
Onti Alzana pingsan lumayan lama. Mereka semua sempat khawatir dengan keadaan Onti Alzana. Tetapi, semua itu terpatahkan saat Onti Alzana sadar, ia langsung menangis tersedu sambil memeluk kedua pangeran kembarnya itu.
"Hiks, putraku kenapa begini? Onti pikir, kalian masihlah sama saat dua tahun yang lalu. Tapi ini? Hiks.. Ya, allah, kenapa buluk begini, Kak? Ini tompel, gigi jongos! Ya, Allah! Jeleknya! Hiks.. Hiks," Onti Alzana terisak sambil memeluk erat tubuh si kembar.
Apa yang bisa si kembar lakukan selain hanya bisa memeluk Ontinya itu. Keduanya mengusap lembut punggung sang Onti yang terus bergetar karena terisak.
Ia mengurai pelukannya dan melihat kakak sulungnya itu. "Kenapa Kakak buat anakku menjadi jelek begini? Siapa yang menyuruh kalain berdua?" tanyanya dengan tatapan tajam menghunus jantung.
Kendra melirik Tania yang kini menatap datar padanya. "Abang yang memintanya. Dan abang juga yang membuat si kembar sulung menjadi buluk," jawab Abi Kendra yang ditatap semakin tajam oleh Onti Alzana padanya.
Mami Tania menatap lekat pada adik bungsunya sebelum Aggam ada. "kamu tidak tahu apaun tentang kehidupan keduanya Alzana! Ynag kamu tahu, kalau keponakan kamu hidup dalam damai dan bahagia. Tetapi, kenyataanya tidak seperti itu! Karena paras yang mereka miliki, keduanya hampir mati jika Bnag Kendra terlambat pulang untuk melihat keduanya."
Dduar!
__ADS_1
Tersentak tubuh dan jantung Onti Alzana mendnegar ucapan kakak sulungnya itu tentang si kembar yang kini tersenyum dengan gigi jongosnya itu.
Onti Alzana mersa kesal melihat gigi jongos itu. Ingin sekali ia menariknya. Tetapi, tatapan mata sang kakak yang begitu menghunus melebihi tatapannya itu membuat dirinya takut. Nylainya menciut saat melihat ada amarah yang terpendam di dalam mata kakak sulunya itu.
Onti Alzana menghela napasnya. "Tetapi, kenapa Kakak mengubah mereka? Apakah ini juga karena nyawanya yang terancam?"
"Ya," jawab mami Tania masih menatap lekat pada adiknya itu.
Om Prince tertawa mendnegr ucapan istrinya. "Kamu, Hunny! Mana bisa gigi itu di cabut pasang? Itu gigi udah di tempel dengan lem yang kau kali!" katanay membalas ucapan Onti Alzana yang kini semakin geram dengan gigi yanmg membuat pemandangan matanya melihat si kembar menjadi rusak.
"Tetapi, Bang. Gigi jongos yang snagat maju itu, terlalu mencolok untuk ku lihat! Gatal sekali mataku melihatnya! Jika itu gigi palsu kan bisa di cabut pasang? Buka ih! Sakit mata Onti melihatnya! Mana senyum sama mingkem nggak bisa lagi! Apalagi kalau makan babat kerbau? Bisa-bisa gigi kamu nggak makan gara-gara gigi jongos kamu itu!" gerutunya semakin kesal dengan gigi jngos si kembar.
Om Prince tertawa terbahak mendengar ucapan istrinya itu. Abi Kendra terkekeh-kekeh mendengar ucapan adik iparnya itu. Janagan tanyakan seperti apa si kembar tiga? Ketiganya pun tertawa ngakak saat melihat wajah abang sulung mereka menajdi kesal karena ucapan Ontinya itu.
__ADS_1
"Buka, ya? Gimana mau makan kalau bibir kamu ke tarik begitu! Yang ada semua makanan akn kamu telan nantinya?" tanya Onti Alzana lagi yang kembali di tertawakan oleh semuanya. Kecuali mami Tania.
Ia tersenyum tipis saja mendnegar ucapan adik bungsunya itu.
"Gigi palsu serta tompel itu akan kamicabut saat keduanya memiliki pendamping hidup yang menerima keduanya apa adanya. Dua wanita yang sudah di takdirkan untuk keduanya. Kakak yakin, mereka pasti ada di sini. Di tanah kelahiran almarhun Oma kita!" ucap mmai Tania memecah keheningan setelah tawa itu selesai.
Mami Tania menatap lekat ke dapur sana. Di mana dua orang gadis kembar saat ini sednag bersiteru. Keduanya bertengkar karena sang kakak yang tidak mau mengantarkan minuman untuk Uwaknya itu.
Mami Tania tersenyum saat melihat wajah masam putri kedua Alzana yang mirip sekali dengan Prince itu. Sambil terusberjalan dia terus menggerutu tidak jelas karena snag kakak yang tidak ingin melihat wajah tampan abang sepunya yang kini sudah berubah menajdi buluk.
"Dia juga 'kan manusia? Kenapa pula takut? Apa wajah mereka seseram nenek peyot di ujung gang sana?!" gumamnya yang terdengar oleh mami Tania.
Sang Uwak tertawa saat mendengar gerutuan keponakan kecilnya itu. Mami Tania tersenyum melihat keponakannya itu.
__ADS_1