
Mami Annisa sibuk mengurus perusahaan papi Tama yang kini hampir di serang oleh perusahaan keluarga Kendra.
Ia berusaha semampunya untuk bisa melindungi perusahaan itu dari jarak jauh. Ia menyeringai kala melihat pergerakan itu mundur satu persatu.
Keduanya bisa bernafas lega.
Sementara di Singapura dna Kaliamnatan sana, empat orang itu sama-sama terkejut. Niat hati ingin menyerang, malah balik diserang hingga ke empat orang itu lumpuh seketika.
Mereka semua mengumpat kesal.
Mami annisa dan Papi tama tertawa terbahak melihat grafik di layar laptopnya semakin meningkat tajam naik setelah ia menyimngkirkan semua penghalangnya.
Baru sebentar ia tertawa, ponsel papi tama berdering. Beliau tersenyum.
Keduanya tersenyum senang saat laporan dari singapura kini sudah aman kembali.
"Sudah saatnya kita mengirim Tania, Bang. Cukup satu Minggu bersama Kendra! Tidak lebih!" tegas mami Annisa yang diangguki papi Tama sambil tersenyum padanya.
Mereka berpelukan karena telah berhasil menyingkirkan hama pengganggu itu.
*
*
*
Siang harinya.
Di kamar pengantin baru itu, kini keduanya baru saja siap sholat Dhuhur dan akan jalan-jalan dengan motor milik sang kakek buyutnya.
"Sudah siap?" tanya Kendra pada Tania yang kini sedang menyapukan bedak tipis-tipis di wajahnya.
"Sudah. Ayo kita jalan-jalan!" Jawabnya begitu antusias.
__ADS_1
"Memangnya bunga mawar milikmu tidak sakit lagi?"
Plak.
Kendra tergelak karena Tania menepuk lengannya dengan mata melotot padanya.
"Diem ih! Kalau sakit, mana mungkin aku bisa berjalan seperti ini. Ya walau.. Agak sedikit nyeri sih." Jawabnya lagi yang ditanggapi dengan tertawa oleh Kendra.
"Makanya Abang tanya, Hunny. Ya sudah, kita mau kemana dulu nih?"
"Emm.. Kemana aja deh. Naik motor kan seru? Ikuti jalannya saja."
"Hem.. Seperti jalan takdir kita saat ini." Kendra memegang tangan Tania dan langsung menuju lobi untuk menuju parkiran mengambil motor nya.
"Pakai helm nya,"
"Ya." Jawab Tania dengan segera memakai helm miliknya.
Kendra mulai menyalakan sebentar motor itu. Tak lama keduanya pun segera berlalu.
Sementara orang suruhan Uwak Lana segera mengikuti mereka dengan motornya. Agar tidak curiga, ia mengajak serta istrinya.
"Maaf mengganggu Pak Lana! Saya dan istri sedang bersama tuan muda dan nona Tania. Kami saat ini sedang di ikuti oleh orang suruhan kedua orang tua tuan muda."
Uwak Lana yang berada di Medan sana menghela nafas berat. "Pantau terus. Lindungi keuanya. Saya akan menghubungi tim satu! Untuk berjaga-jaga!"
"Baik Pak! Saya tutup!" katanya sambil mematikan sambunga ponselnya dan memberikan ponselnya pada sang istri yang kini duduk di belakangnya.
Keduanya mengikuti Tania dan Kendra kemana pun. Begitu pun dengan suruhan Ummi Mutia. Mereka pun mengikuti kedua anak muda yang sedang berbulan madu itu.
Sepanjang perjalanan Tania selalu saja menepuk pundak Kendra karena telah berhasil menggodanya hingga pipi sang istri memerah seketika.
Para pengikut suruhan Uwak Lana itu terkekeh melihat kebersamaan keduanya. Mereka terus mengendrai motor itu mengikuti jalan yang entah menuju kemana. Yang penting jalan-jalan.
__ADS_1
Begitu kata Tania tadi. Keduanya kadang berhenti di pinggir jalan untuk mengambil gambar keduanya.
Untuk kenang-kenangan katanya.
Kendra tidak menolak. Ia bahkan sangat senang saat melihat Tania bahagia seperti itu.Senyum dan tawa Tania yang akan selalu ia ingat.
"Senang??" tanya Kendra sembari memeluk pinggang tania sambil berjalan.
"He'em. Aku senang kita bisa berjalan berdua seperti ini. Taman di batu putih ini sejuk sekali. Walau daerah air laut yang airnya asin, tetap saja terasa sejuk karena angin sepoi-sepoi meniup setiap cabang pohon yang ada di pinggir pantai ini."
Kendra mendudukkan tania di kurs taman yang ada di batu putih itu. "Abang pun senang karena kamu senang. Memang inilah yang Abang inginkan sedari dulu. Bisa membawa mu berjalan-jalan, makan bersama. Tidur bersama.. Semuanya bersama. Karena saat pertama kali melihatmu dulu, inilah impian Abang.
Abang tidak meminta yang lain. Yang Abang butuh itu, kamu selalu ada disamping Abang. Maafkan Abang, Hunny. Jika suatu saat tanpa sengaja diri ini menyakiti perasaan mu, Abang moho maaf. Abang manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan salah.." Ujar Kendra yang diangguki oleh Tania yang kini tersenyum padanya.
Tania memegang kedua pipi Kendra dan mengecupnya. Kedua mata Kendra pun tak luput dari sapuan bibir Tania yang membuat Kendra mengeratkan pelukannya di pinggang Tania.
"Kamu segalanya untukku bang Kendra. Kalaupuan kamu melakukan kesalahan, pastilah ada pemicunya. Selama tiga minggu aku menikah dengan mu kamu tidak pernah membuatku sakit hati. Terkecuali kejujuran mu yang akan menikahi Ziana, sepupuku.
Aku yakin, ada pemicu dibalik sikapmu ini. Kamu pasti sedang tertekan dan bisa jadi kamu diancam?"
Deg!
Kendra menatap lekat pada Tania.
"Kamu melkauakn semua itu pasti dipaksa. Au yakin itu. Tetapi aku tidak akan bertanya kenapa dan ada apa. Suatu saat aku akan mendapatkan jawaban nya tanpa kamu berbicara padaku."
Kendra semakin mengeratkan tangannya di pinggang ramping Tania. Ia menarik Tania dan memangkunya.
Tanpa di duga oleh dua orang yang kini juga duduk di bangku di samping kiri mereka terkejut bukan main saat keduanya sedang berpagut.
Kedua orang itu mengalihkan pandangan nya ke arah lain karena tidak ingin melihat adegan live itu.
Sementara dua anak muda itu tidak sadar, jika keduanya saat ini sedang diawasi. Setiap aktivitas keduanya di rekam oleh orang tersebut.
__ADS_1
Tapi keduanya tidak tahu itu. Bagi mereka saat ini, dunia ini milik mereka berdua. Kendra yang sudah terbakar ha srat karena kelakuan Tania kini semakin gencar untuk meluapkan keinginannya itu.
"Eits, jangan disini. Masa kita bercinta disakasikan oleh orang sih? Ugghh.." lenguh Tania saat bibir Kendra menyusuri bukit kembarnya yang tertutup hijab itu.