Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Kejadian masa lalu kembali di masa depan


__ADS_3

Oma Annisa yang di temani Opa Tama dan ketiga cucunya kini sudah kembali sadar. Beliau saat ini sednag tersedu sembari di peluk erat oleh Opa Tama. Mami Tania dan Abi Kendra memasuki kamar kedua orangtuanya bersama Uwak Ira yang mengikuti mereka dari belakang.


Setibanya di sana, ketiga orang itu tertegun melihat Oma Annisa yang sedang meraung di pelukan Opa Tama hingga sesegukan.


"Hiks, hiks, m-maaf.. hiks.. m-maaf.. A-aku hiks.. S-salah," isaknya semakin sesegukan di pelukan Opa Tama yang kini juga ikut tersedu bersamanya.


Opa Tama mengangguk sekaligus menggelengkan kepalanya. "Nggak, kamu nggak salah, Sayang. Abang sayang sama kamu. Kamu nggak salah. Abang yang salah. Semua itu berawal dariku. Jika bukan karena aku, maka kamu tidak aka mengambil tindakan nekad dan memilih pergi saat kamu dalam keadaan hamil anak kita! Hiks.. Nggak, Sayang. Abang nggak marah. Kamu nggak salah," lirihnya di telinga Oma Annisa yang semakin tersedu bahkan sesegukan di pelukan Opa Tama saat ini.


Mami Tania menutup mulutnya menahan sesak di dadanya. Ia pun jadi sadar. Akibat ulahnya meninggalkan Abi Kendra dulunya, si kembar sulung pun merasakan hal yang sama. Mami Tania tergugu. Ia jatuh merosot ke lantai yang dengan cepat di sambut oleh Abi Kendra.


"Shuutt.. Kamu nggak salah. Udah, semua itu takdir, ingat?" bisik Abi Kendra di telinga mami Tania yang kini juga ikut tersedu seperti Oma Annisa.


Dzaka, Dzaki dan Alishba kebingungan melihat kedua orangtuanya sama seperti Opa dan Omanya.


"Oma, Opa, Abi, Mami! Kalian kenapa? Apakah ada yang terlewat hingga kami tidak tahu? Kenapa kalian menangis? Apakah ini ada hubungannya dengan kedua abang kami yang di tinggal pergi oleh kakak ipar?"


Deg


Deg

__ADS_1


Ucapan Alish baru saja membuat jantung ke lima paruh baya beda usia itu berdenyut ngilu. Uwak Ira berulang kali menghela napasnya. Ia berusaha tersenyum di sela-sela hatinya yang kini juga ikut menangis mengenang masa lalu Opa Tama dan Oma Annisa. Serta kedua orangtua kandung Alish.


"Nek?" panggil Alish pada Uwak Ira yang kini mendekati ketiga saudara kembar yang kini sedang kebingungan itu.


"Ya, nenek akan menjelaskannya. Kenapa kedua Abangmu bisa seperti itu. Asal muasal kisah ini dari Opa dan Oma kamu semua," ucapnya lirih sambil menatap Abang angkat dan juga adik bungsu satu ayah dengannya itu masih saja menangis bersama.


"Beberapa puluh tahun silam, Oma kamu sempat meninggalkan Opa kamu dalam keadaan hamil Mami dan Om kamu. Om Danis. Keduanya saat itu terlibat masalah pelik yang berujung salah paham pada keduanya. Oma kamu pergi setelah melihat Opa kamu," bibirnya bergetar saat akan mengatakan hal itu. "Opa kamu tidur dengan wanita lain."


Dduuaarr!


"Apa?" pekik si kembar tiga begitu terkejut.


"Sebenarnya, yang Oma kamu lihat itu bukan Opa kamu. Panjang ceritanya. Akan tetapi, nenek akan menceritakannya pada kalian semua. Agar kelak, kisah ini bisa menjadi pembelajaran untuk kamu bertiga. Saat itu, Oma kamu baru saja selesai wisuda di sekolahnya. Opa kamu yang berjanji menjemputnya tak kunjung datang. Oma kamu menunggu hingga tiga jam lamanya. Karena tak kunjung datang, Oma kamu memilih pulang langsung ke showroom Opa kamu. Dan saat tiba di sana, Oma kamu melihat kalau Opa kamu sedang melakukan hubungan terlarang dengan wanita lain. Di mata Oma kamu, lelaki itu Opa kamu karena memakai baju yang sama seperti yang Opa kamu kenakan saat menemani Oma kamu wisuda. Acara lulusan sekolah di pesantren tempat Oma kamu menuntut ilmu,"


Sepi.


