
Puas dengan saling berpelukan yang mengharu biru, kini Tania dan Ziana sedang makan bersama dengan suami mereka.
Ya, Ziana sudah resmi menjadi istri dari pemuda tampan mirip Kendra yang bernama Syailendra Putera Wiryawan yang sering dipanggil dengan El.
Pemuda tampan bernama El itu merupakan adik Kendra. (Kandung atau bukan, nanti kita bahas di karya baru berikutnya. Karena inilah misterinya disana.)
Ziana duduk berdua dengan El. Tania bersama Kendra. Adik kakak itu saling menyuapi dengan air mata yang masih berlinangan. Apalagi saat Ziana tahu jika mantan kakak madunya itu sedang berbadan dua sama sepertinya.
Hal yang akan menajdi kejutan untuk suaminya nanti. Disaat resepsi pernikahan mereka yang tertunda dan akan digelar dua bulan dari sekarang tepat pada tanggal lahir Kendra.
Semua itu sudah menjadi ketentuan Tania. Dialah yang memutuskan tanggal berapa dan bulan berapa. Semua itu ia lakukan untuk memberikan kejutan istimewa kepada Kendra sebagai hadiah hari kelahirannya.
Tania tersenyum lembut melihat pipi Ziana yang begitu chubby semenjak terakhir kali ia melihatnya.
"Mau tambah lagi?" tanya El pada Ziana yang diangguki cepat oleh putri sulung Uwak Lana itu. Tania tertawa melihat adegan keduanya saling berebut daging ayam semur bali yang tinggal sepotong lagi.
Ziana merebut paksa daging ayam yang kini sudah masuk ke dalam mulut suaminya itu.
(Othor akan jelaskan di bab selanjutnya tentang status pernikahan Ziana dan Kendra, ye?)
El melototkan matanya saat Ziana berhasil merebut daging ayam semur bali kesukaanya itu. Tania tertawa terbahak melihat wajah masam El yang mirip dengan Kendra itu.
__ADS_1
Jika diperhatikan lamat-lamat Kendra seperti memiliki saudara kembar saja. Padahal tidak. Keduanya memiliki jarak yang lumayan jauh untuk adik dan abang. Jika Kendra sudah berumur 27 tahun. Maka El masih berumur 20 tahun. Selisih yang cukup jauh.
El dan Ziana berbeda satu tahun saja. Saat ini Ziana berumur 19 tahun. Dan Tania berumur 25 tahun beda dua tahun dari Kendra.
"Awas kamu, Yang! Nggak akan abang masakin lagi tahu krispi keinginan kamu!" Ketusnya mengancam istrinya itu.
Ziana yang mendengar itu spontan saja tidak jadi menggigit ayam semur buatan Ummi Mutia itu. Abi Kevin terkekeh melihat putra kedua dan mantunya itu. Ia memilih keluar agar tidak mengganggu kedua pasang anak muda itu.
Ziana mendadak sedih melihat paras tampan itu kini jutek kepadanya. Tania tersenyum. Ia mengambil dua potong ayam semur miliknya dan Kendra, ia berikan kepada Ziana.
Tania letakkan di piring suami istri yang makan sepiring berdua itu.
"Makan punya kakak saja. Kamu lebih butuh banyak gizi untuk calon anakmu," ucap Tania yang membuat pasangan muda itu beralih menatap Tania dengan tatapan tak terbacanya.
Asalkan adiknya itu bahagia, ia rela dan ikhlas. Walau kata ikhlas itu sulit untuk terucap dan tidak bisa, Tania tetap memilih pergi. Karena ia tidak ingin melihat adik kesayangannya itu menderita karena ulahnya.
Kendra mengusap lengan Tania yang kini tersenyum manis padanya.
"Makan, Dek! Kakak kamu sudah rela memberikan apa yang dia punya padamu. Tidakkah kamu ingin menghargainya?"
Deg!
__ADS_1
Seperti ditikam tombak runcing hati Ziana saat mendengar ucapan Kendra padanya. Masih teringat pengorbanan Tania yang rela pergi demi bisa melihatnya bahagia bersama Kendra.
Mata Ziana berkaca-kaca. "Makanlah. Berbagi dengan suamimu. Ingat? Saat ini kamu sudah memiliki suami. Suami orang ketiga setelah Allah dan nabi yang harus kamu patuhi. Surgamu tergantung ridhonya. Surga kedua orangtuamu karena perbuatan baikmu terhadap suamimu. Tidak inginkah kamu menghadiahkan surga untuk mereka? Jika kamu tidak mampu memberikan surga untuk mereka, maka setidaknya jangan membuat mereka tersiksa. Surga kedua orangtuamu tergantung dirimu. Ingatkan saja jika kita para wanita ini merupakan perisai untuk kedua orangtua kita kelak," ujar Tania menjelaskannya pada Ziana.
"Iya, Kak. Adek tahu itu," Ziana menjawab ucapan Tania.
"Ya sudah, makanlah. El?" Tania melihat pada adik iparnya yang kini tersenyum padanya.
"Tentu, Kak." jawab El.
Ia segera mengambil sepotong daging itu dan memberikan semuanya pada Ziana. Yang membuat Ziana terharu.
"Abang," lirih Ziana dengan mata berkaca-kaca.
El tersenyum dan mengangguk. "Makanlah. Abang nggak marah kok, padamu. Sudah, jangan menangis. Kasihan anak kita. Ayo, makan lagi?" katanya pada Ziana yang kini mengangguk dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca melihat suami tampannya itu.
Mereka pun, kembali makan bersama. Para orangtua sudah pergi keluar sebentar. Ada hal yang ingin mereka bicarakan. Sedangkan Aldo saat ini, sedang menghubungi istri dan anaknya.
"Untuk sementara, kamu harus dirawat dulu Hunny. Papi bilang tadi, kalau kamu harus bedrest selama dua minggu. Jadi, selama dua minggu kita akan tetap di Kalimantan. Kita akan tinggal dirumah abi dan Ummi. Ada Ziana dan El juga disana nantinya," ucap Kendra yang diangguki oleh Tania dengan mulut penuh makanan.
"Benar, kakak ipar! Kamu harus tinggal bersama kami dulu. Baru setelah itu kita akan pulang ke Medan. Bukankah sebulan dari sekarang resepsi pernikahan kami?" tanya El yang diangguki oleh Ziana.
__ADS_1
"Iya, kamu benar. Kami akan menetap disini. Untuk sementara waktu sampai kakak sembuh. Kalian berdua, harus siap untuk kakak suruh, ya?" Seloroh Tania yang ditertawakan oleh kedua adiknya itu sambil tertawa.