
"Ken?"
"Ken!" seru mereka berempat dengan wajah terkejutnya.
"Nak.. Kamu sudah sadar? Ya Allah.." ucap Ummi Mutia sembari mendekati Kendra yang kini sedang menatap mereka dengan napas memburu.
Dokter Umar mendengkus lagi melihat kelakuan Kendra yang kini sudah terpancing emosi. Karena mendengar ucapannya baru saja.
"Coba ulangi! Heh? apa kata dokter tadi? Taniaku sudah tiada? Huh? kalian pembohong!"
Deg!
"Taniaku masih hidup! Hingga saat ini! Taniaku masih bernapas! Bahkan napasnya itu bisa terdengar olehku! Jadi, bagaimana ceritanya jika Tania sudah tiada? Huh? Katakan!" Sentak Kendra yang membuat mereka berlima terjingkat kaget.
Kendra begitu mengerikan saat ini. Mata memerah dengan tangan terkepal erat. Wajah yang begitu menakutkan terlihat saat ini di mata mereka berlima. Ummi Mutia yang berniat ingin mendekatinya jadi urung.
Ia tetap berdiri tegak disana dengan mata menatap Kendra dengan nanar. Tatapan nanar berbalut sendu. Ia tidak menyangka jika Kendra akan berubah menjadi garang saat mereka semua membahas Tania yang sudah tiada.
Fakta yang tidak diterima oleh Kendra. Padahal sudah tiga bulan berlalu. Tetap saja, pemuda tampan bermata sipit dan bertubuh kurus itu kini melihat mereka dengan mata memerah dan menyala.
"Dengarkan kami dulu Ken. Apa yang dokter Umar katakan itu memang benar adanya. Tania, istri kamu. Keponankan uwak memang sudah tiada. Kamu sendiri melihatnya bukan? Saat ia dikuburkan tiga bulan yang lalu di Singapura?"
__ADS_1
Kendra menggeleng tak percaya. "Nggak! Itu bukan Tania! Jika itu Tania, kenapa mereka tidak mengizinkan ku untuk melihat wajahnya untuk yang terakhir kalinya? Kenapa mereka membohongiku dengan mengatakan jika Tania wajahnya sudah hancur dan tidak dikenali lagi? Jika itu memnag Tania, seharusnya mereka tidka perlu takut dan terburu-buru saat aku ingin mencoba kain kafan itu! Nggak! Aku nggak percaya jika Taniaku sudah tiada! Mereka bohong Wak! Mereka bohong!" teriak Kendra begitu keras hingga suara nya terdengar sampai ke ruang tamu yang kini ada semua anak Uwak Lana disana.
Malik memeluk kedua adiknya dengan erat karena mendengar suara jeritan Kendra yang begitu kuat. Seharusya di tengah malam itu mereka semua istirahat. Tetapi tidak. Mereka smeua malah ribut seperti itu yang mmebuat malik hanya bisa menennagkan kedua adiknya yang sedang terisak itu.
Matanya terpejam kala mendengar suarav Kendra yang menyebut Ziana dan Tania.
Aldo segera memeluk Kendra saat pemuda itu berontak dan ingin mencabut infus dari tangannya.
"Sabar Ken! Jangan gegabah melepas jarum infus! Tubuhmu masih butuh nutrisi itu, paham?" tekan Aldo yang membuat Kendra berhenti untuk meronta-ronta di dalam peluaknnya.
"Tapi mereka tidak percaya jika Tania masih hidup Al! Lepas Al! Aku ingin kembali ke Singapura dan mencari sendiri Tania dimana! Mereka membohongiku! Taniaku masih hidup Al! Hingga saat ini, aku bisa merasakan hembusan napas yang keluar dari hidungnya.." lirih Kendra melemah saat merasakan denyut yang semakin sakit di kepalanya.
"Tenanglah Kendra.. Jika menurutmu, Tania masihlah hidup. Maka kamu harus sembuh! Kamu harus cepat sembuh dan mencari dimana keberadaanya. Ya?" Ucap Dokter Umar menenangkan Kendra yang membuat Uwak Maura meradang.
"Jangan terus membohonginya Dokter Umar!"
Deg!
Dokter Umar menoleh pada Uwak Maura yang kini menatap dingin pada nya.
"Sampai kapan kita akan membiarkannya hidup dalam kenangan bersama Tania? Bukankah dia sudah tahu? Kalau istri pertamanya itu sudah tiada? Lalu, buat apa kita membohonginya? Apakah menunggu putri sulungku, Ziana mati dulu begitu?!"
__ADS_1
Deg!
Kendra menatap Uwak Maura denan datar.
"Untuk saat ini saja Ziana tidak tahu dimana. Dan kita? Sibuk mengurusnya? Entah bagaimana dengan putri sulungku? Apakah ia amsih hidup atau mati? Tidakkah kamu pikir itu Kendra?"
Deg!
Kendra mengepalkan kedua tangannya.
"Tidakkah kamu sadar, jika istrimu bukan hanya Tania satu-satunya? Ziana juga istri kamu! Jika kamu tidak lupa itu!" ketusnya dengan segera berlalu meninggalkan Kendra yang kini semakin mengetatkan rahangnya mendengar ucapan Uwak Maura baru saja.
"Aku tahu Ziana juga istriku, Wak! Tetapi Tania merupakan hidup dan matiku! Sama seperti Uwak Maura yang selalu memikirkan Uwak Lana disaat bertugas. Apa itu salah? Dan mengenai Tania yang sudah tiada, aku tidak percaya!"
Deg!
Uwak Maura berbalik dan melihat padanya dengan wajah datar.
"Sampai kapanpun, Taniaku belumlah Mati! Taniaku masih hidup! Deru napas yang keluar dari hidungnya bisa tercium olehku! Dan Uwak ingin aku menyangkalnya? Begitu? Jangan harap Wak! Sampai kapanpun, aku tidak mengakui, jika yang di kubur itu adalah Tania,istriku! Tetapi orang lain! Titik!" Ucap Kendra dengan mata menyala merah menyangkal tentang kematian Tania.
Dan ia tetap keukeuh jika Tania masihlah hidup hingga saat ini.
__ADS_1