
"Duduk dulu. Jangan risaukan Tania. Ia hanya sednag terluka saat ini. Pesan papi, untuk sementara kamu jangan kesini dulu. Ya?'
"Tapi Pi-,"
"Dengarkan papi, Nak. Tania sedang terluka karena kejujuran mu. Untuk saat ini, pulanglah dulu kerumah Uwak mu. Nanti kita bicara kan lagi. Ya? Papi paham seperti apa Tania. Dia butuh waktu untuk saat ini. Kamu pulanglah dulu. Nanti kalau ada apa-apa. Papi hubungi kamu," Katanya pada Kendra tadi sebelum mereka pulang dengan dengan wajah ketakutan.
Papi Tama menghela nafasnya. "Sudah tahu Annisa seperti apa. Masih juga di buat seperti itu. Maka jangan salahkan dirinya jika si pahit lidahnya itu keluar. Jangan kan dengan kalian Denganku saja begitu. Padahal waktu itu hanya sebatas surat yang ia tinggalkan. Tapi apa yang tertulis disana merupakan curahan hatinya.
Annisa wanita yang memang keras kepala. Tetapi keras kepalanya bertempat. Tidak seperti yang kamu lakukan Lana. Hanya demi janji dan kamu takut di penjara kamu mengorbankan putriku. Jangan salahkan aku jika kamu menanggung apa yang sudah Annisa katakan tadi pada kalian bertiga. Aku harap, kalian tidak mendapatkannya."
Tetapi jika kalian mendapatkannya, maaf.. Aku tidak bisa membantu kalian bertiga. Apa yang sudah tergores tidak mungkin aku ubah lagi.." lirihnya menatap sendu pada kedua orang wanita yang kini masih saling berpelukan.
Sore harinya.
"Bang,"
"Hem?" Papi Tama menoleh pada mami Annisa yang baru saja memakai bajunya.
"Mau kemana pakai baju seperti itu?" tanya Papi Tama pada mami Annisa yang sudah bersiap untuk berangkat.
"Aku minta izin ingin pulang ke Aceh sebentar-,"
"Kenapa? Ada apa? Kamu marah kah sama Abang sampai harus pulang ke Aceh?" tanya Papi Tama balik memotong ucapan Mami Annisa yang kini terkekeh padanya.
__ADS_1
"Nggak papi.. Mami mau pulang ke Aceh karena Kak Tania minta di antar kesana sebelum ia kembali ke-,"
"Tetapi mendadak sekali? Kenapa nggak dari tadi sih kamu ngomongnya? Kan Abang bisa antar kalian berdua?" potongnya lagi semakin merasa khawatir melihat koper yang Tania tarik turun ke bawah melewati kamar mereka berdua.
Beliau dengan sigap memakai celana bahannya yang sudah terletak di ranjang. Lengkap dengan bajunya.
Mami Annisa terkekeh, "Abang itu tenang dulu makanya. Jangan rusuh gini ih! Aku nggak akan ninggalin Abang!" serunya pada papii Tama yang semakin panik takut di tinggal.
Beliau menoleh, "Beneran? Kamu nggak ninggalin Abang lagi??"
Mami Annisa menggeleng. "Nggak bang Tama. Annisa tidak akan pernah pergi lagi darimu walau apapun yang terjadi. Tapi kali ini kakak minta diantar pulang ke Aceh. Abang cukup antarkan kami ke bandara saja. Pesawat udah aku pesan kok. Dan kami berangkatnya malam. Pukul sembilan. Masih ada waktu."
Papi Tama menghela nafasnya. Teringat kejadian dulunya yang begitu membekas di ingatannya. Makanya ia begitu trauma jika mami Annisa minta izin untuk pulang.
Begitu pun dengan kedua nenek mereka yang berada di aceh sana. Kedua orang tua itu pun sudah tiada karena shock saat tahu jika Mak Alisa dan Papi Gilang kecelakan tiga tahun yang lalu.
Mereka tewas ditempat kejadian dengan saling berpelukan. Mobil meledak, tetapi tubuh keduanya tidak terbakar dan disentuh api sedikit pun.
Jasad keduanya utuh bahkan berbau wangi. Saking wanginya mengalahi parfum mahal dari Inggris saat itu yang lagi populernya. (Ada di kisah Kak Malda ye? Kembalinya Ratu Telaga Biru )
"Tapi tania sekarang istri Kendra, sayang. Sebaiknya minta Izin dulu sebelum pergi. Agar tidak menimbulkan masalah nantinya."
Mami annisa tersenyum sambil menyerahkan gesper berwarna hitam padanya. "Itu menjadi tugas Abang untuk memberi tahunya. Aku tetap harus pergi Bang./ Abang kan tahu, jika aku sangat malas berbicara degan menantu mu itu?" ketusnya sedikit jutek.
__ADS_1
Ia pun segera berlalu keluar kamar di ikuti oleh papi Tama.
Beliau terkekeh, "Baiklah ratuku. Apapun keinginanmu akan Abang kabulkan."
"Di izinin tidak akunya pergi?"
"Di izinin dong sayang. Masa enggak sih. Bisa karatan nih pisang boma kalau sampai Abang nggak ngizinin kamu pergi?" godanya pada mami Annisa yang kini tertawa mendengar ucapannya.
Tania tersenyum melihat kemesraan keduanya.
Andai kamu seperti papi, Bang Kendra.. Pastilah aku tidak akan pergi meninggalkan mu seperti ini. Aku pergi karena tidak sanggup untuk melihat mu menikahi adik ku.
Lebih baik aku melupakan mu daripada aku harus menyakiti adik kesayangan ku itu. Ziana gadis kecil yang baik. Uwak Lana saja yang tidak paham dan terlalu memaksakan kehendaknya.
Mungkin dengan kepergianku ini, kalian barulah sadar. Jika aku sangat berharga untuk kamu Bang Kendra..
Maafkan aku pergi tanpa izin darimu. Tetapi aku yakin Papi pasti akan mengantongi izin darimu.
Aku pergi Bang..
Selamat tinggal..
Batin Tania nelangsa menatap keluar jendela dimana dirinya duduk dibelakang seorang diri. Dan mereka bertiga akan menuju ke Bandara Kuala Namu untuk menuju ke Aceh.
__ADS_1