Princess Pratama

Princess Pratama
Nafkah lahir


__ADS_3

Setelah selesai memakaikan baju untuk Kendra, Tania membawa Kendra untuk duduk disofa yang tersedia diruangan itu.


Ia membuka satu tempat khusus perawatan wajah miliknya yang akan ia berikan kepada Kendra saat ini. Wajah Kendra sudah kemvali bersih dari bulu halus yang membuat mata Tania semak melihatnya.


Bagaimana tidka semak, jika rambut itu memenuhi seluruh wajah Kendra hingga ke telinganya. Tania tidka menyukai rambut haus itu.


Ia lebih suka melihat wajah Kendra yang kurus dn tirus dibandingkan dengan berambut itu.


Tania mengoleskan gel dipipi Kendra dna segera meratakananya. Kendra diam saja. Ia menatap tania tidka berkedip.


Senyum tipis nan tampan itu terbit dari bibirnya, kala Tania memijat wajahnya itu dengan lembut. Tania sednag emlakukan perawatan wajah pada wajahnya saat ini.


"Ini membantu untuk mengurangi kerutan yang sudah terlalu berkerut! Kayak jeruk purut!" kata Tania sambil terus memijat wajah Kendra dengan lembut.


"Wajah kamu kelihatan tua nya Bang Kendra. Jika lama sedikit lagi, maka akan seperti kakek-kakek kamunya!" Ucap Tania yang disambut gelak tawa oleh kendra.


Tania tersenyum setelahnya ia kembali pada mode galaknya. Kendra membuka kedua matanya dan menatap Tania dengan tatapan teduhnya.


"Udah bisa beritahu aku tentang nafkah?" Lagi, Tania bertanya tentang nafkah dari Kendra.


Kendra menghela napasnya dan tersenyum melihat Tania. "Kenapa kamu begitu ingin tahu, hem? Kamu meragukan abang?" Bukannya menjawab, Kendra malah bertanya pada Tania yang membuat Tania berdecak kesal.


"Dijawab dulu pertanyaanku Bang Kendra! Jangan mengalihkan pertanyaan!" Ketus Tania


Kendra terkekeh, "Baiklah istriku.. Cintaku.. Bidadari surgaku.."

__ADS_1


"Ck!" Tania berdecak kesal padanya.


Kendra terkekeh lagi. "Kamu ingat dengan Singkatan K&T?" Tania menggeleng, Kendra tersenyum. "Kamu sudah lupa dengan Market kita yang ada di Singapura?"


Deg!


Mata Tania membola. "Hah? Ja-jadi.. Market terbesar di Singapura itu punya Abang?" tanya Tania yang diangguki oleh Kendra dengan tersenyum padanya.


"Ya. K&T itu market kita. Bukan cuma punya Abang. Tetapi juga punya kamu, Hunny! Market itu ide Abang saat masih didalam rumah sakit. Hasil gaji Abang ketika bekerja diperusahaan almarhum Kakek dari jarak jauh, Abang gunakan untuk membeli dan membangun market itu. Usaha itu maju pun berkat promosi dari mami kita. Mami Annisa!" Kendra tertawa saat melihat mulut menganga Tania padanya.


"Kok bisa? Kenapa pula mami yang buat market kamu itu maju?" Tanya Tania karena penasaran mami annisa yang disebut.


Kendra terkekeh. "Mami kita pebeli pertama disana saat pertama kali market itu dibangun, Hunny. Saat itu, mami tidak tahu jika itu market punya Abang. Sampai saat inipun tak ada yang tahu. Hanya abang, Aldo, dan kamu saja yang tahu.


Saat ini market itu dikelola dengan baik dibawah orang-orang Om Kenan dan Om Dimas. Mereka bergerak cepat saat tahu market itu punya Abang. Karena abang pernah menyebut tentang market itu ketika mengamuk dulunya. Abag juga baru tahunya satu bulan ini. Saat pikiran Aang sudah kembali normal karena Om Kenan bilang, kalau kamu akan segera kembali bersama putra kita.


Ia merasa malu sendiri sebagai suami dari keponakannya. Saking baiknya kedua orang itu, mereka rela bergadang malam dirumah sakit demi menemani Kendra dengan membawa serta ke tujuh anaknya.


Kendra hanya tau jiak dirinya menginginkan tania. Tetapi Tania tidak juga kunjung kembali. ia memnag tertekan sekali waktu itu.


Entah dengan cara apa Om Kenan dan Tante Bella tahu jika market miliknya Di singapura sana tidak ada yang memimpin saat aldo dinyatakan menghilang setelah Kendra dibawa ke Jakarta untuk mengobati dirinya.


Hal yang belum Kendra tahu. Dan saat ini ia ingin mengetahui semua itu dari Om Kenan dan tante Bella keluarga sang istri. Keluarga Tania.


Tania yang mendnegar cerita Kendra tertegun sesaat. Ia memikirkan hal ini. Sungguh baik Om dna tantenya hingga mau membantu usaha suaminya yang bahkan ia sendiri pun tidka tahu.

__ADS_1


Tania segera merogoh saku gamisnya dan mengambil ponsel miliknya. Ia membuka m-banking miliknya dan melihat nominal yang tertera disana.


Dddduuaarr!!


Bagai disambar petir tubuh Tania saat melhat nominal saldo disana selama hampir tiga tahun terakhir ini.


Matanya membola dengan rahang rasanya ingin copot saat itu juga.


"T-tiga mi-milyar?!" pekik Tania dengan segera menutup mulutnya.


Pomsel Tania jatuh ke paha Kendra yang kini duduk disampingnya. Ia mengambil ponsel itu dan melihatnya.


Kendra tersenyum. "Sama persis seperti yang Abang kirimkan sebelum Abang mengalami gangguan jiwa!"


Deg!


Deg!


Tania menoleh pada Kendra. "Maksud Abang?" tanya Tania karena tidak mengerti dengan ucaopan Kendra baru saja.


Kendra tersenyum lagi. "Nominal yang Om Kenan kirim ke kamu sama seperi yang Abang kirim ke kamu setiap bulannya itu sekitar 100 juta perbulan!"


"Hah?" Tania menganga dengan wajah terkejutnya.


Kendra mengelus pipinya. "Iya Hunny. Itu nafkah dari abang selama kamu berada di Singapura. Sjak kamu pergi, abang sudah menyiapkannya untukmu yang ketika itu usaha kita menjadi maju berkat mami mertuaku. Ah, rindu aku dengan wajah datar mami kita, Hunny. Beliau benar. Kutukan itu benar sudah Abang rasakan saat ini."

__ADS_1


Deg!


__ADS_2