Princess Pratama

Princess Pratama
Pertengkaran


__ADS_3

Ziana meringis menahan sakit saat pipinya terasa kebas dengan ujung bibir itu kembali robek. Ia menatap Uwak Maura yang kini menatapnya dengan nyalang.


"Apa yang kamu lakukan! huh? Ingin adu otot dengan orang tua kamu? Iya? Hebat kamu! Hebat sekali! Mami tidak pernah mengajarkan kamu hal seperti itu Ziana!!" serunya dengan suara naik satu oktaf.


Uwak Lana yang melihat Ummi Mutia tersungkur dihadapan kaki nya segera mengangkatnya dan menjatuhkan tubuh ringkih itu di sofa yang ada diruangan itu.


Ziana menatap nanar pada sang mami yang kini sedang mencerca dirinya. "Kenapa mami terus saja membelanya? Tidak kah mami tahu jika disini akulah yang paling sakit?? Huh?" tanya Ziana dengan suara rendahnya.


Kendra menatap lekat pada istri muda nya itu. Sementara Aldo sedang dibaringkan di bangkar oleh Uwak Lana.


Ia melihat pipi putrinya yang merah karena gamparan dari istrinya baru saja. Itu yang ia tahu. Ia mendekati Ziana dan ingin memeluk putrinya itu.


Tetapi Ziana menolaknya. Ia beralih ke sudut ruangan. Kendra terus melihat istri mudanya itu tanpa mengeluarkan kata sepatah pun.


Ziana terisak sambil memegangi pipinya. Ia mengambil kompres yang tersedia disana dan mengompres luka lebam itu sendiri.


"Tetapi bukan dengan cara seperti tadi Ziana! Kamu berdosa melakukan hal itu kepada mertua kamu sendiri!"


Ziana menoleh pada sang mami yang kini masih marah padanya. "Ini tidak cukup untuknya dibandingkan rasa sakit yang aku dapatkan selama ini. Kalian tahu apa tentang ku? Huh? Yang kalian tahu sebagai orang tua hanya ingin menunaikan janji! Tanpa kalian tahu dan bertanya bagaimana perasaan ku yang menjadi korban perbuatan dan keegoisan kalian!" serunya dengan terus terisak.


"Nggak! Disini tetap kamu yang salah! Kamu sudah memukul mertua kamu hingga dia pingsan seperti itu!" tolak Uwak Maura tidak ingin mendengar ucapan Ziana.

__ADS_1


"Bahkan mamiku sendiri tidak paham dengan perasaan ku! Malah teganya kalian menuduhku disini yang salah, tanpa kalian tahu jika orang yang kalian bela itulah yang bersalah disini!"


"Kamu yang salah Ziana! Bukan mertua kamu! Sesalah-salahnya orang tua, ia tahu apa yang terbaik untuk anaknya!" Ucap Uwak Maura masih berusaha membela Ummi Mutia.


Ziana tertawa hambar dengan air mata berlinangan.


"Kenapa mami begitu membelanya? Tidak kah mami tahu? Jika perbuatannya itu sudah melukai harga diriku?? Hah? Dia menghina ku dan menghina didikan kalian yang sudah mendidikku menjadi seorang ja lang dan menikahkan ku dengan putra sucinya itu?!" teriak Ziana semakin tidak tahan dengan ucapan sang mami yang terus menyalahkannya.


Aldo meringis dan menahan sakit saat ingin bangkit dan menemui Ziana.


"Kalian hanya tahu jika aku yang bersalah disini. Lihatlah bang Aldo!" tunjuk Ziana pada Aldo yang kini berusaha bangkit dengan perban yang kembali mengeluarkan darah.


"Dia terlauka karena orang yang mami bela! Lihat bang Kendra yang terkapar disana tanpa bisa berbicara!" tunjuknya pada Kendra yang kini sedang menatapnya dengan datar.


Disini mamilah yang salah! Mami yang sangat salah! Tanpa bertanya mami kembali menambah perih di pipi dan perasaan ku yang sudah dihina oleh besan mami yang mengatakan jika aku ini ja lang! Lantas jika aku ini ja lang, maka kalian berdua orang tua ku apa? Gi golo dan pe la cur begitu?!"


Deg!


"Ziana!!! Jaga ucapan mu! Lancang kamu berbicara seperti itu!"


"Bukan aku mi! Tetapi besan mami yang mengatakan hal itu! Aku tidak suka diriku dihina apalagi dengan mengatakan jika aku ja lang! Aku membela diriku dan juga kalian orang tuaku. Tetapi apa??"

__ADS_1


"Tetapi bukan dengan cara memukulnya Ziana! Itu tetap salah! Gimana sih! Kamu kok keras kepala gini kalau orang tua ngomong?!"


"Keras kepala ku menurun dari mami! Bukankah mami juga begini dulu saat mami Kinara hamil dan mami yang ingin mencelakainya karena membela adik mami yang sakit jiwa karena cintanya tidak di balas oleh papi Ali?? Huh?"


"Diam kamu Zia!!" teriak uwak Maura yang membuat Ummi Mutia tersentak dari pingsannya.


"Nggak!! Aku nggak akan diam! Kenapa pula aku harus diam?! Selama ini aku selalu diam dan menuruti keinginan kalian para orang tua! Tanpa kalian tahu jika kami sebagai anak tersiksa seperti ini! Apalagi aku?!! Lalu bagaimana dengan kakak ku? Bisa kah mami mengembalikaan apa yang hilang darinya?? Bisakah mami mengembalikan kepercayaannya kepada suaminya yang kalian paksa menikah dengan ku?! Aku tersiksa disini! Hatiku sakit tiap kali melihatnya! Tidak kah kalian tahu itu? Dimana akal kalian semua? Huh?! Kalian yang salah! Kalian yang kejam!! Bukan aku!! Aku tidak salah apapun!!" pekik Ziana memba bi buta dan mengamuk melempari mereka semua.


Kendra dan Aldo tertegun melihat luapan amarah Ziana yang selama ini terpendam. Aldo ingin menggapai gadis kecil itu. Tetapi tubuhnya tidak berdaya. Ia hanya bisa menatap nanar pada bidadari yang sudah mencuri hatinya sejak pertama kali bertemu itu.


"Sayang.." lirihnya tanpa suara yang membuat Ziana menoleh padanya dan langsung saja istri muda Kendra itu berlari memeluk tubuhnya dengan menangis dan tersedu disana yang membuat ketiga orang tua itu tersentak melihatnya.


Kendra menatap ketiga orang itu dengan tatapan datar dan menghunusnya.


"Puas kalian? Puas sudah menyakiti banyak orang dengan pernikahan rahasia dan terpaksa ini?? Sekarang saya tanya. Bisa tidak kalian mengembalikan jiwa Tania yang sudah tiada? Huh?"


Deg!


Deg!


"Apa?! Tania sudah tiada?!"

__ADS_1


Lempar satu cangkir kopi untuk othor!Huh! 😤


__ADS_2