Mutia tidak bisa berbuat apapun saat melihat keadaan Kendra kembali seperti itu. Ia sangat menyesal karena mengikuti rencana Kevan. Ummi Mutia terpaksa meninggalkan Kendra pada Uwak Lana dan Zee untuk dijaga dengan baik.


"Maafkan Umi, Nak. Ummi harus kembali. Ada masalah di Pekanbaru. Ummi harus kembali menemani Abi kamu yang asli. Bukan Paman kamu." Ucapnya waktu itu pada Kendra yang terdiam dan menatap nanar pada Fanya dan Fania yang saat itu mengunjungi dirinya.


Entah apa yang Kendra pikirkan saat itu. Yang jelas, setelah kepergian Ummi Mutia membuat pemuda tampan yang semakin kurus itu malah semakin menjadi-jadi karena merasa diasingkan dan dibaikan.


Siang malam ia selalu memanggil nama Tania. Ia tidak pernah tidur. Tidur. Tetapi seperti tidur ayam. Ia akan sadar, jika telinganya mendengar derap langkah diluar ruangannya.


Hingga Uwak Ira pulang dari Aceh karena Zee yang memintanya, dan Kendra dilepaskan. Tetapi harus dirujuk kerumah sakit yang ada di Jakarta.


Sesekali melihat Kendra yang terlelap dipangkuannya karena bujukannya yang mengatakan jika Tania masih hidup tetapi ia jauh darinya karena suatu hal.


Harapan kecil itu membuat Kendra menurut dan patuh.


"Tapi Kak. Kita tidak bisa memantaunya jika ia di Jakarta." Ucap Uwak Lana membantah ucapan kakaknya itu yang dibalas dengan tatapan tajam oleh Uwak Ira dibalik Niqobnya.


"Jika kamu tidak mau mengurusnya, maka kakak yang akan mengurusnya! Kakak akan menghubungi Prince dan berkonsultasi lengsung dengannya melalui Kenan! Bukankah dia seorang pakar jiwa? Kalau kamu lupa! Tidak payah jika kamu tidak mau!" Ketusnya mendadak kesal pada adik keduanya itu.

__ADS_1


Uwak Lana menunduk merasa tidak enak pada kakak sulungnya yang mendadak kesal padanya. Tetapi apa yang bisa ia perbuat selain ini?


"Abi!" serunya pada Uwak Raga yang mengangguk dan segera menghubungi iparnya yang saat ini berada di Jakarta sana.


Setelah berbicara dengannya, malam itu juga Kendra dibawa kerumah sakit Jaya Medika yang berada di Jakarta.


Kendra yang sudah lelap pun diletakkan di bangkar dengan tangann Uwak Ira terus mengusap surai hitamnya yang kini tidak terawat lagi. Uwak Lana menatap Kendra dengan nanar.


"Bukan Uwak tidak mau mengurusmu, Ken. Tetapi Uwak ingin mencari Ziana. Ziana putri sulung Uwak. Uwak harus mencarinya. Mungkin dengan kamu dibawa ke Jakarta, kamu bisa cepat sembuh dan kembali seperti sediakala. Maafkan Uwak, Ken.. Maafkan Uwak.." lirihnya dengan mata yang kembali mengabur.


Semenjak saat itulah, ia tidak tahu lagi apa yang terjadi pada Kendra. Karena dirinya sibuk mencari Ziana yang entah dimana keberadaannya.


Uwak Lana hanya sekali menjenguknya disaat dirinya benar-benar terpuruk akan kehilangan Ziana yang entah dimana. Terakhir kali ia menjenguk Kendra saat Kendra dinyatakan sudah lumayan membaik.


Kini, Kendra bukannya kembali baik. Tetapi semakin menjadi. Ia semakin parah saat ini.


Akankah Kendra akan kembali baik dan kembali normal?


Entahlah. Tiada yang tahu seperti apa perjalanan hidup Kendra ke depannya. Yang pasti, kehidupan dan kesehatan Kendra semakin buruk selama berada di Jakarta sana. Begitulah informasi yang Uwak Lana terima dari anak buahnya yang memantau perkembangan Kendra selama berada di Jakarta.

__ADS_1


__ADS_2