Princess Pratama

Princess Pratama
Ingin bersama mu


__ADS_3

"Jawab Bang Kendra! Kenapa kamu diam?!" seru Tania dihadapan wajah Kendra yang kini menatap datar padanya.


Tania mendorong Kendra hingga ia terhuyung ke samping. Tania mengambil ponsel yang berada di dalam tas nya.


Tania mengambil ponselnya dan melihatnya. Matanya melotot. Ia menatap Kendra dengan tajam yang kini terkekeh melihat wajahnya yang mendadak masam.


"Kenapa ponselku jadi begini? Abang apa kan ponselku?" tanya Tania pada Kendra yang kini mendekatinya dan memeluknya dengan erat.


Tania meronta. "Lepas ih! Jangan peluk-peluk!" juteknya pada Kendra yang kini tertawa melihatnya.


"Diam Hunny.. Tenang dulu. Ya?" Ucap Kendra menenangkan Tania.


"Nggak! Lepas ih!" sungutnya lagi.


Kendra terpaksa melepasnya secara mendadak membuat Tania hampir terjatuh jika tidak Kendra lagi yang menangkap tubuhnya.


Hap!


Kendra tertawa saat menyentuh benda kenyal milik Tania yang membuat Tania menepuk lengannya berulang kali karena geli.


Bukannya berhenti malah ia bertambah kuat memegang benda lunak tak bertulang tetapi kenyal itu yang membuat Tania blingsatan sambil menjerit tetapi Kendra juga tidak melepasnya.


"Hahhaha.. Mau lagi? Hem?"

__ADS_1


"Nggaakk!! Ahh.. Ih! Lepasin!" seru Tania lagi yang membuat Kendra semakin kuat mencengkram buah sintal kenyal itu.


"Semakin kuat kamu meronta,. Semakin kuat tangan Abang menyentuhnya! Hem??"


Tania spontan berhenti. Kendra melepaskan tangannya. Ia berjalan ke hadapan Tania dan mengecup putik ranum itu dnegan lembut yang membuat Tania terpaku di tempat.


Tubuh itu bergetar seketika. Walau bukan ciuman pertamanya, tetap saja. Tiap kali Kendra mengecup putik ranum itu, tubuh Tania pasti bergetar merasakan sensasi lain setiap kali Kendra mengecup putik ranumnya.


Dirasa cukup, Kendra melepaskannya. "Abang sengaja menculikmu karena ingin menghabiskan waktu bersama kamu. Ingin bersama kamu selama satu Minggu satu ini. Boleh kan?" tanya nya pada Tania yang kini terdiam dan terpaku melihat wajah tampan dihadapannya ini.


Entah terhip[notis ucapan Kendra atau apa, Tania tiba-tiba saja mengangguk. Ia masih terpaku saat Kendra menariknya untuk menuju ke ranjang mereka.


"Dengarkan Abang, Hunny. Abang sudah lama ingin melkaukan bulan madu denganmu. Tetapi kamu sellau tidak bisa karena tugasmu. Waktu kamu hanya habis untuk dirumah sakit.


Kamu selalu bisa dirumah sakit, tetapi tidak bersama Abang. Kamu bisa berkumpul dengan keluaragamu, tetapi kamu jarang berkumpul dengan Abang.


Sudah lama sekali Abang menginginkan hal ini. Bahkan sejak pertama kali menikah. Oke, jika kamu belum bisa memberikan hak mu selama hampir satu bulan ini.


Tak apa. Abang ridho!"


Deg!


Deg!

__ADS_1


Tania menatap kendra dengan tatapan yang sulit diartikan saat mendengar kata 'ridho.' Kendra tersenyum dan mengelus pipinya.


"Maaf.. Karena masalah itu kamu jadi marah sama Abang. Belum saatnya kamu tahu masalahnya seperti apa. Yang jelas, saat ini Abang ingin bersama kamu. Hanya berdua saja tanpa ada yang mengganggu."


Tania masih saja menatap Kendra. Lama keduanya saling bertatapan dalam diam hingga Tania mengingat kedua orang tuanya.


"Tapi mami sama papi gimana?? Mereka nanti pasti kebingungan kalau aku nggak pulang. Saat ini mungkin, mereka berdua sudah sibuk dan khawatir mencariku." Ucapnya pada Kendra yang kini terkekeh melihat wajah Tania panik memikirkan kedua orang tua nya.


Kendra mengelus kedua pipi Tania dengan lembut yang membuat darah di tubuhnya berdesir seketika.


"Kamu tenang saja. Mami dan Papi sudah menjadi urusan Abang. Untuk saat ini, biarkan Abang melepas rindu dulu denganmu. Abang masih merindukanmu. Bahkan sangat merindukan mu. Hem?"


Tania mengangguk pasrah. Tatapan lembut dari mata sipit dan tajam itu meluluhkan Tania.


"Ya sudah, Abang betulkan lagi ponselku. Kenapa pula di perban seperti orang sakit begini??"


Kendra terkekeh, "Sengaja. Agar kamu tidak menghubungi papi dan mami." Jawabnya santai yang membuat Tania merengut sebal.


Kendra terkekeh lagi. Ia mengambil ponsel Tania dan meletakkanya di atas nakas. Kemudian ia menaiki ranjang dan berbaring di pangkuan Tania.


"Biarkan Abang seperti ini Hunny.. Sudah lama sekali Abang tidak tidur dipangkuan mu seperti ini. Biarkan Abang terlelap Hunny.. Abang sangat merindukan belaian mu seperti ini.." katanya dengan memegang tangan Tania dan membawanya ke kepalanya.


Tania pun mengelusnya. Mata Kendra terpejam seketika. Tania tersenyum melihat itu.

__ADS_1


"Aku pun ingin bersama kamu seperti ini suamiku. Hanya saja.. Aku terluka dengan semua pengakuan mu. Aku tidak rela jika aku harus berbagi dirimu dengan orang lain.. Aku nggak bisa. Jangankan dengan orang lain, dengan adik sepupu ku sendiri pun aku tak rela1 Aku egois? Ya, aku egois! Aku egois karena terlalu mencintaimu. Aku egois karena tidak ingin kehilangan mu. Salahkah jika kau berbuat seperti itu?? Hem?" lirih nya pada Kendra yang kini terpejam dengan bibir menyunggingkan senyum manis padanya.


"Kamu tidak salah Hunny.. Kamu sangat bagus jika mempertahankan Abang seperti itu. Abang tidak salh memilihmu menjadi seorang istri. Kamu segalanya untukku. Aku hidup karena menunggu mu. Dan sekarang? Abang sudah mendapatkan mu. Dan selamanya hanya kamu istriku tiada yang lain lagi. Baik itu wanita lain atau sepupu kamu sekalipun. Abang tidak akan mau. Mereka bisa mendapatkan tubuhku, tetapi tidak dengan hatiku. Kamu istriku dari sekarang hingga nanti!"


__ADS_2