
Mata bulat bening kedua putra Tania itu menatap Kendra dengan polosnya.
"Calanya?" tanya si sulung walau sesekali masih cadel.
Kendra tersenyum dan memeluk kedua putra kandungnya itu bersama Tania. Buah cintanya yang ia pikir pergi saat kecelakaan menimpa Tania.
"Mau tahu?" tanya Kendra yang diangguki antusias oleh kedua bocah kembar mirip dengannya itu.
"Oke. Yang pertama tentang sisir. Biarkan adek yang sisir rambut Abi. Yang kedua, Abang kancingkan baju abi, bisa?" katanya pada kedua bocah kembar yang kini tersenyum girang mendengar ucapannya itu.
"Yeeeyyy! Aciikk.. Adek jadi cicil lambut Abi!" celutuk si bungsu yang segera berpindah kebelakang Kendra dan menyisir rambut abinya itu.
Tania terkekeh. Kendra pun tersenyum melihat putra keduanya sudah bergerak. Sedangkan si sulung, masih menatap lekat pada Kendra yang kini juga menatap lekat padanya.
Kendra tersenyum dan mengecup lembut dahi putra sulungnya itu.
"Kenapa Abang belum kancingkan baju abi? Bukankah Abang udah bisa kancing baju sendiri?" tanya Kendra padanya
Putra sulung Kendra itu menggerakkan tangannya dan menyentuh rahang Kendra yang sangat kurus.
"Abi beda cama yang di foto. Kalau dicini, abi canngat kulus! Kalau di foto, abi gemuk!" katanya pada Kendra yang tersenyum lebar padanya.
"Abang lihat foto abi sama mami saat dipantai?" tanya Kendra yang diangguki oleh si bungsu dibelakang tubuhnya.
__ADS_1
Kendra terkekeh lagi. "Yang difoto itu saat abi masih sehat. Sedang sekarang?"
"Abi macih cakit ya?" tanya keduanya begitu kompak.
Kendra tersenyum dan mengangguk. "Maka dari itu, Abang sama adek nggak boleh rebutan dalam hal apapun. Kalau bisa mengalah, itu lebih baik Tetapi sekiranya bisa dibagi dua, maka harus dibagi!" kata Kendra pada kedua putranya yang kini menatap polos padanya.
Kendra gemas melihat kedua putranya itu. Kendra pun takjub melihat putra sulungnya yang sudah bisa mengancingkan bajunya sesuai dengan yang Tania katakan tadi padanya. Baju orang dewasa. Tania terkekeh melihat wajah girang putranya itu.
"Hem, terimakasih sayang-sayangnya abi. Cup, cup!" Kendra mengecup dahi kedua putranya dan memeluk mereka dengan erat.
Keduanya pun membalasnya. Tania pun segera masuk. Ia ingin membawa si kembar untuk turun dan makan malam bersama didapur.
"Sudah selesai?" tanya Tania yang membuat ketiga orang itu seketika mengurai pelukannya dan menoleh pada Tania.
Sementara si sulung tetap berada bersama Kendra. Ia ingin bersama abinya. Tania paham itu. Karena yang lebih banyak bertanya padanya tentang Kendra ialah putra sulungnya.
"Ya udah, abang jalan ya, Nak? Jangan gendong abi dulu!" peringat Tania pada si sulung yang diangguki olehnya.
Kendra tersenyum. Ia pun turun dari ranjangnya dengan sedikit sempoyongan. Maklumkan saja jika tubuhnya belumlah seimbang untuk bisa berdiri tegak.
Tania segera mencekal lengan Kendra yang terlihat terhuyung ke samping. Si sulung pun demikian. Ia memeluk kaki abinya itu yang membuat Kendra tersenyum haru.
Ia segera mengangkat tubuh putra sulungnya dan mulai berjalan perlahan di ikuti Tania disampingnya, guna menjaganya.
__ADS_1
Si sulung memeluk erat tubuh abinya itu. Ke empatnya turun bersama untuk makan malam. Tiba didapur, mami Annisa sedikit khawatir melihat Kendra menggendong putranya.
"Sini sama Oma, Sayang!" katanya pada si sulung yang menggeleng dan semakin erat memeluk leher abinya itu.
Kendra tersenyum. "Tak apa, Mi. Aku bisa, kok. Kasihan putraku jika berjalan sendiri. Sementara adiknya digendong maminya?" Ucap Kendra yang diangguki oleh si sulung yang berada di leher Kendra.
Mami Annisa mengalah. Danis terkekeh. Begitupun dengan Papi Tama.
"Duduk dulu, Bang. Kita makan malam bersama. Sudah lama papi menantikan saat-saat seperti ini." Imbuhnya pada Kendra yang diangguki dengan tersenyum oleh suami Tania itu.
Mereka pun segera makan malam bersama. Makan malam bersama setelah sekian lamanya Kendra berada dirumah sakit jiwa. Inilah pertama kalinya Kendra kembali makan setelah keluar dari sana.
Padahal ketika baru menikah dengan Tania, mereka seringkali makan bersama seperti ini. Duduk lesehan dilantai dan juga makan dengan tangan seperti yang saat ini mereka lakukan.
Selesai makan malam, kini mereka semua duduk diruang tivi. Mereka akan menonton serial si botak kembar dari negeri Malaya itu.
Jangan tanya dimana si sulung. Sedari ia makan hingga saat ini, ia masih sedia didalam pangkuan Kendra. Makan disuapi abinya. Minum punya abinya. Abinya minum obat, ia pun ikut memberikan obat itu pada abinya.
Sungguh gemas ketika dilihat. Tania terharu melihat putra sulungnya itu.
"Hunny," panggil Kendra
"Ya, Abang butuh sesuatu?" jawab Tania sembari melihat padanya. Padahal saat ini, perhatiannya sednag tertuju pada si bungsu yang sibuk meniru gerakan si botak kembar itu.
__ADS_1
Kendra menggeleng. "Siapa nama si kembar? Sedari kamu ke rumah sakit, kamu belum mengatakan siapa nama si kembar." Ucap Kendra yang membuat mami Annisa menepuk jidatnya.