Princess Pratama

Princess Pratama
Kembali ke Medan


__ADS_3

Tania dan Ziana berniat akan mengantarkan minuman itu pada mereka semua. Akan tetapi, sepasang tungkai lemah keduanya berhenti seketika kala mendengar ucapan Uwak dan papinya mengatakan tentang hak Kendra dan El kini sudah direbut paksa dari mereka.


Ziana menatap lekat pada kakak sepupunya itu.


"Kak," panggil Ziana pada Tania sambil menatap lekat kakaknya itu.


Tania menjawab ucapan Ziana tanpa berpling padanya sedikitpun. "Kamu tenang saja, Dek. Kakak akan merebut kembali apa yang menjadi milik suamiku dan suami kamu. Walau nanti harta itu tidak bisa menjadi milik mereka berdua, maka seluruh harta itu akan jatuh ke tangan dinas sosial. Kakak pernah mendengar tentang ini. Jika suatu saat harta warisan itu tidak jatuh ke tangan bang Kendra selaku hak waris yang sah, maka harta itu akan diambil alih oleh phak berwajib. Yaitu dinas sosial. Kakak tidak akan merebut harta itu. Akan tetapi, kakak akan membuat semua harta itu jatuh ke pihak dinas sosial!" tukas Tania dengan tatapan mata menyipit dan senyum licik terbit di sudut bibirnya.


Ziana bergidik ngeri melihat senyum licik yang terbit dari bibir kakaknya itu.


"Ayo!" Tania mengajak Ziana ke meja para lelaki yang sedang membahas masalah pernikahan Ziana dan juga harta warisan milik Kendra.


"Bagaimana kalau kamu saja El yang mengurus pengalihan kekuasan itu? Abi tidak mungkin kesana," ucap Abi Kevin yang dijawab dengan gelengan kepala oleh El.


Kendra terkekeh. "Jangan memaksanya abi. Biarkan saja jika ia tidak mau," timpal Kendra yang diangguki cepat oleh El. Ziana terkekeh kecil melihat suaminya itu.


Abi Kevin menghela napasnya. Papi Tama hanya bisa menggelengkan kepalanya saja melihat adik Kendra itu.


"Jika masalha harta warisan itu, kita pikirkan nanti saja. Sudah lama kita disini. Sudah hampir satu bulan malahan. Annisa, Ira, dan yang lainnya sednag emnunggu kedatangan kita saat ini," ucap papi Tama mengalihkan ucapan mereka tentang harta warisan itu karena melihat kedipan mata dari Tania.

__ADS_1


Tania tersenyum tipis meliht Kendra yang kini menatapnya dengan lekat. Tania mengedipkan matanya pada Kendra yang membuat Kendra menghela napas panjang.


"Inilah akibatnya menikah dengan keturunan Princess Pratama. Bukan hanya kelakuannya, sifat keras kepalanya pun sangat menurun dari ratu, King Pratama?" gumam Kendra yang terdengar oleh Tania dan El.


Kedua orang itu terkekeh kecil. El mengangguk kecil pada Tania yang kini tersenyum lembut padanya.


*


*


*


Hari ini tepat satu bulan mereka di Kalimantan. Hari ini juga mereka sudah kembali ke Medan. Keluarga besar sudah berkumpul menunggu kedatangan mereka semua.


Mami Annisa dan Uwak Ira yang paling heboh dalam menyambut kedatangan Ziana dna suaminya. Ya, mereka sudah tahu akan kembalinya Ziana dan suaminya. Serta Ziana yang saat ini sedang hamil lima bulan.


Kediaman Uwak Lana sudah penuh dengan seluruh sepupu Tania. Mereka sengaja kembali lagi Bandung dan Jakarta untuk menemui Ziana.


Yang lebih membahagiakan ialah Maldalya dan Satria kini pun ikut hadir disana. Mereka baru saja tiba kemarin saat mami Kinara yang mengabarkan tentang kepulangan Ziana beserta suaminya.

__ADS_1


Ziana dan El terkejut saat melihat keluarag besar Ziana yang lumayan ramai. Abi kevin dan Ummi Mutia sampai tertawa melihat keluarga besar besannya itu yang begitu heboh akan kepulangan Ziana yang saat ini sedang berbadan dua.


keluarga besar menyambut pengantin yang akan dirias besok pagi itu dengan tangan terbuka. Semuanya bergembira karena kepualngan Ziana dan suaminya.


Mereka sangat terkejut melihat suami Ziana yang begitu mirip dengan Kendra. Mereka menduga jika El adalah saudara kembar Kendra.


"Bukan Wak. El ini adiknya Kendra. Umur kami terpaut begitu jauh. Kendra 27 tahun sedang Kendra masih 20. Di atas Ziana satu tahun saja," ucap Kendra menjelaskan pada Uwak Ira, mami Annisa dan mami Kinara yang bertanya tentang El adiknya.


El tersenyum pada mereka semua. Ia mengulurkan tangan untuk menyalimi semua yang tua disana. Dan untuk saudara sepupu Ziana yang perempuan dan sebaya mereka, ia hanya menangkupkan tangan didada saja. Sama seperti yang Kendra lakukan dahulunya.


Papi Tama terkekeh melihat wajah cengo mami Annisa pada El. "Sudahlah, Sayang. Jangan gitu ih, mukanya. Jelek tahu!" ucap papi Tama yang ditertawakan oleh ketiga anaknya itu.


"Hihihi.. Mami jelek dibilang papi!" seru Aggam sengaja menggoda cinta pertamanya itu yang berwajah masam pada sang papi yang kini terkekeh melihat maminya itu.


"Udah, jangan cemberut gitu. Ayo, temani abang dulu. Sudah keriput ini pohon kelapa karena jauh dari sarangnya!" bisik papi Tama ditelinga mami Annisa yang kini pipinya bersemu merah karena dicium oleh papi Tama dihadapan semua orang.


"Ciee.. Ciee.. Uhuyy! Mami mau bulan madu lagi nih, ye?" goda Gading pada mami Annisa yang dipelototi oleh mami Annisa.


Semuanya tertawa melihat mamai Annisa melempari Gading dengan sendal miliknya hingga menegnai Alkira yang baru saja tiba dengan nampan minumannya yang membuat istri Gading itu memekik kesal pada mami Annisa yang kini melengos melewati mereka semua karena ditarik paksa oleh papi Tama.

__ADS_1


Ziana dan El tertawa melihat tingkah orangtua Tania itu. Tania merangkul pinggang Kendra. "Kita ke rumah mami Kinara aja ya? Aku harus istirahat. Perutku rasanya kram lagi," keluh Tania sambil meringis keci yang membuat Kendra mengangguk setuju.


__ADS_2