
Puas dengan menertawakan lelaki matang masih tampan itu, kini semuanya fokus pada gadis yang akan menikahi kedua putra dari Abi Kendra itu.
Kembali ke ballroom.
Dzaka dan Dzaki sedang duduk menghadap Oma Annisa dan juga kedua orangtuanya. Untuk tamu, mereka suruh untuk menikmati hidangan yang ada dulu sembari menunggu pengantin wanitanya siap di rias.
Para tamu pun menyetujuinya. Sembari menunggu acara yang sesungguhnya yang tidak jadi batal, sebab pernikahan itu tetap akan berjalan dengan semestinya, Oma Annisa ingin menjelaskan dulu apa yang menjadi tujuannya. Bukan tujuannya, sih.
Akan tetapi, lebih tepatnya, tujuan yang kedua orangtua bocah tampan yang sudah dewasa itu inginkan sedari keduanya kecil dulu.
"Kalian berdua tidak jadi batal menikah hari ini, sebab Abi kalian sudah memiliki pengantin pengganti untuk kalian berdua," ujar Oma Annisa yang di tatap lekat oleh kedua cucunya itu.
Oma Annisa tersenyum. "Benar, Nak. Bukankah kalian sudah berjanji sama mami tadi, kalau sampai dua wanita siluman rubah itu berulah, maka kalian harus bersedia menikah dengan mempelai wanita yang Abi pilihkan?" Timpal mami Tania yang membuat keduanya saling pandang.
"Tak usah takut jika kedua wanita yang abi kalian pilihkan ini akan sama seperti kedua wanita itu. Tidak! Oma bisa menjaminnya. Jika itu semua terjadi, maka nyawa Oma yang menjadi taruhannya!"
Deg.
Deg.
__ADS_1
Dzaka dan Dzaki menatap lekat pada Oma Annisa yang kini masih tersenyum lembut padanya.
"Sudah, kalian tak usah cemas. Nikmati saja pernikahan ini. Kalian tidak akan bosan dengan pilihan kami. Pilihan kami ini, pilihan yang sangat tepat untuk kalian berdua!" goda Alish lagi yang di tatap tajam oleh saudara kembarnya itu. Alish tertawa.
"Ini, untuk Dzaki, dan ini untuk Dzaka. Baca dan lafalkan sedari sekarang. Untuk maharnya kalian ingin memberikan apa? Masih ada cadangan?" tanya Abi Kendra pada kedua putranya sembari menyerahkan dua carik kertas bertuliskan nama pengantin yang akan menjadi istri keduanya hari ini.
Dzaka dan Dzaki segera membuka dompet keduanya bersamaan. Entah kenapa, dompet itu selalu keduanya bawa. Yang jelas, ada sesuatu yang berharga di sana untuk seseorang yang sudah lama tidak mereka temui.
Dzaka dan Dzaki memperlihatkan dua buah kalung yang sama, liontin sama, gelang yang sama, serta cincin polos pun sama. Ketiga orang tua itu saling pandang.
"Kenapa jadi kompakan begini? Apa kalian janjian?" tuduh mami Tania sambil tertawa
Ketiga orangtua itu saling pandang dan tertawa bersama. Dzaka dan Dzaki kebingungan melihat kedua orangtuanya tertawa.
"Kenapa kalian tertawa, sih?" tanya Dzaka pada ketiga orangtua yang kini masih tertawa senang itu.
"Nggak!" jawab keduanya kompak pula.
Kini gantian Alish yang tertawa. Dzaka dan Dzaki berdecak sebal. "Udah, ah! jika kalian masih tertawa, kami pergi saat ini juga!" ancam Dzaka dengan segera berdiri yang di tahan oleh Abi Kendra.
__ADS_1
"Tunggu, Nak. Tak masalah jika itu maharnya. Itu malah bagus!" ucap Abi Kendra menghentikan Dzaka yang akan pergi dari mereka semua.
Dzaki pasrah. Ia hanya bisa menuruti apa yang menjadi keinginan Abi dan maminya saat ini.
"Baiklah, abi tuliskan kembali mahar yang akan kalian berikan untuk istri kalian berdua, ya?"
Keduanya mengangguk setuju. Setelah selesai, Abi Kendra menyerahkan dua carik kertas yang kini sudah tercantun nama kedua mempelai wanitanya.
Keduanya menerimanya dan membacanya.
Deg.
Deg.
Deg.
Spontan saja keduanya berdiri dan melihat Abi serta maminya kini yang sedang menyambut dua orang gadis yang tertera di dalam kertas itu.
Jantung keduanya seakan lepas dari tempatnya saat melihat pengantin pengganti yang Abi Kendra berikan untuk keduanya. Mata keduanya menatap lekat pada wanita yang kini sedang berjalan perlahan dengan gamis kebaya putih tulang yang sama dengan jas yang saat ini ia kenakan.
__ADS_1
Seseorang yang begitu merindukan kedua bocah tampan itu segera menubruknya hingga dirinya terhuyung ke belakang.