Kejadian masa lalu itu kembali di ingatkan kembali. Si kembar tiga larut dalam pemikirannya.


"Oma kamu salah paham pada Opa kamu. Ia mengira lelaki itu benar Opa kamu. Padahal bukan. Lelaki dan wanita itu merupakan karyawan Opa dan juga ustadzah di sekolah Oma kamu. Opa kamu di jebak oleh wanita itu. Akan tetapi, semua itu gagal. Opa kamu bisa membalikkan keadaan dan membuat wanita itu menjadi berada di posisinya. Singkat cerita, wanita itu menikah dengan salah satu karyawan Opa kamu. Dan yang melakukan hal itu adalah mereka berdua. Bukan Opa kamu. Oma kamu yang melihatnya langsung saja salah paham hingga memilih pergi meninggalkan Opa kamu dalam keadaan sangat tersiksa," Ujar Nenek Ira yang membuat si kembar tiga meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Dan untuk mami kamu. Mami kamu pergi meninggalkan abi kamu karena tidak ngin melihat adik sepupunya terluka. Ia kira jika melepas Abi kamu, ia akan bahagia. Tak tahunya, Abi kamu malah tersiksa hingga harus masuk rumah sakit jiwa di Jakarta sana. Mami kamu pergi tanpa melihat seperti apa keadaan Abi kamu. Dengan kata lain, apa yang Oma kamu perbuat pada Opa kamu, menurun pada mami kamu dan juga menurun pada Zayn dan Zayden. Akibat kejadian masa lalu berimbas hingga ke masa depan. Keduanya tidak salah. Hanya terlalu cinta, maka memilih jalan itu untuk menyelamatkan hatinya. Yang mereka tidak tahu akibat perbuatan mereka itu, telah membuat luka di hati suami mereka. Oma dan Mami kamu sama-sama meninggalkan suami mereka. Dosa mereka di masa lalu walau sudah meminta maaf tetap turun pada kedua cucu dan putranya. Itu yang Nenek tahu," ujarnya lagi menjelaskan keadaan yang sebenarnya.


Dzaka, Dzaki dan Alish segera menubruk mami dan Abinya. Sementara Nenek Ira memeluk Oma Annisa yang kini masih di peluk erat oleh Opa Tama.


Semuanya tersedu mengingat masa lalu itu. Mereka tak menyangka. Jika kejadian berapa puluh tahun silam kembali terulang pada penerus mereka yang kedua.


Sementara di dalam kamar si kembar Riya dan Jia, mereka pun masih saling menangis dan saling berpelukan erat. Tidak ingin sedikit pun berpisah. Hati keduanya terpaut begitu kuat. Ikatan batin keduanya begitu terlihat jelas saat ini.


Jika keduanya di pisahkan, pastilah akan terjadi lagi hal yang seperti tadi. Pasangan baru itu harus menyelesaikan masalah mereka sebelum memutuskan untuk berpisah nantinya. Butuh waktu untuk keduanya menerima kenyataan yang ada.


Si kembar sulung belum bisa melepas istri mereka hingga terjadilah pergolakan batin dan pikiran yang tak sejalan. Karena hal itu, langsung saja istri mereka rasakan.


Kisah masa lalu yang kelam itu seharusnya di jadikan pembelajaran untuk penerus berikutnya. Akan tetapi, apa yang sudah terucap di masa lalu, pasti akan mengikuti mereka yang hidup di masa depan. Itu pasti.


Seperti hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur, maka itu yang akan kamu tuai. Jika kamu menabur angin, maka kamu akan menuai badai. Inilah yang terjadi pada mereka saat ini.


Makanya bagi kita ini jangan sekali-kali mengatakan hal yang buruk yang akan berimbas di masa depan nantinya. Jaga lidah agar tidak menyakiti. Jaga hati agar tidak saling membenci. Udah, itu aja. Damai sudah hidup kita.


Jika masih sakit hati, maka maafkan. Dengan memaafkan, maka hati itu akan lapang dengan sendirinya. Sulit, memang. Tetapi, itu lebih baik daripada memelihara dendam.

__ADS_1


Othor bicara fakta, ye?


🙏🙏


__ADS_2