Princess Pratama

Princess Pratama
DPBR Ikhlas melepaskan


__ADS_3

Malam harinya.


Ummi Alzana dan Abi Prince kelimpungan mencari keberadaan kedua putrinya yang tak kunjung kembali. Seluruh sisi rumah sakit sudah mereka telusuri untuk mencari keberadaan keduanya. Tetap saja, keduanya hilang bagai di telan bumi.


Sementara keduanya saat ini masih terlelap. Saking mengantuknya, Riya dan Jia tidak sadar jika waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam.


"Astaghfirullah!" ucap dokter wanita itu begitu terkejut saat melihat keduanya tidur di sana.


Riya terkejut saat salah seorang dokter wanita ingin sholat mengucapkan istighfar dengan nada tinggi dna mengejutkannya. Seharian ini, tak ada yang masuk ke musholla. Ada, tapi hanya kaum lelaki saja. Dokter dan perawat laki-laki saja. Itu pun satu-satu.


Riya yang terkejut spontan saja terduduk. Ia melirik jam yang sudah menujukkan pukul sembilan. Ia melihat sekitar dan bertambah terkejut lagi saat melihat sekitarnya sudah kembali gelap.


Riya segera membangunkan Jia untuk sholat dan kembali ke ruang perawatan suami keduanya. Jia pun begitu terkejut saat tahu jika keduanya sudah tertidur seharian ini.


Keduanya segera malaksanakan tugas sebagai seorang muslim yang sudah lama tertunda. Selesai dengan ibadah, keduanya segera kembali ke ruang inap suami mereka dengan tergesa-gesa.


Tiba di depan ruangan suami mereka, kedua pasang kaki itu terpaku di tempat kala mendengar suara tawa renyah Zayn dan Zayden yang begitu renyah bersama dengan dua orang perawat yang di tugaskan untuk menjaga mereka selagi kedua orangtua itu mencari Riya dan Jia yang tak kunjung kembali.


Kedua kaki itu melemah seketika saat mendengar ucapan salah satu dari keduanya.

__ADS_1


"Anda itu cantik! Sudah cocok menjadi seorang istri. Sayangnya, kami sudah menikah. Jika tidak, kami pasti akan menikahi salah satu dari kalian berdua!""


"Cieee.. Ciee.. Suster Nata!" ledek perawat satunya.


Zayden tergelak keras saat melihat pipi suster Nata merah merona.


"Anda pun demikian suster Ina! Sekiranya saya belum menikah, saya pasti akan menerima Anda, Suster Ina! Apalagi, Anda sudah mengurus saya dengan baik seharian ini. Sudah barang tentu Anda itu wanita yang baik dan tulus. Sangat pantas menjadi istri saya!" Zayn tergelak saat merasakan tepukan tak bertenaga di lengannya.


Keduanya terus tertawa bersama dengan suster itu. Tanpa keduanya sadari, kedua suami itu sudah menabur garam di atas luka yang masih basah karena ulah keduanya yang mendiamkan mereka begitu saja.


Keduanya duduk terhenyak di kursi tunggu kamar suami mereka. Air mata itu terus mengalir dengan deras. Akan tetapi, tak ada suara yang keluar dari bibir keduanya.


Ke empat orang itu terkejut kala mendengar seruan Ummi Alzana dan Abi Prince saat melihat kedua putri mereka yang duduk termenung dan tepekur di luar ruangan.


Keduanya mendekati putrinya itu dan memeluknya dengan erat. "Kenapa di luar? Kenapa nggak masuk ke dalam? Sedari pagi, suami kalian terus bertanya kalian ada di mana? Kenapa duduk di sini, hem?"


Deg.


Deg.

__ADS_1


Jantung Zayn dan Zayden terhenyak seketika saat mendengar ucapan Ummi Alzana pada istri mereka.


"Jawab, Nak. Kenapa malah diam? Sudah berapa lama kalian di sini? Ini 'kan sudah malam? Sudah pukul sebelas, loh. Ummi sama Abi baru pulang ke rumah untuk melihat kalian berdua. Kalian itu dari mana saja? Ummi sampai kebingungan mencari kalian berdua," lanjut Ummi Alzana lagi yang membuat empat orang di dalam sana saling pandang.


Kedua suster itu bahkan tidak bergerak sedikit pun untuk keluar dan melihat. Keduanya begitu betah di sana. Ummi Alzana melihat ada yang lain dari kedua putrinya. Niqob yang tampak basah serta kedua mata putrinya itu agak bengkak.


"Kalian menangis? Kenapa?" seru Ummi Alzana dengan spontan karena melihat ada bekas air mata yang kini mengalir di kedua pipi yang tertutup niqob itu.


Lagi, jantung kedua laki-laki di dalam sana mencelos mendengarnya. Keduanya saling pandang.


"Sejak kapan keduanya di luar, Dek? Kenapa kita tidak tahu?" lirih Zayn pada Zayden yang kini memucat seketika takut akan pikiran mereka saat ini.


"Nggak tahu, Bang. Aku pun baru dengarnya saat ini. Kita dari tadi 'kan berbicara dan tertawa bersama keduanya? Apa jangan-jangan keduanya sudah lama di luar? Tetapi, tidak ingin masuk krena kita sibuk tertawa?" lirih Zayden dengan wajah pias.


Zayn pun demikian. Kedua tubuh suami itu menegang seketika kala pintu ruangan itu terbuka lebar yang menunjukkan keadaan kedua istri mereka masih dalam keadaan yang sama, bahkan baju pun masih baju yang sama.


Keduanya masuk tanpa melihat Zayn dan Zayden. Keduanya berlalu masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka. Setelah selesai, keduanya keluar.


Lagi dan lagi pemandangan yang menusuk hati kembali terlihat. Bagaimana tidak, kedua suami mereka masih saja tertawa bersama suster tadi sementara ummi Alzana dan Abi Prince sudah tidak ada di sana.

__ADS_1


"Ikhlaskan Kak. Aku sudah siap untuk melepaskannya. Inilah malam terakhir untuk kita bersama keduanya. Besok, aku yang lebih dulu pergi. Lusa, kakak menyusul. Aku harus mengurus segala sesuatunya dulu." Imbuh Jia yang diangguki oleh Riya dengan tatapan sendunya.


__ADS_2