
Ziana tersenyum dan mengangguk pada Tania dengan wajah basah air mata. Pemuda mirip kendra itu terus mengusap bahunya.
Mata Tania mengabur. Ia ingin bangkit secra menddak, tetapi Kendra menahannya.
"Jangan bergerak menndadak, Hunny! Perhatikan ranjang ini jika kamu tidak ingin kita berdua terjatuh ke bawah!" Seru Kendra cepat saat melihat pergerakan Tania yang tiba-tiba itu.
Tania meringis menahan sakit diperutnya. Ia terkejut saat menyadari jika saat ini ia sedang berbadan dua. Tania menghela napasnya.
"Maaf," cicit Tania pada Kendra sembari memejamkan kedua matanya untuk mengurangi rasa terkejutnya baru saja. Kendra mengangguk.
Uwak Lana yang melihat Tania seperti menahan skait, segera mendekatinya. "Kamu tak apa, Nak? Ada yang sakit? Biar Uwak panggilkann dokter!" Imbuhnya dengan segera berbalik menuju pintu.
Mata Tania spontan melebar saar Uwaknya itu mengatakan dokter. "Nggak! Wak, tunggu dulu! Kakak tidak apa-apa, sungguh!" cegat Tania pada Uwak Lana yang ingin segera memanggil dokter.
Suara lengkingan Tania yang lumayan keras, membuat Papi Tama dan Aldo terjaga seketika. Keduanya spontan terduduk dan melihat lurus pada Tania serta Kendra yang saat ini masih berbaring.
Keduanya terkejut saat melihat sudah ada orang didalam ruangan itu.
"Maaf, Besan. Kami mengganggu kah?"
Deg!
Deg!
Papi Tama segera menoleh pada abi Kevin yang kini tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat padanya. Papi Tama yang terkejut langsung berdiri dan memeluk sahabat masa kecilnya itu.
"Kevin! Ini kamu, Kevin? Kevin Putra Om Kendaraksa Wiryawan?" tanya papi Tama yang diangguki cepat oleh abi Kevin dengan mata yang sudah menganak sungai.
__ADS_1
"Ya, ini aku. Adrian! Sahabat masa kecilku!"
"Ya Allah, sahabatku.. Saudaraku! Kamu akhirnya kembali!" Seru Papi Tama kegirangan
Kedua pemuda yang sama usianya itu tertawa bersama dengan air mata menganak sungai. Tania yang melihat itupun terharu. Begitupun, dengan Kendra, dan lelaki muda mirip dengannya itu.
Ummi Mutia menyusut bulir bening yang mengalir disudut matanya. Ia mendekati Tania yang kini melihatnya dengan wajah basah air mata.
"Ummi.."
"Nak," panggil keduanya bersamaan.
Ziana terkekeh. "Aku duluan, ih! Masa iya Ummi dulu?" Ucap Ziana pura-pura jutek.
Lelaki muda itu terkekeh. Ia tahu jika pujaan hatinya itu hanya pura-pura. Mendengar suara kekehan laki-laki, Tania mengalihkan pandangan matanya dari Ummi Mutia kepada lelaki muda mirip Kendra itu.
"D-dia.. Ka-kamu? B-bang Kendra?!" Seru Tania sedikit tergagap dengan mulut semakin menganga lebar.pemuda yang sama ia temui didalam mimpinya.
Pemuda tampan mirip Kendra itu terkekeh kecil melihat kakak sepupu pujaan hatinya itu.
"Hai, Kakak ipar! Apa kabar? Masih ingat denganku?" tanyanya pada Tania yang kini mengerjabkan matanya melihat pemuda itu.
Kendra terkekeh kecil melihat mata Tania yang terus mengerjab. Aldo pun, demikian. Papi Tamamengurai pelukannya dari sahabat masa kecilnya dan melihat pada Tania yag kini terperangah melihat pemuda muda mirip sekali dengan Kendra itu.
"Di-dia.." Alhasil, papi Tama pun sama dengan Tania.
Keduanya melihat pemuda tampan mirip Kendra itu dengan mulut menganga lebar. Abi Kevin tersenyum.
__ADS_1
"Dia putraku, Adrian. Putra keduaku. Adik Kendra," ujar abi Kevin yang membuat keduanya semakin terperangah.
"Hah?" Ucap keduanya anak dan ayah itu bersamaan.
Kendra, Aldo, Abi Kevin dan Ummi Mutia terkekeh kecil melihat tingkah kedua orang itu. Uwak Lana hanya bisa mengurut dada melihat kesamaan yang ada pada pemuda tampan mirip Kendra yang baru ia tahu jika itu adik Kendra.
"Adik kandung atau?" Tanya papi Tama pada abi Kevin yang kini tersenyum padanya.
"Untuk pertanyaan itu aku tidak bisa menjawabnya. Karena proses pembuatannya masih lama. Tunggu bulan depan saat Author Melisa selesai merilis karya baru yang Berjudul 'KAU YANG MENDUA' terlebih dahulu, ya? Disana akan jelas adik kandung atau bukan pemuda tapan mirip Kendra ini," ujar Abi Kendra yang dibalas decakan lidah oleh papi Tama.
"Kenapa harus menunggu sebulan lagi, sih? 'Kan bisa saat ini juga?" Ketusnya sangat kesal dengan jawaban sahabat masa kecilnya itu.
Abi Kevin terkekeh kecil. "Kalau tidak mau menurut, ya sudah. Bukan begitu Ziana?" tanya Abi Kevin pada Ziana yang kini terkikik geli mendengar jawaban abi Kevin baru saja.
"Ck!" papi Tama berdecak untuk yang kedua kalinya.
"Tenanglah papi Tama dan kakak ipar. Aku akan menunjukkan diriku siapa yang sebenarnya nanti. Tapi, sebelum itu. Aku ingin para readers setia pembaca kisah kak Tania ini selalu mengikuti cerita Author Melisa sampai selesai. Karena dia akan mengadakan kuis nanti di karya barunya yang berjudul 'PERNIKAHAN RAHASIA ZIANA' tentunya dengan saya dong pastinya? Iyakan, Sayang?" tanyanya pada Ziana yang kini mengangguk dan tersenyum padanya sambil merangkul pinggang pemuda tampan mirip sekali dengan Kendra itu.
Lagi dan lagi papi Tama berdecak yang membuat Aldo, Kendra, abi Kevin serta Ummi Mutia terkekeh kecil melihat papi Tama yang kini wajahnya mendadak kesal pada pemuda tampan mirip Kendra itu.
"Terserah kaulah, Bang!" Kata Papi Tama semakin kesal saja.
Semuanya tertawa mendengar ucapan papi Tama yang berubah ketus saat di dengar. Tania memeluk erat pinggang pemuda yang selama tiga tahun ini selalu menemaninya.
Dialah pemuda yang selalu melindungi Ziana bahkan sampai rela mengorbankan dirinya untuk menolong Ziana. Awalnya ia kira pemuda itu ialah Kendra.
Tetapi setelah berjalannya waktu, ia tahu jika itu bukan Kendra saat panggilan sayang yang pemuda itu sematkan padanya berbeda dengan yang Kendra berikan untuk Tania.
__ADS_1
Lagian, Kendra tidak pernah memanggilnya sayang. Kata sayang itu tertuju hanya untuk orang yang dicintainya. Termasuk pemuda itu yang sudah jatuh cinta pada Ziana saat umur keduanya masihlah kanak-kanak.