
Ke esokan harinya.
Adzan subuh berkumandang membangunkan seluruh insan yang sedang bergelung kebali didalam selimut mereka.
Tetapi berbeda dengan dua sejoli yang baru saja bertemu dan tidur bersama setelah sekian lama itu.
Tania dan Kendra sedari pukul empat sudah bangun untuk melakukan sholat tahajud berjamaah setelah sekian lama. Dengan Kendra sebagai imamnya, keduanya sholat diakhir malam begitu khusyuk.
Hingga adzan subuh berkumandang membuat keduanya berhenti bertafakkur dan kembali melakukan sholat subuh berjamaah.
Sholat pertama setelah terpisah hampir tiga tahun lamanya. Keduanya sholat begitu khusyuk. Hingga sampai matahari terbit pun keduanya masih betah duduk bertafakkur bersama.
Tania sangat menikmati waktunya bersama Kendra setelah sekian lama. Dirasa cukup, keduanya pun bergegas bersiap. Tania ingin membawa kendra jalan-jalan pagi sekitar rumah sakit.
__ADS_1
Udara pagi sangat bagus untuk kesembuhannya.
"Sudah siap, Bang?" tanya Tania yang diangguki oleh Kendra yang saat ini sednag emnggenakan jaket kulit yang tadi malam Tania bawakan khusus untuknya.
Kendra tersenyum. Jaket itu tidak ia kancingkan. Sengaja dibuka. Tania pun tidak mempermasalahkannya.
"Ya sudah, ayo kita jalan. Abang kuat kan ya?" tanya Tania sambil menatap Kendra menunggu jawaban.
Tangan Kendra mengelus pipi chubby Tania. "Abang kuat, Hunny. Jangan takut! Walau tubuhku kurus, bukan berarti suami mu ini tidak sanggup berjalan kan? Abang sanggup, Hunny. Terkecuali menggendong tubuhmu. Itu baru tidak sanggup! Bisa-bisa abang terjatuh dan membuat kamu terluka pula nanti!" ucap Kendra memang benar.
Keduanya berjalan beriringan. "Tidak mungkin aku meminta yang mustahil untuk abang penuhi. Aku tahu kondisi kamu belum lagi sembuh. Mana mungkin aku meminta kamu yang tidak-tidak? Mau makan lontong kacang nggak?" tanya Tania pada Kendra yang diangguki oleh Kendra dengan senyum manisnya.
"Boleh, udah lama nggak makan lontong sih sejak kamu pergi!" Kendra tergelak saat melihat wajah malas Tania padanya.
__ADS_1
"Ya iyalah kamu nggak makan lontong? Gimana kamu mau makan lontong? Yang ada dipikiran kamu saat itu hanya rasa bersalah kamu saja sama kami berdua?" Balas Tania yang memang benar adanya.
Kendra tersenyum. Ia semakin merapatkan tubuhnya di tubuh Tania dengan tangan kiri naik kebahu Tania. Ia merangkul bahu chubby itu dengan sangat posesif.
Tania tidak marah. Malahan ia senang dirangkul seperti itu oleh Kendra. Sepanjang perjalanan keduanya terus berbicara dan sesekali Kendra tertawa karena melihat wajah Tania yang malas dan kesal padanya.
Kendra, pasien sakit jiwa yang dikira mereka yang ada dirumah sakit itu tidak akan sembuh, kini terlihat sehat seperti lelaki normal pada umumnya.
Ia berjalan dengan kedua tungkai jenjangnya. Bukan dengan kursi roda lagi seperti dua tahun ini. Dirinya begitu lebar tersenyum dengan wajah yang sudah kembali bersih. Sangat tampan dan memesona.
Walau terlihat kurus, tetapi Kendra masihlah tampan yang membuat suster yang berjaga pagi itu menatap Kendra dengan terpana.
Terpana akan ketampaan Kendra yang tertutup rambut halus yang lumayan tebal diseluruh wajahnya, kini sudah tidak ada lagi.
__ADS_1
Semua orang menatap pada pasangan muda dan terlihat serasi itu. Mereka tidak menduga jika Kendra begitu tampan dan sudah menikah tentunya. Memiliki istri yang sangat cantik dengan senyum ramah memperlihatkan gigi gingsulnya itu.