
Setelah Kendra pergi, kini Tania sudah beraktivitas kembali. Tiga hari sudah berlalu semenjak kepindahan Kendra kerumah Uwak Lana.
Tania sudah kembali kerumah sakit dan mulai bekerja kembali. Keseharian Tania selama tiga hari ini begitu sepi.
Jika biasanya ada Kendra disaat ia pergi dan pulang dari rumah sakit. Pastilah ada senyuman hangat yang selalu menyambutnya.
Tapi sekarang ini tidak lagi. Tania benar-benar sendiri saat ini. Sunyi sepi menjalani harinya tanpa Kendra lagi.
Selama berapa tahun ini Tania selalu hidup dalam motivasi tentang Kendra. Ia meyakinkan dirinya untuk selalu kuat dan baik-baik saja demi Kendra yang saat ini sedang menunggunya.
Tapi sekarang tidak lagi. Semuanya sudah tidak berguna. Orang yang ditunggu dan ingin ia jemput sudah tidak bersamanya lagi.
Ia sudah berhasil menjemputnya dna membawanya pulang. Akan tetapi kenyatan pahit yang ia dapatkan ternyata meruntuhkan semua kasih sayang ia simpan untuk Kendra selama sepuluh tahun ini.
Kendra sudah pergi untuk selamanya dan tidak akan pernah kembali lagi. Harapan tinggallah harapan untuknya saat ini.
Harapan satu-satunya sudah pupus dan hilang benganti dengan rasa sakit yang begitu dalam akibat perbuatan Kendra padanya.
Tania terluka karena pengakuan Kendra. Tania sakit hati ternyata yang menjadi madunya itu adik sepupunya sendiri.
Adik kecil yang begitu ia sayangi. Tania tidak menyangka jika Uwak Lana pun memaksa nya untuk berbagi dengan Ziana, adik sepupunya.
Apakah Uwaknya itu tidak berfikir, baagaiaman keduanya menjalani biduk rumah tangga dengan lelaki yang sama.
__ADS_1
Apakah Uwak Lana yakin jika dirinya dan Ziana tidak terluka? Sedangakan sebelum memulaisaja ia sudah terluka seperti itu. Lantas jika sudah bersama akankah rasa sakit tidak akan lebih besar dari ini?
"Dok? Dokter Tania!"
Deg!
"Hah? Iya Maaf. Saya melamun! Maafkan saya!" ucapnya pada salah seorang ibu pasien yang kini sednag ditanagani oleh Tania.
Ia memberikan usulan untuk pasien itu agar dirumah sakit saja dulu. Ia yang akan melakukan terapi itu padanya.
"Baik, terimakasih Dokter. Akan kami persiapkan segalanya. Kemungkinan nanti sore kami akan kembali lagi kesini. Mohon di jaga anak saya, Dokter!" pintanya dengan sangat berharap.
Tania mengangguk masih dengan wajah datarnya. "Tentu. Anda tidak usah kahawatir. Putra anda aman betada dirumah sakit ini." Jawab Tania sambil berdiri dan mendekati pemuda berusia dengan Kendra itu.
Melihat pemuda itu, ia jadi teringat dengan suaminya sendiri.
Istri mana yang mau berbagi suami?
Dirinya bukanlah wanita yang bermuka dua. Tersenyum di hadapan Kendra, tetapi ketika di belakang pemuda itu ia tidak menyukai sifat Kendra yang sudah me madu dirinya dengan adik sepupunya sendiri.
Tania berbicara sebentar dengan pasiennya itu sebelum ia keluar untuk makan siang di kantin rumah sakit.
Tidak ada lagi senyum manis dan hangat di bibirnya kini ketika para perawat dan juga pasiennya menegur dirinya.
__ADS_1
Yang terlihat hanyalah wajah datar tanpa ekspresi. Zee, sang sepupu pun hanya bisa menghela nafasnya. Yang bisa ia lakukan hanyalah menatap adik sepupunya itu dengan nanar.
Saat ia duduk makan di kantin, salah seorang perawat menatpa Tania dengan heran. Ia mendekati Tania yang sedang makan dalam diam.
"Sendirian dokter??"
"Hem," jawab Tania sibuk dengan makanan nya.
Perawat itu tidak berani menyapa dan bertanya lebih lanjut. Ia pun mundur dan duduk di belakang Tania. Tidak ingin mengganggunya lagi.
Selepas makan siang, Tania melanjutkan ibadah sholat dhuhurnya.
Ia kembali melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Tak ada yang menyenangkan ataupun membuatnya bahagia seperti yang sudah-sudah.
Biasanya sepulang dari rumah sakit, Tania pasti mampir dulu di tempat jual buah dan sayuran. Ia akan masak makan malam untuk Kendra.
Tapi kali ini tidak.
Ia pulang dengan dengan tangan hampa. Setibanya dirumah pun demikian. Tak ada lagi yang menyambutnya dengan senyum manis tersungging di bibirnya.
Tania benar-benar sendiri. Sunyi sepi dalam tiga hari ini merasuki relung hatinya. Ia menatap nanar pada setiap sudut kamarnya dimana tidak terlihat bayangan siapapun disana.
Yang biasanya terlihat sedang duduk di sajadahnya di sisi ranjang mereka, kini sunyi sepi. Hanya ada ambal tebal yang menutupi lantai nan dingin itu.
__ADS_1
Tania mengusap bulir bening yang mengalir di pipinya.
"Hah! Aku sudah biasa sendiri. Dan sampai kapan pun aku sendiri! Tak akan ada yang menemaniku sampai kapanpun. Karena cintaku telah pergi meninggalkan ku untuk selamanya..." lirih Tania dengan buliran bening yang mengalir semakin deras.