
Kendra mengejarnya dengan cepat menuju ke bawah dengan tergopoh-gopoh dan sedikit pening.
Tiba dibawah, Kendra tidak melihat mobil milik Pamannya itu lagi yang membuat Kendra menjerit ketakuan dan juga meraung memanggil Ziana yang entah hilang kemana.
Ia menangis dan berlari dengan kaki terbuka menuju jalan raya di depan rumah Uwak Lana. Penghuni rumah mereka tidak ada yang bangun satupun. Semuanya senyap. Mereka seakan hanyut dalam mimpi.
Hanyut dalam buaian obat tidur yang tadinya Paman Kevan berikan. Ia terus menyusuri jalanan itu dengan kaki terluka dan kepalanya yang terasa pening akibat pukulan di tengkuknya tadi.
Kendra panik setengah mati. Ia menangis dan meraung di malam yang sunyi itu. Ia terus berteriak memanggil Ziana dengan air mata yang bercucuran.
Ia melangkah dengan langkah gontai. Tubuh yang masih lemah dan juga pikiran yang kalut, ia terus berjalan. Berjalan yang entah kemana tujuannya.
Mencari keberadaan Ziana yang entah berada dimana saat ini. Ia dibawa kabur oleh Pamannya itu.
"Hiks.. Nna.. Maafkan abang, Dek! Hiks.. Abang tidak bisa menolongmu! Hunny.. Aku harus apa saat ini? Kemana aku harus mencari Ziana di tengah malam buta ini? Aldo sedang tidak bersama ku. Kemana aku harus mencari bala bantuan? Hiks.. Hunny.. Ziana.. Kemana abang mencarimu, Dek! Abang bisa gila jika kalian berdua hilang seperti ini!" Ucap kendra dengan kaki yang tertatih dan terus menyusuri jalan komplek perumahan Uwak Lana yang begitu sunyi itu.
Waktu sudah menunjukkan angka 12 malam saat kejadian itu terjadi. Dan kawasan itu sudah sunyi sepi dan begitu lengang. Tanpa ada manusia yang terlihat berjalan disana.
Kendra panik dan gusar sendiri memikirkan keadaan Ziana. Ia tidak tahu harus mencari keberadaan Ziana ditengah malam buta itu.
"Kamu dimana Nna? Jangan buat Abang khawatir Nna! Hiks.. Hunny.. Kenapa begitu berat ujian ini? Pertama kamu. Dan sekarang Ziana? Kemana aku harus mencari Ziana??" lirih Kendra dengan mata yang semakin mengeluarkan cairan bening di kedua sudut matanya.
__ADS_1
Kendra terus berjalan hingga matanya memicing saat melihat adacahaya lampu dari mobil yang kini mendekatinya.
Ia melipir di sudut jalan saat melihat sebuah mobil dihadapan sana semakin mendekatinya. Kendra menuduk dengan memegang tengkuknya yang semakin terasa sakit.
Cekiitt..
Suara gesekan ban mobil dan juga aspal membuat Kendra mendongak melihatnya. Kendra terkejut saat melihat siapa yang berada di dalam mobil itu.
"Ken!" panggil Aldo sambil turun dari mobilnya
"Al!" seru Kendra semakin berjalan tergopoh menuju Aldo yang kini juga mendekatinya.
"Ken!" panggilnya lagi.
"Kenapa kamu diluar Al? Kamu kan baru saja sembuh? Kenapa kelayapan begini sih?" tegur Aldo pada Kendra yang kini semakin merasakan sakit di kepalanya.
"Al! Ziana diculik Paman Kevan! Dan dia dibawa entah kemana! Ayo kita kejar Al! Aku takut, jika Ziana di apa-apakan olehnya!" seru Kendra pada Aldo yang kini sedang memegangi tubuhnya yang semakin sempoyongan saat berdiri.
Aldo menahan tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Sadar Ken! Mana mungkin Paman Kevan menculik Ziana? Bukankah Ziana saat ini dirumah bersama mu?" tanya aldo pada Kendra.
__ADS_1
Bukan apa ia bertanya seperti ini. Karena tadi, ia sempat menghubungi nomor Kendra dan dijawab oleh seorang gadis yang Aldo pikir adalah Ziana.
Kendra menggeleng, "Nggak Al. Ziana baru saja diculik dan dibawa pergi saat Paman Kevan sengaja memukul tengkuk ku yang membuat Ziana kembali menghajarnya. Ia ditarik paksa saat ingin kembali menyerang Paman tadinya. Kita cari Ziana, Al! Aku takut terjadi sesuatu dengannya! Ayo Al!" ajak Kendra lagi pada Aldo yang kini kebingungan melihat Kendra.
Ia tetap berdiri ditempatnya dan tidak bergerak sedikitpun.
"Ayo Al!" bujuknya pada Aldo yang kini terdiam mencerna ucapan seseorang di seberang telepon tadi saat dirinya masih dijalan.
"Jika kamu dan Ziana berada diluar? Lantas siapa tadi yang menjawab ponselmu? Aku tadi menghubungi kamu loh sebelum tiba kesini??"
Deg!
Kendra mendongak melihat Aldo yang kini masih memegangi tubuh kurusnya.
"Aku nggak tahu Al. Yang jelas, saat Ziana dibawa dan ditarik paksa menuju keluar. Aku berjalan tergopoh untuk menuju ke bawah. Karena aku mendengar teriakan Ziana menuju ke mobilnya. Aku memang tidak mendengar suara mobilnya berlalu. Tetapi suara teriakan nya terdengar begitu jelas." Jelas Kendra yang membuat Aldo mengernyit bingung.
"Tunggu dulu Ken! Jika tadi itu bukan Ziana? Lantas siapa?" tanya Aldo masih bertanya karena semakin penasaran dengan suara seorang gadis yang mengangkat ponsel Kendra tadi.
"Ssstt... Barangkali adik Ziana, Al. Fanya ataupun Fania. Ayo! Kita cari dulu Ziana nya! Aku khawatir Al!" Ucap Kendra masih memaksa Aldo untuk mencari Ziana yang entah menghilang kemana.
"Tapi Ken.. Kamu sedang sakit loh. Kepala kamu berdarah lagi ini! Astahgfirullah!" seru Aldo sambil memegangi luka dikepalanya yang semakin menganga lebar.
__ADS_1
"Nggak! Kita cari Ziana dulu Al! Aku khawatir padanya! Ayo Al!" ajak Kendra lagi sengaja melepas tangan Aldo yang terlepas paksa karena dorongan dari Kendra yang begitu kuat.